Sebuah Kabar
Kabar itu adalah kabar yang sangat kunantikan. Aku mendengar kabar bahwa dia baik-baik saja dan tidak kurang suatu apapun. Aku sangat bahagia. Ternyata, memang harus jalan inilah yang aku lalui. Aku ingin dia bahagia, dan satu-satunya jalan agar dia bahagia adalah membiarkannya hidup bebas tanpa ada aku di sisinya. Aku tahu perasaannya padaku, tapi justru perasaan itulah yang membuatnya tersiksa. Ketika suatu saat dia memintaku untuk meninggalkannya, aku pikir dia hanyalah salah satu dari sekian banyak manusia pengikut paham egoisme. Namun aku salah. Setelah aku pikir panjang, ternyata keputusannya itu adalah keputusan terbijak yang pernah aku dapat dari seorang pria. Aku benar-benar salut padanya.
Aku akui bahwa aku banyak belajar dari pengalamannya. Pengalaman hidup yang tak mudah untuk dihadapi. Banyak pria seakan menyerah ketika mendapat cobaan seperti apa yang dialaminya. Tapi tidak dengannya. Dia sungguh tegar. Apapun yang dilakukannya, hanya untuk kebaikan seseorang. Dia tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Dia selalu membahagiakan orang lain tapi tak menghiraukan kebahagiaannya sendiri. Aku sebenarnya tidak suka orang-orang yang berprinsip seperti itu. Hidup hanya sekali. Kenapa dengan hidup yang sesingkat ini harus diisi dengan penderitaan dan kesedihan? Hidup memang untuk menghadapi masalah. Tak ada satu orang pun di dunia ini yang tidak memiliki masalah. Tapi setidaknya seseorang memandang masalah itu dari sudut pandang yang berbeda, dan menghadapinya dengan cara pandang yang juga berbeda.
Tapi sudahlah, semua sudah berlalu. Tak ada gunanya membahas sesuatu yang telah berlalu. Aku harus bisa melupakannya. Walau terasa sulit bagiku, tapi aku harus berusaha. Berusaha melakukannya demi kebahagiaannya, kebahagiaanku, dan kebahagiaan semua orang.











Komentar Terakhir