Sekolah di Luar Negeri

Entah sejak kapan aku memiliki impian untuk bisa sekolah di luar negeri. Sebelumnya, aku tak pernah memedulikan hal itu, karena aku pikir itu sesuatu hal yang mustahil untuk bisa aku capai. Tapi, setelah aku renungkan, tak ada yang tak mungkin untuk dicapai selama ada usaha.

Sejak aku duduk di bangku SMP, aku tak pernah suka pelajaran bahasa Inggris—dan sangat membencinya. Aku masih ingat beberapa tahun lalu, saat guru bahasa Inggris yang juga wali kelasku tengah menerangkan vocabulary, structure, serta kosakata dalam bahasa Inggris, aku malah asyik bergurau sendiri dengan teman sebangkuku. Anehnya, hanya aku yang ditegur oleh guruku. Mungkin karena suaraku yang kelewat keras cukup mengganggu konsentrasi belajar teman-temanku. Aku malu, tapi aku tetap tidak peduli. Aku benci bahasa Inggris, dan aku sempat berpikir kala itu, “Untuk apa belajar bahasa Inggris? Toh, bahasa itu tidak dipakai dalam keseharian. Dasar kebarat-baratan!”

Tapi, aku segera menyadari kesalahanku—dan aku ingin menarik kembali kata-kataku. Saat tanpa sengaja aku membaca sebuah majalah yang membahas tentang Inggris dan ibukotanya, aku langsung tertarik dengan keindahannya. Mungkin tak seindah kota atau pulau yang sering didatangi oleh wisatawan domestik atau mancanegara, tapi cukup menyita perhatianku.

Aku mulai pergi ke perpustakaan, membaca buku-buku yang mengulas tentang negara Inggris, membuka internet dan melihat beberapa pemandangan indah disana. Ditambah lagi saat aku menonton film 102 Dalmatians yang mengambil setting di London. Salah satu yang aku kagumi dari kota London adalah jam raksasa Big Ben yang menjadi acuan seluruh waktu di dunia.

Sekitar tahun 2002, sekedar iseng aku menonton pertandingan sepak bola. Saat itu, sedang ramai-ramainya world cup 2002. Semua acara televisi menayangkan pertandingan-pertandingan yang sudah atau sedang berlangsung. Mau tidak mau, aku harus menontonnya. Awalnya, aku memang tidak suka sepak bola. Tapi, sejak menonton pertandingan world cup 2002 itu, aku jadi gila bola. Aku sangat suka dengan tim Inggris. Mulai dari strategi permainan hingga para pemainnya mampu menarik perhatianku dan semakin membuatku penasaran dengan Inggris. Tak hanya itu, semua liga Inggris yang terdiri dari kurang lebih 370 pertandingan selalu aku tonton setiap harinya. Chelsea adalah klub favoritku sejak aku mengikuti pertandingan liga primera untuk yang pertamakalinya.

Anne Hathaways Cottage

Anne Hathaway's Cottage

Big Ben

Big Ben

Buckingham Palace

Buckingham Palace

Cleopatras Needle

Cleopatra's Needle

Kensington Palace, Princess Diana Memorial Garden

Kensington Palace, Princess Diana Memorial Garden

Lincoln Cathedral

Lincoln Cathedral

Tower of London

Tower of London

Gambar-gambar diatas telah cukup menunjukkan sebagian dari keindahan Inggris di mata dunia—sekaligus merupakan alasanku mengapa aku ingin sekali menimba ilmu disana. Dan, satu hal lagi, aku suka belajar sejarah dan kebudayaan dari seluruh negara di dunia. Alangkah senangnya apabila aku memang benar-benar berangkat ke Inggris dan mempelajari sesuatu yang menakjubkan disana.

Sebelumnya, aku sama sekali tak pandai berbicara bahasa Inggris. Tapi, demi keinginanku yang kian hari kian bertambah, akhirnya aku mendalami bahasa Inggris tak kurang dari dua tahun lamanya. Semakin lama kemampuan berbahasa Inggrisku semakin bertambah. Aku akhirnya menyadari bahwa mempelajari bahasa asing tak sesulit yang kubayangkan. Pernah suatu kali, saat aku duduk di bangku SMU, semua teman-temanku menyebutku sebagai “kamus berjalan”. Sebutan itu aku dapat karena aku sering mengajari mereka bahasa Inggris, dan sering mengalihbahasakan satu paragraf berbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia atas permintaan mereka.

Aku bangga dengan prestasi itu, namun aku sekaligus berpikir. “Kemampuan berbahasaku masih di bawah standard”, pikirku dalam hati. Hal itu aku sadari saat aku tanpa sengaja menonton DVD tanpa subtitle Indonesia dan aku kurang memahami apa yang mereka bicarakan. Mungkin aku masih bisa mengerti saat mereka berbicara dalam tempo lambat. Itu artinya kemampuan berbahasaku masih di bawah standard. Untuk itu, aku menambah porsi kursus berbahasaku dengan sedikit lebih banyak dari biasanya. Aku belajar dan terus belajar sampai akhirnya aku mengikuti tes TOEFL untuk menguji kemampuan berbahasaku dan hasilnya cukup bagus, walaupun tak terlalu sempurna.

Sekarang, saat kemampuan berbahasaku sudah memenuhi standard untuk bisa bersekolah di Inggris, aku telah siap berangkat. Kini, aku tengah berupaya menabung untuk bisa bersekolah di negeri impianku. Tekadku sudah bulat dan tak ada keraguan lagi yang mungkin menghalangiku untuk meraih apa yang aku impikan dan cita-citakan.

Inikah Sebuah Akhir?

September 24, 2009 Sotyasari Dhanisworo 1 comment

Lama nian aku menginginkan sebuah pekerjaan. Aku masih ingat berbagai macam usaha yang aku lakukan demi mendapatkan sebuah pekerjaan. Dulu, aku pikir mencari pekerjaan itu mudah. Mungkin mudah jika jaman belum berubah. Aku juga masih ingat saat seseorang mengatakan padaku bahwa tahun Millenium adalah tahun perubahan dunia. Segalanya yang semula terasa mudah, pada tahun Millenium akan dipersulit. Entah ucapan itu benar atau tidak, yang jelas selepas tahun 2000, segalanya memang benar-benar berubah. Meski tak terimbas dampak secara signifikan, aku yang pada masa itu masih duduk di bangku SMU sedikit merasakan perubahan yang terjadi.

Setelah aku duduk di bangku kuliah sekitar tahun 2002 hingga tahun 2008, aku mulai benar-benar merasakan dampak itu. Mungkin masih ada sedikit dampak positif yang aku rasakan, tapi jelas, dampak negatif selalu lebih tinggi. Aku mulai merasakan itu saat aku ingin mencari kerja di tengah-tengah kesibukan jadual kuliahku. Saat itu aku masih menjalani kuliah di semester enam. Keadaan keuangan keluargaku menurun. Sedangkan, biaya kuliahku tak bisa dibilang murah. Dimana-mana kampus swasta selalu lebih mahal dua kali lipat dibanding kampus negeri. Untuk itu, jika beruntung, aku bisa membantu keuangan keluargaku, pikirku kala itu.

Tapi, apa yang aku hadapi tak semudah yang aku pikirkan. Mencari pekerjaan yang hanya lulusan SMU sepertiku dulu sangatlah sulit. Kebanyakan mereka menawarkan kerja part-time untuk usia-usia kuliah sepertiku. Aku pikir sih, memang harus seperti itu. Mana bisa bekerja sambil kuliah kalau nggak kerja part-time. Iya, kan? Akhirnya, keinginanku untuk bekerja sambil kuliah aku pikir ulang. Selain berkonsentrasi pada pekerjaan, aku juga harus bisa membagi waktu untuk kuliah. Belum lagi kalau nanti aku harus mengikuti ujian semester, sementara di kantor aku diharuskan masuk untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan karena mungkin menjelang deadline. Bagaimana aku bisa membagi waktu kalau sudah begitu? Sedangkan aku termasuk tipe orang yang tak bisa membagi waktu. Rasanya sungguh tak mungkin.

Memasuki tahun 2008, aku telah menyelesaikan skripsi dan bersiap-siap untuk mengikuti wisuda pada bulan Oktober. Aku sungguh senang karena akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku tanpa adanya aral yang cukup berarti. Mungkin banyak rintangan yang harus aku hadapi untuk meraih kata “lulus”, tapi syukur aku bisa melalui semuanya dengan wajah tersenyum dan hati yang lapang.

Setelah ijazah S1 ada di tanganku, aku mulai mencari pekerjaan untuk mengaplikasikan pengetahuan di perguruan tinggi yang sebelumnya aku jalani. Tapi, nyatanya tak semudah itu. Aku harus berupaya keras untuk mendapatkan satu jenis pekerjaan. Saat terbersit di kepalaku aku ingin menyerah, aku mendapatkan pekerjaan itu. Tapi itu pun, perjalananku ternyata tak berhenti sampai disitu. Aku masih harus berjuang lagi saat aku harus keluar dari pekerjaanku karena satu dan lain hal.

Sekarang, saat aku sudah mendapatkan pekerjaan lain, aku juga harus meninggalkannya untuk yang kesekian kalinya. Sekitar sembilan bulan setelah pernikahanku, kini aku tengah mengandung anak kedua—aku pernah keguguran pada kehamilanku yang pertama. Untuk itu, mungkin aku harus mengakhiri pekerjaanku karena itu. Aku memang berencana ingin keluar dari pekerjaanku, karena aku pikir bekerja di sebuah pabrik—walaupun berposisi sebagai staff—bisa membahayakan bayi dalam kandunganku.

Saat aku bertanya dalam hatiku, “Inikah sebuah akhir dari perjalanan karirku?” Mungkin tidak. Karena setelah ini, aku yakin masih banyak hal yang harus aku lakukan demi masa depanku. Hidup tak bisa menunggu untuk hal-hal kecil yang seolah berhenti hari ini.

Categories: Life Tags: , ,

Hidup di Suatu Masa

Hanya sesaat yang lalu aku meletakkan satu komentar tentang apa yang ada di pikiranku di akun facebook milikku. Komentar itu berbunyi, “Aku ingin hidup di suatu masa dimana aku bisa menikmati apa yang seharusnya bisa kunikmati”. Dan, apa yang terjadi dengan tanggapan teman-temanku yang membacanya? Mereka semua mengatakan bahwa inilah masaku dan di masa inilah aku seharusnya bersyukur dengan apa yang sudah aku dapatkan. Hidup adalah anugerah.

Memang, aku akui, mereka benar. Hidup itu anugerah, dan aku tidak mengingkari itu. Aku sudah sangat bersyukur dengan apa yang aku dapatkan selama ini. Tapi, aku tetaplah seorang manusia biasa yang memiliki perasaan bahwa masih ada sesuatu yang kurang dalam hidupku, dimana aku sendiri belum tahu apa kekurangan itu. Manusia memang tidak diciptakan untuk menjadi mutlak sempurna, karena manusia memang hanya diciptakan dari segumpal tanah dan bukannya cahaya seperti halnya para malaikat. Namun, dosakah aku apabila aku mengharapkan sesuatu yang lebih dari apa yang aku impikan? Itulah yang aku maksud dengan “aku ingin hidup di suatu masa”. Mungkin, lebih tepatnya, kalimat itu merupakan bagian dari mimpi.

Bagiku, hidup adalah perjuangan. Untuk itu, apapun yang ingin aku raih—meski aku hanya bisa memimpikannya—akan aku lakukan semampuku hingga batas kemampuanku sebagai seorang manusia.

Beberapa jam yang lalu, aku juga sempat membaca bermacam-macam kalimat yang penuh filosofi kehidupan bahwasanya apa yang kita yakini benar adalah benar dan jangan pernah ragu untuk melangkah. Masa depan ada di tangan kita, dan hanya kita sendiri yang bisa membawa hidup ini ke arah yang lebih baik ataukah sebaliknya.

Categories: Life Tags:

Tujuhbelasan ala Warga Sedati Permai

Hiruk-pikuk setiap warga negara Indonesia dalam menyambut kemerdekaan negerinya sangat beragam. Mulai dari menggelar event tahunan sampai acara-acara tradisional dengan tujuan mengenang jasa para pahlawan negeri yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi meraih satu kata, yaitu kemerdekaan.

Indonesia memiliki lebih dari 17.ooo pulau yang terbagi menjadi puluhan propinsi. Di tiap-tiap propinsi itu terdapat berbagai macam suku bangsa, dimana masing-masing dari mereka memiliki jiwa nasionalisme untuk merayakan hari jadi bangsa dan tanah airnya tercinta dengan caranya sendiri-sendiri.

Tak terkecuali dengan perayaan tujuhbelasan yang digelar di kawasan perumahan Sedati Permai, Sidoarjo—tempat tinggalku. Sejak awal bulan Agustus lalu, tiap-tiap warga sibuk mengadakan rapat mingguan demi membahas rangkaian acara yang akan diadakan pada malam menjelang kemerdekaan.

Pada tahun-tahun sebelumnya, acara yang digelar menjelang malam kemerdekaan selalu dihiasi dengan berbagai macam lomba anak-anak, remaja, dan dewasa dari sejak akhir bulan Juli hingga pertengahan Agustus. Namun, akhir-akhir ini lomba-lomba itu sudah jarang diadakan. Karena, selain pengadaan lomba yang membutuhkan dana yang cukup, juga peserta lomba yang bisa dibilang semakin berkurang dari tahun ke tahun.

Beberapa pengurus yang bertugas menangani acara tujuhbelasan mengakali semua itu dengan mengadakan acara lain yang juga menarik. Diantaranya pengadaan bazaar di sepanjang komplek perumahan Sedati Permai. Antusiasme warga dalam menyambut acara bazaar itu semakin menambah ramai acara tujuhbelasan di komplek perumahanku. Sejak pagi hingga matahari tepat diatas kepala beberapa petugas keamanan dengan dibantu sekelompok warga tengah sibuk mempersiapkan stand dan dekorasi yang akan digunakan berjualan pada sore harinya.

Tiap-tiap warga yang berpartisipasi dalam bazaar itu diizinkan menjual apapun yang sekiranya bisa menarik pembeli untuk mendatangi stand mereka. Setidaknya ada lebih dari lima stand yang berjajar di sepanjang komplek perumahan Sedati Permai itu menjual makanan dan minuman, meski ada beberapa diantara mereka yang hanya menjual snack-scack ringan. Sampai pukul enam sore, beberapa stand masih ramai dikunjungi orang. Beberapa diantaranya malah sudah ada yang bebenah untuk bersiap-siap kembali ke rumah dikarenakan barang dagangan yang telah habis terjual.

Sesuai dengan konsep awal bahwasanya bazaar itu memang dibuka untuk umum. Sehingga, pengunjung tidak hanya berlaku bagi komplek perumahan Sedati Permai saja, melainkan juga komplek-komplek perumahan tetangga yang letaknya berdekatan. Bisa dibayangkan betapa meriah acara bazaar di komplek perumahanku saat itu.

Aku sempat mengunjungi salah satu stand yang menjual rujak cingur yang berada paling ujung dari jalanan komplek perumahan Sedati Permai. Stand itu terlihat paling ramai dikunjungi orang, karena memang rujak cingur yang dibuatnya benar-benar diracik sendiri dan cara pembuatannya juga bersih. Harga yang ditawarkan pun tidak terlalu mahal. Sesampainya di rumah, aku segera mencicipi rujak cingur yang telah aku beli dan aku mengakui bahwa memang benar rasanya sungguh lezat. Walaupun hanya sebatas bazaar untuk meramaikan acara tujuhbelasan, namun rasa yang ditawarkan mampu menyaingi rujak cingur kelas restoran.

Stand Rujak Cingur

Stand Rujak Cingur

Stand Cap Go Mek

Stand Cap Go Mek

Stand Makanan Berprotein Tinggi

Stand Makanan Berprotein Tinggi

Aku memang tidak bisa membeli semua makanan dan minuman di bazaar itu, tapi hanya dengan melihat keramaian dan respons positif terhadap diadakannya acara bazaar di perumahan Sedati Permai aku sudah sangat senang dan bangga bahwa seluruh warga di tempat tinggalku masih memiliki semangat dan jiwa nasionalisme untuk merayakan hari ulangtahun negerinya.

Selain bazaar, masih ada lagi satu acara yang kami semua warga Sedati Permai menamakannya sebagai malam tirakatan atau malam tasyakuran hari kemerdekaan yang memang hanya diadakan setahun sekali setiap malam tanggal 16 Agustus hingga menjelang tengah malam tanggal 17 Agustus.

Acara tasyakuran ini adalah acara paling spesial—atau bisa dikatakan sebagai acara puncak—yang dipersiapkan dalam setiap rapat tahunan warga dikarenakan acara ini tidak memakan biaya yang sedikit dan menyangkut kepentingan orang banyak. Dalam setiap rapat itu dibahas tentang apa saja acara-acara yang akan ditampilkan dalam malam tasyakuran tersebut, apakah ada spontanitas dari warga yang bersedia mengisi acara, jenis makanan seperti apa yang akan dihidangkan sebagai konsumsi, dan yang terpenting adalah berapa banyak warga yang bersedia menjadi donatur dalam acara ini. Karena tidak dipungkiri bahwa tanpa adanya sumbangan berlebih dari warga yang kondisi ekonominya kuat dan hanya mengandalkan uang kas RT yang pas-pasan acara tasyakuran ini mustahil diadakan. Tapi, syukurlah tahun ini perumahan Sedati Permai memiliki kondisi kas yang lumayan, sehingga acara yang diadakan pada malam tasyakuran beserta hidangan yang tersaji terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Kalau di tahun-tahun sebelumnya kami hanya menikmati nasi kotak dan duduk bersila di sebuah karpet dan tikar sepanjang 4 hingga 5 rumah, tahun ini kami bisa menikmati hidangan sepuasnya yang tersaji secara prasmanan dengan duduk di kursi plastik berwarna putih yang tertata rapi.

Sajian Istimewa

Sajian Istimewa

Hmm.. yummy!

Hmm.. yummy!

Kambing Guling yang Lezat

Kambing Guling yang Lezat

Hidangan-hidangan itu disajikan di awal acara dikarenakan acara itu memang diadakan pada tepat jam makan malam, yaitu pukul tujuh malam. Setelah sambutan ketua RT, ketua panitia, dan seluruh warga yang menyanyikan hymne Indonesia Raya, para hadirin dipersilahkan menyentuh hidangan yang tersaji sembari menikmati serangkaian pertunjukan yang diramaikan oleh anak-anak dan orang dewasa.

Tari Remo

Tari Remo

Para Hadirin Warga Sedati Permai RT. 36

Para Hadirin Warga Sedati Permai RT. 36

Tari Mbok Jamu

Tari Mbok Jamu

Koor Ibu-Ibu

Koor Ibu-ibu

Drama Ande-ande Lumut

Drama Ande-ande Lumut

Menjelang pukul duabelas malam, para hadirin yang beberapa jam lalu berkerumun untuk menikmati berbagai pertujukan mulai berkurang satu persatu. Hal itu selain dikarenakan hari yang semakin malam juga karena anak-anak mereka yang harus segera beristirahat karena esok harinya mereka harus menghadiri upacara bendera di sekolah masing-masing.

Namun, ada beberapa warga—yang kebanyakan adalah bapak-bapak—masih berada di tempatnya sambil asyik berkaraoke ria dengan diselingi canda dan tawa. Ketika waktu tepat menunjukkan pukul duabelas malam, acara puncak pun dibuka dengan pemotongan tumpeng yang sejak awal telah disediakan oleh panitia. Sebelum tumpeng dipotong untuk yang pertamakalinya, para warga yang masih tersisa itu mengadakan acara doa bersama yang dipersembahkan untuk tanah air tercinta dalam bentuk rasa syukur yang tiada tara.

Tumpeng

Tumpeng

Setelah tumpeng dipotong, ada pembagian doorprize bagi nomor rumah yang terpilih. Doorprize itu berupa kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Setiap kepala keluarga memiliki dua kali kesempatan untuk mendapatkan doorprize.

Doorprize

Doorprize

Setiap tahun aku selalu menunggu-nunggu acara spesial di bulan yang juga spesial seperti itu. Selain menambah keakraban setiap warga satu dengan yang lainnya, bulan Agustus juga merupakan bulan yang penuh arti bagi setiap warga negara Indonesia. Salam hangat dan cinta, Untukmu Indonesiaku!

 

Pindah Divisi

Akhirnya aku terbebas juga dari ’setan’ bernama Dewi. Sekarang, aku tak harus berurusan lagi dengannya karena oleh Mr. Lee aku telah dipindahkan ke divisi lain—divisi order. Di divisi ini yang harus dikerjakan hanyalah menghitung dan menghitung. Yang dihitung tak lain adalah berapa banyak kain atau bahan yang dibutuhkan untuk membuat satu atau lebih jenis sepatu. Memang membutuhkan ketelitian tinggi dan kemampuan hitung yang diatas rata-rata. Terus terang saja, aku memang tak begitu pandai berhitung. Nilai Matematikaku semasa sekolah dulu saja selalu tak lebih tinggi dari angka 6. Tapi, setelah aku belajar selama dua hari di divisi order itu aku tak banyak mengalami kesulitan, karena ternyata bukan suatu hitungan rumit layaknya rumus phytagoras seperti saat-saat sekolah dulu. Melainkan suatu hitungan sederhana yang berkaitan dengan inch, centimeter, dan yard, yang diukur melalui mal (sketsa bentuk dan bagian-bagian sepatu).

Saat pertamakali aku di divisi itu aku belajar membuat hitungan satu jenis sepatu dengan sekitar limabelas mal yang telah disediakan. Mbak Utami—karyawan yang bertugas mengajariku—menunjukkan padaku bagaimana cara menghitung setiap bagian-bagian sepatu, karena setiap bagian memiliki cara penghitungan yang berbeda. Tapi anehnya, aku langsung mengerti cara menghitung setiap mal itu dengan sekali ajar. Mungkin masih banyak kesalahan disana-sini dengan hasil kerjaku, dan Mbak Utami mengomentari pekerjaanku dengan sesekali mengulang kembali apa yang telah diajarkannya padaku. Setelah keduakalinya aku mengerjakan penghitungan mal untuk jenis sepatu yang berbeda, pekerjaanku sudah mendekati sempurna. Aku sungguh puas dengan hasil pekerjaanku itu, karena disamping aku tidak menyangka akan kemampuan otakku—yang notabene-nya bisa dikatakan tidak ‘bersahabat’ dengan angka—aku bisa melakukan apa yang dipercayakan padaku dengan baik.

Tidak seperti waktu aku berada di divisi pembelian. Aku selalu mengalami depresi tak menentu, hingga aku tidak dapat memaksimalkan apa yang aku kerjakan. Divisi pembelian dituntut untuk dapat selalu mengingat bahan apa yang telah dibeli, bahan mana yang belum dikirim atau masih dalam tahap proses, dan pada supplier mana bahan itu dibeli. Divisi pembelian itu juga mungkin tak cocok untukku, karena aku orangnya pelupa. Sedangkan, bahan yang dibeli tak hanya satu atau dua jenis, tapi puluhan. Aku pun pernah terkena amarah Mr. Lee dikarenakan aku lupa bahan yang telah aku beli dan bahan yang belum terkirim. Aku dibentak-bentak, dimaki, serta diancam akan dikeluarkan dari kantor itu. Namun, akhirnya Mr. Lee memberiku kesempatan terakhir dengan memindahku ke divisi order (telah aku ceritakan di awal).

Di samping aku kesal, aku juga takut jika sampai aku terdepak dari kantor itu. Aku pun juga menyesal dengan diriku sendiri kenapa aku harus jadi seorang yang pelupa, sampai-sampai bahan yang kupesan sendiri terlupa olehku. Kalau saja aku bisa mengingat semuanya tentu hal buruk ini takkan menimpaku.

Uuuh, entahlah. Kepalaku seakan kejatuhan beban seberat satu ton. Inginnya mencari pekerjaan lain, tapi dimana? Jaman sekarang tak mudah mencari pekerjaan. Lulusan S1 sepertiku pun harus menunggu sekitar setengah tahun untuk mendapatkan satu pekerjaan—itu pun sang big bozz selalu naik darah tiap hari. Sebenarnya aku juga sering mendapatkan panggilan untuk interview dari berbagai macam jenis usaha, namun aku tak punya waktu untuk memenuhi setiap panggilan itu. Lagipula, suamiku berkata padaku agar aku tetap berada di kantorku yang sekarang dan menekuni pekerjaanku. Kalau bisa, dia bilang, aku dapat meningkatkan kinerjaku sampai aku mendapatkan posisi yang pasti dan jabatan yang lumayan bagus disana.

Itu memang niatku, tapi mungkin aku butuh waktu yang agak lama untuk memenuhinya. Sekarang saja, aku masih bingung akan posisiku yang sesungguhnya. Entah dimana Mr. Lee akan menempatkan aku. Yang jelas—dan yang aku tahu—aku harus berusaha dan melakukan apapun tugas yang diberikan padaku dengan sebaik-baiknya.

Categories: Job Tags: , , ,

Flashback

Sekarang aku sudah agak mengerti bagaimana aku harus bekerja di kantor. Tentunya aku masih sedikit bertanya kepada Dewi tentang hal yang tak kumengerti, tapi tidak banyak. Karena, menurutku Dewi sekarang agak menjengkelkan. Hadirnya seorang laki-laki sebagai karyawan baru pengganti karyawan outsole yang telah re-sign beberapa bulan lalu itu cukup menyita perhatiannya. Entah karena apa. Padahal, dia sendiri sudah mempunyai kekasih. Tapi, sudahlah biar saja. Aku tak mau mencampuri urusan pribadinya.

Aku mengatakan kalau Dewi sekarang agak menjengkelkan karena dia selalu mengajarkan sesuatu hal yang menurutku tidak terlalu penting kepada karyawan baru itu. Apa mungkin karena karyawan baru itu laki-laki—yang menurut orang-orang lumayan tampan—dan aku perempuan? Apapun itu yang jelas aku sekarang merasa tidak lagi nyaman dengan orang bernama Dewi di kantor itu. Kebetulan memang Dewi akan re-sign dalam rentang bulan September 2009 nanti—dan aku berharap semoga waktu re-sign itu dipercepat, kalau bisa. Walaupun nantinya aku mungkin akan kesusahan sendiri karena Dewi re-sign, bagiku bukan masalah besar, yang penting aku merasa nyaman di kantor itu tanpa adanya Dewi.

Tapi, di tengah-tengah ‘penderitaan’ yang aku alami, aku masih bisa tersenyum. Kemarin, aku menelepon Mbak Tri dan menanyakan kabar terbaru di kantorku yang lama. Mungkin tak banyak perubahan, karena pekerjaan mereka memang seperti itu. Hanya saja ada pengurangan jatah ekspor diakibatkan karena krisis global yang melanda dunia akhir-akhir ini. Aku memang tak bisa banyak berbicara karena keterbatasan waktu, tapi aku sudah merasa sangat terhibur dengan itu. Mungkin aku akan melakukannya lagi walaupun tidak akan terlalu sering. Karena, dengan begitu aku seperti merasakan flashback ke suatu masa dimana aku diperlakukan sewajarnya di tempat yang pada awalnya aku merasa asing, namun akhirnya aku merasa bahwa teman-temanku disana seperti keluarga bagiku—yang mungkin tidak bisa aku dapatkan di kantor baru ini, sampai kapan pun.

Categories: Job Tags: , , ,

Rindu ini Akan Tetap Ada

Lagi-lagi tentang masalah pekerjaan. Sekarang, aku baru menyadari bahwa apa yang aku lakukan disini sangat-sangat tidak sesuai dengan jiwaku. Kalau ingin tahu yang sebenarnya jiwa ini harus berada dimana, akan kukatakan. Jiwaku seharusnya berada di perak, tempat dimana kapal berlalu-lalang untuk mengirim barang ke luar negeri dengan menggunakan container. Ooh.. aku merindukan itu! Kenapa saat dulu aku mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan itu justru aku sendiri yang menghancurkannya? Kenapa aku harus berulah hingga tragedi itu terjadi dan membuat semua orang melarangku untuk tetap bekerja disana? Aku memang bodoh. Sangat bodoh.

Aku pikir dengan keluarnya aku dari kantor lamaku aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan gaji yang lebih memadai. Ternyata memang benar, harapan itu terkabul. Tapi tak bisa semudah itu. Ada yang harus aku bayar sebelum aku bisa menikmati semuanya—dan itu bernama penderitaan batin. Disini, aku sama sekali tidak bisa memahami bagaimana prosedur kerja yang benar. Sekalinya aku bisa mereka-reka apa yang kira-kira harus dilakukan, ternyata ada prosedur lain yang harus dilakukan terlebih dahulu. Hal itu cukup membingungkan aku. Kalau begitu caranya, sampai kapan pun aku takkan pernah bisa mengerti. Aku masih dalam tahap belajar, dimana aku seharusnya dibimbing untuk dapat mengerti proses kerja yang sesungguhnya dan yang terpenting apa yang harus aku lakukan nanti.

Terkadang aku merasa sebal dengan orang-orang di kantor ini. Mereka seolah membiarkan dan mengabaikan aku. Disaat aku bertanya untuk meminta kejelasan mereka terkesan ogah-ogahan dan memberikan jawaban sekenanya dan tidak pasti. Bagaimana seorang murid bisa belajar dengan cepat kalau saat ia bertanya kepada sang guru perihal apa yang tidak ia mengerti lantas guru itu tidak memberikan jawaban yang benar? Aneh memang, tapi itulah kenyataan yang aku alami saat ini.

Aku selalu dituntut untuk dapat dengan cepat mempelajari seluruh seluk-beluk sepatu berikut ribuan warna dan modelnya, tapi Dewi—si pengajar—selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Dan, saat aku memintanya untuk mengajariku dan memberitahuku apa yang harus aku lakukan, dia selalu menjawab, “Mbak belajar sendiri aja. Aku nggak bisa kalau harus ngajari mbak terus. Kerjaanku ya banyak.” Aku pun terdiam. Kemudian, ia melanjutkan, “Aku dulu ya belajar sendiri kok.” (?) Tak berapa lama setelah itu, saat aku ingin bertanya tentang sesuatu yang tak kumengerti, Dewi malah asyik memakan kue di ruangannya dengan bersembunyi di bawah meja. Apakah seperti itu yang dibilang sibuk?

Coba lihat, maksudnya apa itu? Apa aku harus seperti dia dulu? Apakah pantas seorang pembimbing berkata seperti itu? Apakah pantas dia memperlakukan aku seperti itu? Aku akui bahwa dia memang pintar walau umurnya masih sangat muda—bahkan mungkin lebih muda dari adikku. Tapi, sikap semena-menanya kepadaku tidak bisa aku terima. Kalau aku sudah mengerti bagaimana cara kerja di pabrik sepatu sebagai staf pembelian, aku akan jalan sendiri dan aku tak mungkin membutuhkan bantuannya. Hanya saat ini saja aku masih sangat membutuhkan bantuannya sampai waktu training-ku berakhir. Apakah itu sulit?

Namun, nampaknya memang aku sudah harus berjalan sendiri meski aku belum tahu pasti apa yang harus aku lakukan. Hal itu disebabkan hadirnya seseorang yang baru yang juga membutuhkan bimbingan dari Dewi. Mungkin aku takkan lagi terlalu diperhatikan. Disitu, oleh kepala bagian (kabag) pembelian—Mrs. Suman—aku selalu dituntut dan terus dituntut untuk dapat belajar lebih cepat—entah lebih cepat dari siapa atau apa—agar aku segera bisa melakukan tugasku dengan baik. Dalam hati pun aku ingin belajar dengan cepat dan bisa segera mengerti bagaimana sebenarnya prosedur kerja yang berlaku disitu. Tapi, kalau dibimbing dan diperhatikan saja aku tidak pernah, bagaimana aku bisa cepat belajar? Entahlah, siapa yang seharusnya dipersalahkan dalam hal ini. Mungkin tak ada yang patut dipersalahkan, tapi harus ada yang bertanggungjawab dan dipertanggungjawabkan—dan itu aku tidak tahu.

Kalau keadaan terus seperti ini, lambat laun aku akan selalu membandingkan cara training disini dan di pekerjaanku yang lama. Aku dulu juga pernah merasakan menjadi karyawan baru, tapi dulu aku begitu diperhatikan dan orang-orangnya tidak terlalu menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing—walau mereka memang tak bisa dibilang tidak sibuk. Telepon selalu berdering silih berganti. Belum lagi suara handy-talky yang selalu memanggil-manggil seperti radio dalam taksi. Namun, di sela-sela pekerjaan itu, Mbak Tri—seseorang yang mengajariku waktu itu—berkata bahwa seperti itulah kesibukan mereka sehari-hari. Saat ia tidak sedang menerima telepon dan pekerjaannya sudah agak longgar, ia pun mengajariku tentang seluk-beluk, prosedur, serta bagaimana cara mereka bekerja dalam menangani eksporter yang terkadang terkesan rewel dan banyak maunya. Aku pun jadi mengerti dan bisa langsung belajar meng-handle suatu pekerjaan di bawah bimbingan Mbak Tri. Setelah order yang aku pegang bisa dibilang beres, Mbak Tri pun berkata, “Kerjaan kita ya cuma gitu aja. Yang repot kan waktu kita terima telepon dari shipper. Kadang mereka nggak mau tahu urusan kita.”

Sejak itulah, aku langsung bisa meng-handle eksporter (shipper) sendiri hanya dalam jangka waktu tiga minggu. Aku sendiri pun tidak menyangka bahwa aku bisa belajar dengan begitu cepat. Untuk penanganan eksporter yang agak mudah memang aku tangani sendiri, tapi kalau sudah menyangkut hal-hal yang aku pikir serius, aku memang masih membutuhkan bantuan Mbak Tri. Tapi, beliau dengan sabar mau membantuku untuk mempelajari hal-hal yang paling rumit sekali pun berikut cara penanganannya. Disitulah aku merasa salut dengan Mbak Tri.

Dan, seharusnya memang seperti itulah cara training yang benar—setidaknya itu menurutku. Karena, sudah terbukti bahwa aku lebih cepat mengerti akan cara kerja di kantorku yang lama dibanding sekarang. Sudah sebulan aku disini tapi aku baru sedikit sekali mempelajari sesuatu. Terkadang, di sela-sela waktu luangku aku merindukan kantor lamaku dengan sejuta kenangan yang tertinggal disana. Kalau di kantor baru ini aku tetap diperlakukan semena-mena dan tidak diperhatikan, sampai kapan pun rindu ini akan tetap ada—untuk selamanya.

Categories: Job Tags: , , , ,

Menghitung Jam, Menit, dan Detik

Kepindahanku dan suami ke rumah baru kami hanya tinggal menghitung hari. Aku berharap semoga semuanya berjalan lancar tanpa kurang suatu apa pun. Serta, aku pun berharap semoga dengan menempati rumah baru ini ada harapan baru dalam kehidupan rumah tanggaku. Selama ini memang aku merasa ‘terpenjara’ di rumahku sendiri, tak terkecuali suamiku. Mungkin hal itulah yang menyebabkan hingga saat ini aku dan suami belum dikaruniai seorang anak. Setiap wanita yang sudah menikah pasti menginginkan seorang anak dalam kehidupan rumah tangganya. Begitu pun aku. Anak bagaikan secercah cahaya yang akan menerangi langkahku menuju surga masa depan.

Harapan ini mungkin tak hanya berhenti sampai disini saja. Masih banyak harapan-harapan lain yang ingin kusampaikan. Namun, satu harapan yang sangat ingin aku capai dengan menempati rumah baru itu adalah hidup tenang, aman, dan nyaman dengan suara tangisan bayi yang sungguh sangat ingin aku dengar—secepatnya.

Sementara untuk urusan pekerjaanku semuanya masih sama. Tak ada sesuatu pun yang spesial yang terjadi baru-baru ini. Sungguh membosankan dan tak ada perkembangan. Aku masih tetap mempelajari hal-hal yang sama setiap hari. Kemarin, si bos marah-marah untuk permasalahan yang tidak jelas. Aku tanya temanku, Diana, dia bilang, “Nggak tahu, Mbak.”

Aku baru kali itu melihat si big boss marah. Menakutkan memang, dan benar apa kata teman-teman di kantor bahwa hati-hati terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan. “Jangan sampai membuat kesalahan,” begitu kata mereka. Mungkin, aku nanti juga akan mengalaminya andai aku tidak melakukan pekerjaanku dengan sebaik-baiknya. Uh, kalau begitu aku harus menata mentalku sejak sekarang.

Kemudian, tidak lama berselang setelah beliau marah-marah terhadap semua stafnya, aku tiba-tiba merasakan kantuk yang luar biasa. Pasalnya, aku diharuskan duduk dan mengamati seorang operation jahit menjahitkan sepatu yang bahan-bahannya telah aku siapkan sebelumnya. Tujuannya, agar aku mengerti bagaimana proses pembuatan sepatu dari awal hingga akhir. Saat itu, sepatu yang tengah aku buat sedang dalam proses jahit. Sialnya, yang menjahitkan sepatuku adalah seorang karyawan yang juga masih baru dan belum berpengalaman memegang mesin jahit. Alhasil, aku menunggui karyawan itu memegang dan menjahit sepatuku selama berjam-jam! Bagaimana aku tidak mengantuk kalau sudah begitu? Aku ingin berjalan kesana-kemari dengan maksud agar rasa kantukku sirna, tapi aku tidak diperbolehkan oleh seorang mandor yang bertugas mengawasiku. Aku juga sudah berusaha melakukan penyegaran dengan membasuh muka dan membasahi pelupuk mataku, tapi tak ada hasil. Aku tetap saja mengantuk. Aku menyerah dan aku hanya duduk diam disamping seorang karyawati jahit itu dengan sesekali menanyakan sesuatu hal agar jangan sampai aku tertidur. Tapi, aku tidak berhasil. Akhirnya, satu hal yang aku takutkan terjadi juga. Aku tertidur!

Tak lama setelah aku tertidur, aku dikagetkan oleh suara seseorang yang aku kira aku mendengarnya dalam mimpi. Ternyata, aku tidak bermimpi. Suara itu adalah suara Mr. Lee, sang big boss! Oh, My God, bodohnya aku! Mr. Lee—yang asli orang Taiwan—membangunkan aku dengan suara lantangnya dan dengan bahasa Indonesia terpatah-patah, “Hei, you, halo.. halo! Semua yang lain kerja, you tidur sendiri!” Lalu, dia berteriak kepada sang mandor, “Hei, ini harus ada yang temani ya, dia tidur ini, dia tidur. Ayo, suruh dia kemana-mana, jangan dibiarkan saja. Dia tidur ini!” katanya seraya menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku malu bukan main. Dengan suara seperti itu, dia terus-terusan menyebut kata-kata ‘tidur’ di depan banyak karyawati yang tengah bekerja. Duh! Kemudian, saat suaranya mulai kembali normal, dia kembali berkata kepadaku, “Hei, you belajar yang rajin ya. You harus cepat ingat!” katanya seraya menunjuk keningnya sendiri berkali-kali. Aku pun menjawab sambil mengangguk, “Iya, Mr. Lee.”

Hmpff.. hari itu sungguh suatu hari yang buruk bagiku. Belum pernah aku merasakan hal seperti itu sebelumnya. Setiap hari—Senin hingga Sabtu—aku selalu menghitung jam, menit, dan detik seraya bertanya dalam hati berapa jam lagi aku bisa pulang dan segera beristirahat di ranjangku yang empuk, merasakan sejuknya hawa AC, dan memeluk suami yang senantiasa menemaniku tidur? Itu mungkin masih akan terus berlanjut sampai aku mengakhiri masa training-ku yang masih tersisa sekitar dua bulan.

Tapi, bagaimana pun juga aku tidak merasa menyesal, ingin protes, mogok kerja, atau apapun itu. Segala konsekuensi harus bisa aku terima dengan lapang dada. Aku harus mulai meyakinkan diriku bahwa inilah jalanku dan disinilah rejekiku berada. Aku harus bisa bersabar sampai masa training ini berakhir dan aku bisa mulai bekerja dengan seluruh kemampuan yang aku miliki.

Categories: Job Tags: , , ,

Masa-masa Sulit

Tiba-tiba saja aku merasa rindu dengan pekerjaan lamaku. Entah apa yang terjadi aku sendiri tidak mengerti. Yang jelas, kerinduan ini bukan karena sesuatu ‘minus’ yang dulu pernah terjadi padaku hingga aku memutuskan keluar selang sehari setelah aku melangsungkan pernikahan. Semua ini semata-mata karena perbedaan latar belakang pekerjaan yang aku jalani.

Memang, tak ada satu pekerjaan pun di dunia ini yang mudah dan santai. Tapi setidaknya, aku tidak terlalu susah memahami operasional kerjaku yang dulu. Dalam beberapa hari saja aku sudah mengerti sebagian besar gambaran pekerjaanku. Mungkin hal itu juga masih berkaitan erat dengan latar belakang pekerjaan ayahku sebagai seorang pimpinan di lingkup pekerjaan yang sama. Sehingga, aku mudah memahami semua yang diajarkan kepadaku. Aku pun masih bisa memaksimalkan kualitas pekerjaanku dengan semua pemahaman yang aku miliki, disamping waktu kerja yang tidak menentu dan gaji di bawah rata-rata.

Sedangkan disini—di pekerjaan baruku ini—aku merasa bagaikan di ‘neraka’. Aku benar-benar tidak tahan akan hawa panas dan menyengat. Padahal, selama masa training yang berlangsung selama tiga bulan terhitung sejak tanggal 22 Juni itu aku akan selalu berada di bagian produksi yang sungguh panas dan menyengat. Aku benar-benar merasa tersiksa. Aku menyebut ini semua sebagai masa-masa sulit yang belum pernah aku alami di bidang pekerjaan mana pun, selain disini. Mungkin itu sebabnya aku tiba-tiba saja merindukan pekerjaanku dulu yang sungguh nyaman, tenang, aman, dan—mungkin bagiku—fun. Benar apa kata orang bahwa sesuatu memang terasa indah dan berharga saat kita sudah kehilangannya. Tapi, itu adalah masa laluku dan mustahil bagiku untuk kembali kesana.

Aku sudah memutuskan untuk berada disini dan sekuat tenaga akan aku jalani—semampuku, sebisaku. Dan, yang terpenting, kalau bukan karena aku sangat sayang suami dan keluarga kecilku aku takkan mau berada disini. Semoga saja ini semua segera berakhir dan aku bisa melakukan pekerjaan sesuai dengan tingkat kemampuan dan keahlianku.

Categories: Job Tags: ,

Sifat Manusia Berdasarkan Golongan Darah

Sifat manusia memang berbeda-beda. Namun, setiap dari mereka masing-masing pastilah memiliki ciri khas yang akan membedakan satu dengan yang lainnya. Termasuk disini adalah golongan darah kita masing-masing.

Seperti yang aku baca di salah satu sumber bahwa ternyata karakter manusia bisa dilihat dari golongan darah mereka. Golongan darahku AB—golongan darah papa B, sedangkan mama A—dan apa yang aku baca itu sangat sesuai dengan karakter dan kepribadianku. Seperti yang bisa dilihat disini:

Golongan Darah A

  1. Biasanya orang yang bergolongan darah A ini berkepala dingin, serius, sabar, dan kalem (cool, istilahnya).
  2. Orang yang bergolongan darah A ini mempunyai karakter yang tegas, bisa diandalkan dan dipercaya, namun keras kepala.
  3. Sebelum melakukan sesuatu mereka memikirkannya terlebih dahulu, dan merencanakan segala sesuatunya dengan matang. Mereka mengerjakan segalanya dengan sungguh-sungguh dan konsisten.
  4. Mereka berusaha membuat diri mereka sewajar dan se-ideal mungkin.
  5. Mereka bisa kelihatan menyendiri dan jauh dari orang-orang.
  6. Mereka mencoba menekan perasaan mereka dan karena sering melakukannya mereka terlihat tegar. Meskipun, sebenarnya mereka memiliki sisi diri yang lembek, seperti gugup, dan sebagainya.
  7. Mereka cenderung keras terhadap orang-orang yang tidak sependapat dengannya. Untuk itu, mereka cenderung berada di sekitar orang-orang memiliki temperamen yang sama seperti dirinya.

Golongan Darah B

  1. Orang yang memiliki golongan darah B cenderung penasaran dan tertarik terhadap segalanya.
  2. Mereka juga cenderung memiliki banyak kegemaran dan hobby. Jika sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu, namun juga cepat merasa bosan.
  3. Biasanya mereka bisa memilih mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang dikerjakannya.
  4. Mereka cenderung ingin menjadi nomor satu dalam berbagai hal ketimbang hanya dianggap rata-rata. Sekaligus, mereka biasanya cenderung melalaikan sesuatu jika terfokus dengan kesibukan yang lain. Singkat kata, mereka tidak bisa mengerjakan sesuatu secara bersamaan.
  5. Mereka dari luar terlihat cemerlang, riang, bersemangat, dan antusias. Namun, sebenarnya hal itu semua sama sekali berbeda dengan yang ada dalam diri mereka.
  6. Mereka bisa dikatakan sebagai orang yang tidak ingin bergaul dengan banyak orang.

Golongan Darah O

  1. Orang dengan golongan darah ini biasanya berperan dalam menciptakan gairah dalam suatu kelompok. Serta berperan dalam menciptakan suatu keharmonisan diantara para anggota kelompok tersebut.
  2. Figur mereka terlihat sebagai orang yang menerima dan melaksanakan sesuatu dengan tenang. Mereka pandai menutupi sesuatu, sehingga mereka terlihat selalu riang, damai, dan, tidak memiliki masalah sama sekali. Tapi, kalau tidak tahan mereka pasti akan mencari tempat untuk mengadu (curhat).
  3. Mereka biasanya pemurah, baik hati, dan senang berbuat kebajikan. Mereka dermawan dan tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk orang lain.
  4. Mereka biasanya dicintai oleh semua orang (loved by all). Tapi, mereka sebenarnya keras kepala, dan secara rahasia mempunyai pendapatnya sendiri tentang berbagai hal.
  5. Mereka sangat fleksibel dan sangat mudah menerima hal-hal yang baru.
  6. Mereka cenderung mudah dipengaruhi oleh orang lain dan apa yang mereka lihat di TV.
  7. Mereka terlihat berkepala dingin dan terpercaya, tapi mereka sering tergelincir dan membuat kesalahan yang besar karena kurang berhati-hati. Tapi, hal itu yang menyebabkan orang yang bergolongan darah O ini dicintai.

Golongan Darah AB

  1. Orang dengan golongan darah ini mempunyai perasaan yang sensitif dan lembut.
  2. Mereka penuh perhatian dengan perasaan orang lain dan selalu menghadapi orang dengan kepedulian serta kehati-hatian.
  3. Mereka juga keras dengan diri mereka sendiri dan orang-orang yang dekat dengannya.
  4. Mereka cenderung terlihat memiliki dua kepribadian.
  5. Mereka sering menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam.
  6. Mereka mempunyai banyak teman, tapi mereka membutuhkan waktu untuk menyendiri untuk memikirkan persoalan-persoalan mereka.
Categories: Knowledge Tags: