Archive

Archive for March 21, 2008

Sepi dan Sendiri

Sepi dan Sendiri…

Kenapa aku harus merasakan sepi dan sendiri kalau aku tidak merasakan itu? Sesungguhnya aku memang tidak merasakan kesepian dan kesendirian itu, tapi dalam hati aku sangat merasakannya, lebih dari apapun.

Sesuatu telah pergi dari hidupku. Sesuatu yang aku anggap sebagai pelengkap hidupku.

Tapi aku tahu, aku tidak boleh egois. Semua ada batasnya sendiri-sendiri. Apapun yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa untukku, harus aku terima dengan lapang dada dengan tulus dan ikhlas. Malahan, aku harus bersyukur dengan anugerah itu. Dia dikirim olehNya untukku, untuk menemaniku ketika aku merasa sepi, untuk memberiku semangat atas apa yang aku lakukan dan belum terselesaikan, untuk menghiburku ketika aku mendapat cobaan, untuk membimbingku menjadi manusia yang lebih baik lagi, dan untuk segalanya.

Namun, ketika seseorang itu harus pergi dan tak bisa lagi memberi apapun yang masih aku butuhkan, aku bisa apa? Aku hanya bisa bersedih, walaupun mengingat dan mengenang kembali keberadaannya dulu tak banyak membantu. Aku sangat merindukannya. Apa yang sedang dilakukannya sekarang?

Walaupun dia hanyalah berpredikat sekunder bagiku, tapi kehadirannya dalam hidupku benar-benar melebihi segalanya dari apapun juga. Aku seharusnya salah, dan yang pantas disalahkan atas kepergiannya itu adalah aku. Aku tak seharusnya bersedih, karena harusnya aku tahu, semua yang telah aku lakukan itu pasti akan membawa akibat. Entah akibat buruk ataukah baik. Tapi nyatanya, akibat yang aku alami sekarang adalah akibat buruk. Tiap malam aku selalu tersiksa. Terlebih ketika bayangan-bayangan tentangnya kembali muncul. Rasanya aku juga ingin pergi, kemanapun, sampai aku bisa menemukannya.

Menemukan kembali potongan hidupku yang pernah hilang..

Categories: Love Tags: