Archive

Archive for May, 2008

Someone

Dulu, aku selalu menganggapnya lebih baik dari siapapun. Sekarang pun aku masih menganggapnya seperti itu. Tapi, aku tidak ingin terus menganggapnya demikian. Manusia bisa berubah, dan aku yakin, dia pun akan bisa berubah—suatu saat nanti..

Dulu, dia sangat berarti untukku. Hingga detik ini pun dia masih sangat berarti untukku. Tapi, kata-kata ‘berarti’ itu kini sudah tak begitu berarti lagi yang entah aku tujukan untuk siapa. Entah untukku, entah untuknya. Yang jelas, pikiran ini muncul di benakku sejak dia tak lagi memperhatikanku.

Aku nggak marah, dan aku juga nggak kesal. Aku hanya kecewa. Mungkin kekecewaan yang aku rasakan ini nggak pada tempatnya—dan aku tahu itu. Perasaan ini hanya sepintas lalu muncul, dan aku juga tidak tahu apa maksud kemunculannya itu. Entah hanya sekedar intermezzo saja atau apa..

Berkali-kali aku mengingatkan diriku sendiri bahwa dia begitu karena dia memang lagi sibuk-sibuknya dan kesibukannya memang mengalahkan segalanya. Tapi, berkali-kali juga aku berpikir bahwa dia sengaja berbuat seperti itu agar terlihat seperti benar-benar sibuk. Aku berusaha untuk mengenyahkan pikiran-pikiran negatif semacam itu dan berpikir sebaliknya. Tapi entah kenapa, semuanya malah berputar haluan tanpa bisa aku kendalikan. Hingga suatu ketika pemikiran terburuk muncul bahwa dia sengaja menghindariku. Aku bisa berpikir demikian karena aku melihat kehidupan nyata di sekitarku bahwa sesibuk apapun seseorang melakukan aktivitasnya, apakah tidak ada satu detik pun waktu hanya untuk sekedar mengucap kata “hai”—mengingat perkembangan teknologi jaman sekarang sudah semakin canggih..?

Uh, sudahlah..

Memikirkan dia takkan pernah habis waktu berlalu. Memikirkan dia sama saja dengan mengharap Frank Lampard jatuh dari langit. Takkan pernah ada kata ‘pasti’. Susah diraba dan gelap untuk diramal.

Yang bisa aku ucapkan atas semua yang telah dia lakukan untukku hanyalah rasa terima kasih yang sangat besar, yang tak bisa aku ungkap dengan kata-kata secara lugas dan jelas.

Sekarang, aku harus bisa lebih berkonsentrasi dengan diriku sendiri. Berkonsentrasi dengan masa depanku sendiri—tanpa pernah menengok ke belakang lagi. Berkonsentrasi dengan semua yang telah aku miliki.

Semuanya, termasuk someone lain yang juga sangat mencintaiku dengan sepenuh hati..

Categories: Love Tags:

Akhir yang Belum Berakhir

Akhirnya, aku sampai juga pada tahap ini. Tahap dimana aku menemukan jalan untuk mengakhiri petualanganku di dunia pendidikan. Sebuah petualangan panjang bagiku dan teramat panjang pula jika aku menghitung-hitung berapa banyak kisah sedih dan bahagia sejak aku memulainya beberapa tahun yang lalu. Tapi inilah hidup. Hidup penuh perjuangan. Tak ada manusia hidup yang tidak pernah berjuang. Dan perjuangan yang selama ini telah aku lakukan, kini membuahkan hasil. Walaupun aku belum sepenuhnya menyelesaikan petualangan ini, tapi ibarat dalam game, kini aku berada dalam level puncak. Level yang paling susah diantara level-level yang lain. Level yang membutuhkan skill dan pengetahuan ekstra.

Aku bahagia sekaligus takut. Takut menghadapi sesuatu yang harus aku hadapi tatkala aku tahu bahwa aku tak bisa meminta bantuan siapapun, selain aku meminta bantuan pada diriku sendiri. Ketakutan yang harus dan tidak seharusnya aku takutkan. Memang benar. Aku harus takut pada siapa? Apa yang harus aku takutkan? Semuanya memang sudah seharusnya terjadi, kan?

Mungkinkah aku takut pada diriku sendiri?

Entahlah..

Yang aku tahu, aku hanya harus menyelesaikan semuanya sebaik-baiknya, semampuku. Aku tak bisa menyerah sekarang, karena sudah sangat terlambat untuk mengatakan itu sekarang.

Aku tahu, aku bisa dan mampu melakukannya. Aku hanya takut, itu saja. Rasa takut yang tidak seharusnya aku rasakan. Tapi, tidak bisa. Itulah aku. Itulah karakterku. Aku tak bisa mengubahnya. Aku hanya harus mengalahkan rasa takut itu—sendiri..

Categories: Duty Tags:

Tak Ada Perubahan

Tak ada sesuatu pun yang berubah sejak beberapa minggu yang lalu, sejak beberapa hari yang lalu, sejak dia mendiamkanku dan tidak menggubrisku. Entah apa yang sedang terjadi padanya, aku tidak tahu pasti. Aku cuma bisa meraba dan mengira-ngira. Aku hanya tahu sekelumit berita dan itu pun tidak rutin aku dapat. Hanya kalau sempat saja, teman-temanku memberitahuku tentangnya. Aku tidak menyalahkan mereka. Aku menyalahkan diriku sendiri yang begitu tidak tahu bagaimana cara mencari berita terbaru tentangnya dan apa yang saat ini sedang ia lakukan. Bukan karena aku buta teknologi, tapi kemampuannya berkutat dengan teknologi lebih tinggi dibanding aku. Blog-blog-nya selalu terkunci dan tak seorang pun bisa membukanya. Hanya blog-blog tertentu saja yang bisa aku buka dan itu pun memang dibuka untuk umum.

Beberapa hari ini aku mencoba untuk membiarkan semuanya berjalan apa adanya. Maksudku, selama ini aku selalu mengusik kehidupannya dan terlalu mengurusi apa yang dia lakukan. Dan, beberapa hari kemarin aku mencoba untuk berbuat sebaliknya. Ternyata aku tidak bisa. Bayangannya selalu muncul dalam ingatanku. Selalu saja ada hal yang mengingatkanku padanya. Selalu ada orang-orang yang membuatku teringat padanya. Dia adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak bisa hidup tanpa internet. Dan selalu ada web-web tertentu yang mengingatkanku padanya, juga diary-diary kami yang tersimpan manis dalam salah satu blog, yang sekarang sudah tidak pernah jarang kami kunjungi.

Aku belum pernah merasa bosan membicarakannya. Entah kenapa aku bisa begitu. Padahal, aku termasuk tipe cewek yang gampang bosan. Mungkin orang yang aku bicarakan teramat istimewa, sehingga terdengar seolah aku memujanya. Hmmppff..!!

Kadang aku bingung sama diriku sendiri kenapa bisa begitu bodoh. Bodoh karena mencintai seseorang yang tidak seharusnya aku cintai, walau aku tahu aku bisa mencintainya kapan saja aku mau. Ada hal-hal tertentu yang membuatku tidak bisa mencintainya, dan aku sungguh tidak bisa mengabaikan hal-hal itu.

Terlalu rumit..

Terlalu pelik..

Satu yang aku inginkan. Dia bisa memahamiku seperti aku memahaminya. Entah sudah berapa kali aku mengatakan ini, tapi memang hanya itu yang aku minta darinya. Aku harap dia bisa mengerti aku.

Sebenarnya, aku menginginkan segalanya yang terbaik untuknya. Tapi, saat aku tahu dia hampir mendapatkan apa yang memang terbaik untuknya, aku selalu merasa seperti aku akan kehilangannya. Aku tahu, suatu hari nanti aku pasti akan kehilangan dia. Aku hanya belum siap menerima semua ini, setidaknya dalam waktu dekat ini.

Mengapa semuanya harus jadi seperti ini..?

Mengapa semua harus berubah disaat aku ingin patuh terhadap janji yang telah aku buat sendiri? Haruskah aku juga berubah? Haruskah aku ingkar? Atau haruskah aku bersikap seolah semuanya tidak pernah terjadi?

Aku bingung..

Bingung dengan apa yang aku lakukan sendiri..

Categories: Love Tags:

Amityville

Semua orang pasti udah pernah denger tentang legenda horor Amityville yang terjadi di New York, Amerika Serikat, beberapa tahun silam. Yah, legenda itu benar-benar terjadi di sebuah desa di negara bagian New York yang termasuk ke dalam Suffolk County, New York, Amerika Serikat.

Awalnya, kawasan ini digunakan dan dihuni oleh keluarga Huntington hingga tahun 1653, dan kemudian Amityville ditetapkan sebagai sebuah desa pada tanggal 3 Maret 1894. Pemberian nama “Amityville” sendiri merupakan usulan dari para penduduk pada tanggal yang sama, untuk mengganti nama sebenarnya, West Neck South.

Kisah yang terjadi seputar Amityville dibukukan oleh Jay Anson dan diterbitkan pada bulan September 1977 dengan judul yang sama, setelah peristiwa yang terjadi pada sebuah keluarga di kawasan itu ramai dibicarakan orang.

Adalah sebuah peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Ronald DeFeo, Jr., terhadap enam anggota keluarganya, termasuk kedua orang tuanya pada November 1974, di rumahnya di 112 Ocean Avenue-Amityville.

Tigabelas bulan setelah peristiwa pembunuhan keluarga DeFeo pada Desember 1975, keluarga Lutz, George dan Kathleen serta anak-anaknya pindah ke rumah itu, sebuah rumah besar bergaya kolonial Belanda, sebuah lingkungan di pinggiran kota di sebelah selatan Long Island, New York. Namun, sejak kepindahannya ke rumah itu, keluarga Lutz merasakan hal-hal aneh yang tidak biasa di rumah itu tepat setelah hari ke 28.

Menurut buku yang ditulis oleh Jay Anson, 1977, “The Amityville Horror – A True Story“, rumah bernomor 112 Ocean Avenue itu telah kosong selama 13 bulan sebelum akhirnya keluarga Lutz membelinya dengan harga murah, yaitu seharga $80,000. Dari depan rumah itu tampak megah, dengan atap melengkung, memiliki enam buah kamar tidur, serta dilengkapi dengan kolam renang dan tempat penyimpanan kapal. Namun, siapa sangka semuanya akan menjadi mimpi buruk setelah hari ke 28, hari dimana keluarga DeFeo menemui ajal?

Keluarga Lutz pindah ke rumah itu dengan sebagian besar barang-barang perabot milik keluarga DeFeo yang masih tertinggal. Barang-barang itu sengaja ditinggalkan karena sudah termasuk dalam kesepakatan jual-beli. Saat hari pertama pembelian rumah itu, teman-teman George sudah banyak yang mengingatkan bahwa George seharusnya melakukan ritual khusus untuk menghindarkan keluarga mereka dari segala macam bahaya yang diakibatkan oleh rumah yang mereka tinggali. Namun, George tidak mengindahkan nasihat-nasihat itu disamping ia tidak tahu juga bagaimana caranya.

Hari demi hari berlalu seiring dengan keanehan-keanehan yang terjadi di rumah itu. Akhirnya, George pun menuruti kata-kata temannya dulu dimana ia harus melakukan ritual khusus atas rumah mereka. George baru berpikir bahwa mungkin memang benar ada sesuatu yang tidak beres dengan rumah itu. George kemudian melakukan ritual itu dengan meminta bantuan seorang pendeta Katolik yang tinggal di Sacred Heart Rectory. Pendeta itu pun bersedia memberikan ritual pada rumah George dan segera melaksanakannya pada sore hari tanggal 18 Desember 1975. Ternyata, apa yang dilakukan oleh pendeta itu tidak membuahkan hasil. Pendeta itu justru pergi meninggalkan rumah itu tanpa mengatakan apapun pada George. Dan, baru pada tanggal 24 Desember 1975, pendeta tersebut menelepon George agar tidak menggunakan ruangan tempat dimana ia melakukan ritual pada hari sebelumnya. Kemudian, pendeta tersebut kembali ke rumah itu dan melaksanakan ritual yang sama. Ritual tersebut juga tidak membuahkan hasil. Yang ada justru pendeta tersebut menderita demam tinggi dan pada lengannya dijumpai tanda yang mirip dengan tanda stigmata.

Setelah usaha si pendeta gagal, pada tanggal 8 Januari 1976, George dan Kathy sepakat untuk melakukan ritual pengusiran hawa jahat sendiri. Namun, juga tidak berhasil. Mereka malah mendengar suara-suara misterius dari dalam rumah yang intinya meminta mereka semua agar segera pergi meninggalkan rumah itu.

Pada pertengahan bulan Januari 1976 merupakan hari terakhir Keluarga Lutz menempati rumah Amityville, setelah kegagalan ritual yang dilakukan oleh George dan Kathy. Saat itu George hampir saja menghabisi seluruh keluarganya ketika ia terbangun pada pukul 03:15 pagi, dimana pada jam tersebut adalah waktu yang diperkirakan sama dengan waktu Ronald DeFeo, Jr., menghabisi seluruh keluarganya. Untungnya, tak ada sesuatu yang terjadi pada keluarga Lutz, karena Kathy segera membawa anak-anak mereka dan juga George keluar menjauhi rumah itu dengan menggunakan kapal motor yang ada di belakang rumah mereka. Barang-barang yang ada di dalam rumah, mereka tinggalkan begitu saja hingga pada hari berikutnya seorang tukang ditugaskan untuk memindahkan barang-barang itu untuk dikirim kepada keluarga Lutz.

Keluarga Lutz menilai bahwa segala kejadian yang mereka alami di rumah itu adalah sebagai suatu kejadian yang sangat menakutkan. Pernyataan itu juga diperkuat oleh seorang tukang yang bertugas mengambil barang-barang di bekas rumah mereka bahwa memang ada fenomena yang tidak normal disana.

Hingga saat ini, rumah itu masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Hanya saja keadaannya sudah sangat berbeda. Rumah itu sudah direnovasi dan alamatnya diganti untuk mengelabui wisatawan.

Sumber: id.wikipedia.org

Foto: dari berbagai sumber

Categories: Knowledge Tags: , ,

Kenapa..?

Kenapa..?

Kenapa harus masih ada sesuatu yang mengganjal ketika aku sudah hampir mencapai sesuatu yang sangat aku harapkan?

Kenapa sukses itu harus selalu tertunda?

Aku sudah cukup sabar untuk menunggu. Haruskah aku menunggu lagi untuk yang kesekian kalinya? Aku sudah capek. Tapi aku nggak bisa apa-apa. Mungkin memang jalanku harus seperti itu. Yang bisa aku lakukan sekarang, cuma berharap dan terus berharap. Berharap agar semuanya berjalan lancar, tanpa hambatan yang cukup berarti.

Mungkin aku terlalu bahagia dengan apa yang sudah aku raih. Itu sebabnya aku diuji lagi dengan satu cobaan. Ternyata, aku tidak diperbolehkan untuk bahagia terlebih dahulu sebelum semuanya benar-benar beres. Aku sampai bingung sendiri, tidak bolehkah aku merasakan bahagia? Bahagia walaupun sedikit? Lalu, kalau memang aku nggak boleh bahagia, apakah aku harus terus-terusan bersedih? Bersedih dan menangis?

Oh, sebenarnya apa yang terjadi padaku..?

Aku cuma manusia biasa. Aku bisa merasakan bahagia dan juga kesedihan. Tapi, sudah berapa mili airmata yang aku sumbangkan pada bumi setiap kali aku merasakan kesedihan yang mendalam? Terkadang, aku merasa gagal menjadi manusia yang sempurna. Memang.. nggak ada manusia sempurna di muka bumi ini, selain malaikat. Tapi setidaknya, aku bisa menjadi manusia yang berhasil. Dan, aku belum mendekati kata berhasil itu.

Entahlah..

Mungkin aku memang harus banyak-banyak berharap sama yang namanya keajaiban. Aku sudah terlalu banyak berharap. Mengharapkan sesuatu yang tak kunjung datang sama halnya dengan bermimpi. Hidup di alam mimpi tidak sama dengan hidup di alam nyata.

Hidup di alam nyata lebih banyak membutuhkan pengorbanan dari apapun juga..

Categories: Duty Tags:

Just For One

Tujuanku hanyalah satu..

Aku ingin lulus dan bisa menjadi seseorang yang berguna. Berguna bukan hanya untukku, tapi juga untuk orang lain. Terutama orang tuaku, yang telah mencurahkan kasih sayangnya sejak aku masih bayi hingga sekarang. Aku tak mungkin bisa membalas apa yang telah mereka lakukan selama ini. Yang bisa aku lakukan hanyalah membahagiakan mereka dengan membuat mereka bangga untuk mengganti rasa terima kasih itu.

Sekarang, aku sudah mulai mengerti apa yang dimaksud dengan “belajar”. Belajar tidak selalu harus membaca buku. Belajar memiliki artian yang sangat luas. Ternyata, dalam hidup pun, seseorang tengah melalui proses yang dinamakan dengan belajar. Hanya saja mereka tidak pernah menyadarinya. Menyadari pun, mereka mungkin akan mengabaikannya. Namun, aku tidak. Aku sangat-sangat merasakan proses itu. Aku berkali-kali gagal dan gagal. Tapi, aku bisa mengambil hikmah tersembunyi dibalik kegagalan-kegagalan itu. Jalanku untuk menempuh satu kata, yaitu “lulus” sangatlah berliku-liku. Banyak yang telah aku alami. Banyak juga diantaranya yang sempat membuatku kesal. Saat itu, aku berpikir, aku seakan ingin menyerah dan lari dari masalah. Tapi itu bukan aku. Aku tidak biasa lari dari masalah. Karena aku tahu, aku lari kemana pun, masalah itu takkan pernah terselesaikan. Jadi, untuk apa aku lari? Aku justru harus menghadapinya.

Menghadapi suatu masalah akan meningkatkan kesabaran seseorang dalam menjalani hidup. Aku baru tahu itu. Pengalaman memang guru yang berharga. Setelah aku tahu masalah apa yang aku hadapi, aku jadi tahu siapa diriku sebenarnya dan kemampuan seperti apa yang aku miliki. Ternyata, aku bukanlah orang yang sabar dan tabah dalam menghadapi masalah. Aku selalu terbawa emosi, cenderung plin-plan, dan tidak sabaran. Setelah aku tahu bahwa masalah yang aku hadapi tidak terlalu rumit, aku baru menyesal kenapa aku harus membesar-besarkannya menjadi sesuatu yang rumit? Sungguh suatu kebodohan, kan?

Untungnya, aku masih punya orang-orang terdekat yang bisa membimbingku keluar dari lubang yang aku buat sendiri. Mungkin pada awalnya, aku tidak menggubris ocehan-ocehan mereka tentang apa yang aku lakukan. Aku tetap berpegang pada pendirianku. Suatu sisi keras kepalaku yang tidak pada tempatnya. Aku tahu aku salah, tapi aku tidak berkenan untuk mengubah pendirianku. Akhirnya, aku menemui jalan buntu. Jalan buntu yang juga diakibatkan oleh kekerasan kepalaku sendiri. Aku punya telinga, tapi tidak aku gunakan untuk mendengarkan. Aku punya pikiran, tapi tidak aku gunakan untuk berpikir. Dan, aku punya mulut yang juga tidak aku gunakan untuk bicara. Hanya penyesalan yang kemudian aku dapat.

Tapi itu sudah masa lalu. Masa yang sudah pernah aku alami. Kini, aku mengerti apa arti hadirnya orang-orang itu dalam kehidupanku. Hanya untuk membantuku. Aku salah karena sudah pernah mengabaikan nasihat yang mereka sampaikan. Setelah aku mencoba untuk kembali mendengarkan dan mencoba mengerti apa yang mereka maksudkan, aku jadi punya satu titik terang yang harus aku gapai.

Keberhasilan dan kesuksesan yang telah menungguku di gerbang masa depan takkan pernah ada tanpa bantuan mereka. Aku sungguh berterima kasih atas itu semua. Aku merasa beruntung memiliki orang-orang seperti mereka. Segala macam penyesalan yang pernah singgah dalam hati ini akan terbayarkan dengan aku membuka kunci masa depan itu.

Semoga..

Categories: Duty Tags:

Where Are You Now..?

Where are you now? Is someone there tonight

Holding what was mine?

Where are you now?  Do you wonder where I am,

Are you really feelin’ fine?

(Song by Jimmy Harnen with Synch)

Potongan lagu itu mengingatkanku pada seseorang nun jauh disana yang sudah berhari-hari tanpa kabar berita. Yah.. sudah berhari-hari aku mencemaskannya. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa dia sepertinya menghindariku?

Aku tahu akan kesibukannya, tapi aku juga tidak ingin dia berubah sikap terhadapku. Mungkin aku yang terlalu berburuk sangka, hingga menganggapnya seperti menghindariku. Tapi aku harus berpikir bagaimana kalau apapun yang sudah aku lakukan untuknya, tak pernah diresponsnya. Siapapun, yang pernah mengalami hal serupa sepertiku, pasti akan berpikir sama denganku.

Entahlah, aku selalu bingung akan sikap misteriusnya. Pikirannya terlalu dalam untuk aku mengerti dengan jalan pikiranku yang terlampau dangkal. Selalu tersimpan makna tersembunyi di setiap tutur katanya, yang hingga detik ini tidak pernah bisa aku pahami. Aku selalu berusaha keras untuk bisa mendalami caranya berpikir dan berusaha mengerti apa yang dia maksudkan. Namun, tetap saja aku tidak bisa. Mungkin aku harus banyak-banyak belajar tentang ilmu kebatinan agar bisa mengerti semua maksud terpendamnya.

Aneh, tapi nyata. Hanya itu yang bisa aku ungkap tentangnya. Dia sangat baik sekaligus keras kepala. Dia terlalu lemah tapi dia juga tidak bisa dibilang lemah. Dia unik. Tak banyak pria di dunia ini yang memiliki keunikan seperti yang dimilikinya.

Dia sangat berjasa kepadaku. Dia sudah membantuku dalam banyak hal, terutama skripsiku. Dia memberiku semangat yang tak henti-hentinya. Di tengah-tengah kesibukannya dia masih sempat memberiku semangat itu dan bersedia membantuku dengan tangan terbuka. Aku hanya bingung, bagaimana caraku membalas semua kebaikannya? Aku merasa masih punya hutang padanya. Hutang budi yang entah bagaimana aku bisa mengembalikannya, kalau kabar tentangnya saja aku sekarang tidak tahu.

Sekarang, aku sudah hampir menyelesaikan studiku seperti yang dia harapkan. Untuk itu aku hanya ingin dia kembali seperti dulu. Seperti yang aku kenal selama ini.

Hanya itu yang aku inginkan..

Categories: Love Tags:

Aku Benci Sakit

Huuuh, siapa sih yang suka sakit? Siapapun, termasuk aku, bener-bener benci sama yang namanya sakit. Walaupun ringan, tetep aja cukup mengganggu aktivitas. Mau kemana-mana nggak enak, mau makan rasanya pahit, mau tidur punggung rasanya kayak digebukin orang, apalagi cuma diem nggak ngapa-ngapain. Bener-bener nggak nyaman.

Sama kayak aku sekarang. Walaupun cuma radang tenggorokan biasa, tapi badanku rasanya lemes banget. Mungkin dari awalnya kondisi badanku udah nggak bagus. Jadi, ada virus dikit udah kebawa. Biasanya kalo kondisiku baik-baik aja, aku masih bisa survive dari segala macam penyakit.

Hmm, padahal kemarin masih sakit tenggorokan aja, tahu-tahu hari ini udah pake pusing. Padahal, kerjaan skripsi aku belum selesai aku ketik. Mana deadline lagi. Rencananya sih, hari senin besok aku harus udah bimbingan dosen dengan segala persiapan yang matang. Tapi, nggak apa-apa. Yang penting aku masih bisa bangun dari tempat tidur aja itu udah bagus. Karena biasanya kalo udah sakit, bangun aja aku susah.

Yaaah.. semoga aja skripsiku bisa cepet kelar dan keluar dari Ubaya dengan terhormat..!

Categories: Health Tags:

Tangisan dan Jerit Hati

Aku selalu merasa ingin menangis dan menjerit setiap saat setiap waktu, ketika aku mengingat kembali semua yang telah terjadi padaku selama ini, selama aku berada di dunianya. Dunia yang penuh dengan kepalsuan dan kebohongan. Mungkin yang aku maksud dengan kepalsuan dan kebohongan bukan arti yang sebenarnya. Aku menyebut seperti itu sebagai artian konotasi.

Semua yang dia katakan dan semua yang dia lakukan untukku memang benar-benar nyata. Tapi, aku merasakan ada sesuatu yang tidak nyata disana. Sesuatu yang tersembunyi dibalik semak belukar dan tidak mungkin bisa ditemukan hanya dengan berbekal mata telanjang.

Terkadang, aku merasa dunia ini nggak adil. Kenapa aku selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang teramat sulit untuk aku dapatkan pemecahannya?

Terkadang lagi, aku merasa takut pada diriku sendiri yang jarang bisa menepati janji yang telah aku buat sendiri. Aku nggak mau dibilang munafik, tapi apa yang bisa aku perbuat kalo janji itu sendiri aku buat dengan sangat terpaksa dan dibawah tekanan?

Entahlah. Semua begitu membingungkan buatku. Kalau saja, semuanya bisa aku mengerti dengan mudah tanpa aku harus menangis dan menjerit, tentu perasaan aku takkan seperti ini.

Menangis dan menjerit sekeras-kerasnya sungguh ingin aku lakukan. Tapi, kenapa aku tidak bisa melakukannya? Aku ingin menyepi untuk melampiaskan dua hal itu, meski aku tahu, walau aku diberi ruangan hampa sehampa-hampanya aku tetap tidak bisa melakukannya. Aku hanya bisa menangis dan menjerit dalam hati. Tangis dan jeritan yang tidak akan bisa didengar dan diketahui orang lain. Padahal, aku ingin tangis dan jeritanku didengar semua orang agar mereka semua tahu bahwa aku sedih dan tersiksa karena sebuah kepura-puraan yang tak berujung pangkal, serta berharap orang-orang itu dapat membebaskanku dari semua masalah ini.

Untuk yang kesekian kalinya, aku bertanya, “Kapan semua masalah ini akan menjadi jelas?”

Categories: Love Tags:

Angka Kehidupan

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam hidup, seseorang selalu dibayang-bayangi dengan angka. Angka berapapun itu, selalu memiliki makna tersendiri bagi masing-masing insan manusia. Angka-angka dalam tanggal lahir kita pun ternyata juga menyimpan banyak arti kehidupan.

Contohnya aku:

Aku menjumlahkan seluruh tanggal lahirku, mencocokkannya dengan keterangan yang ada, dan me-review semua kehidupan yang aku jalani selama ini. Ternyata benar sekali. Aku dan kehidupanku memang sama persis dengan apa yang digambarkan disana. Walaupun belum seluruhnya, tapi setidaknya sebagian besar sudah sering aku alami.

Kalau ingin tahu berapa angka kehidupanmu, maka jumlahkan seluruh tanggal lahirmu mulai dari tanggal, bulan, dan tahun secara lengkap, hingga menjadi satu angka. Misalkan kamu lahir tanggal 09 Juni 1984, maka: 0+9+0+6+1+9+8+4=37=3+7=10=1+0=1. Maka, tinggal lihat artinya di bawah ini…

Angka 1Garis Hidup 1

Misi hidup kamu adalah untuk menjadi independen. Untuk mencapai hal ini, kamu perlu banyak belajar mandiri dan nggak tergantung sama orang lain. Setelah bebas dan independen, kamu berpotensi jadi seorang pemimpin yang baik. Sebagai pemimpin alami, kamu punya pengaruh untuk mengambil alih tiap situasi. Sayangnya, kadang kamu terlalu percaya diri dan nggak sabaran. Beberapa orang bisa memandang kamu negatif, terutama saat kamu belum bisa menunjukkan jalan pikiran kamu yang sesungguhnya. Kejelekan kamu yang paling menonjol adalah sifat egois yang kadang-kadang muncul. Tapi biar bagaimanapun, karakter kamu sangat orisinil. Kamu berbakat sebagai seorang penemu atau inovator. Dalam tiap pekerjaan yang kamu pilih, sikap independen kamu akan terlihat. Kamu memiliki keinginan pribadi yang sangat kuat dan selalu merasa harus mengikuti keyakinan kamu sendiri.

Garis Hidup 2

Penuh perhatian tulus terhadap orang lain. Kamu adalah penengah ideal yang selalu memikirkan yangAngka 2 terbaik buat banyak orang. Kamu jujur dan terbuka dalam pikiran, ucapan, maupun tindakan. Nggak heran kalau kamu cenderung berhasil dalam segala kegiatan kelompok. Kamu juga pintar berkompromi dan mempertahankan harmoni dalam lingkungan. Hebatnya, kamu tidak suka merendahkan diri dalam berargumen. Tapi sifat yang satu itu juga bisa menjadi negatif di saat-saat yang nggak tepat. Kesulitan terbesar yang mungkin akan sering menghambat langkah kamu adalah sikap pesimis, kepasifan, dan suatu kondisi apatis dan kelambatan. Kamu juga lebih suka dalam lingkungan yang akrab dan kurang kompetitif. Sifat-sifat ini nggak boleh dibiarin mendominasi kamu, karena nantinya bisa menghambat karir, terutama di bidang bisnis.

Angka 3Garis Hidup 3

Ekspresif, bergaul, dan kreatif. Kamu tergolong entertainer kelas dunia, orang-orang yang berkilau dan optimistik. Garis hidup 3 punya bakat kreatif yang istimewa, biasanya dalam musik, menulis, melukis, akting, atau desain dan semacamnya. Kamu selalu positif dalam memandang kehidupan. Pembawaan kamu riang dan terbuka. Kamu mendapat cobaan hidup seperti orang-orang lainnya, tapi kamu mampu langsung bangkit dan bersemangat lagi. Kamu penuh inspirasi, dan selalu mencari stimulasi dari orang-orang yang sealiran. Kalau kamu mampu memfokuskan energi dan bakat pada bidang yang tepat, kamu bisa menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Garis Hidup 4

Kamu selalu berharap banyak dari diri sendiri, sama seperti kamu berharap banyak dari orangAngka 4 lain. Sebagai organisator dan perencana, kamu melihat persoalan dengan cara praktis. Punya kemauan kuat yang sering disalahtafsirkan sebagai sifat keras kepala. Kalau udah bikin keputusan, kamu akan langsung melaksanakannya sampai mencapai konklusi. Nggak peduli salah, benar, atau netral. Garis hidup 4 ini berhubungan dengan elemen bumi yang memberikan kekuatan dan perasaan realistis. Kalau sabar dan gigih, kamu bisa sukses besar! Sisi negatif kamu adalah terlalu dogmatis, berpandangan sempit, dan nggak fleksibel terhadap gagasan baru. Kamu nggak suka sama orang-orang yang superfisial, karena kamu sendiri terbuka dengan semua perasaan kamu. Selain itu, kamu cenderung terlibat dalam rutinitas yang monoton dan sering kurang tanggap dengan hal-hal yang lebih luas. Jadinya, kamu sering kehilangan banyak kesempatan besar.

Garis Hidup 5

Banyak minat, petualang, dan progresif adalah gambaran mereka bergaris hidup 5. Kamu nggak suka rutinitas dan selalu berusaha mencari jawaban bagi misteri kehidupan. Kamu pribadi yang bebas, independen, dan nggak ada ikatan. Saking carefree-nya, kamu mengutamakan kepuasan diri dan nggak peka sama perasaan orang-orang di sekitarmu. Jeleknya lagi, kamu jadi suka menomorsatukan diri sendiri. Kamu bisa jadi seorang yang hedonis, suka bersenang-senang, hidup untuk hari ini, dan nggak memikirkan hari esok. Kamu males bergaul sama orang-orang yang serius dan banyak menuntut. Padahal, justru orang-orang tersebut yang akan mengajarkan kamu akan makna kehidupan yang lebih dalam.

Garis Hidup 6

Idealis dan sangat bertanggungjawab adalah sifat kamu yang menonjol. Kamu senang kalau bisa berguna buat orang lain. Sumbangan terbesar kamu buat orang-orang sekitar adalah memberikan advice, pelayanan, dan dukungan. Kebijaksanaan, keseimbangan, dan pengertian juga merupakan beberapa karakter yang membuat kamu mudah memahami masalah orang lain. Tapi, ada saatnya juga sifat buruk kamu datang, yaitu suka berlebihan (being a drama queen) dan merasa paling benar sendiri. Kamu juga harus menghindari sikap memaksakan kehendak dan terlalu mengurusi masalah orang lain. Pasalnya, kamu sering merasa bertanggungjawab pada hal-hal yang sebenarnya bukan tanggungjawab kamu. Giliran terjadi sesuatu, kamu bisa merasa bersalah banget.

Angka 7Garis Hidup 7

Berjiwa damai dan penyayang, tapi analitis dan tidak terlalu terbuka. Kekuatan diri kamu terlihat dari dalamnya cara berpikir. Seorang intelektual yang selalu mengumpulkan pengetahuan dan ilmu baru dalam setiap hal yang kamu temukan. Nggak akan menerima begitu saja sebuah pandangan tanpa mengetesnya dan memperoleh konklusi sendiri. Kamu sudah bijaksana sejak muda. Kamu butuh ketenangan agar bisa mengenali isi hati. Jumlah teman kamu sedikit, tapi semuanya sangat dekat. Maklum, kamu agak tertutup dan nggak suka ngumpul-ngumpul sama banyak orang. Gara-gara itu, beberapa orang menganggap kamu sombong. Padahal, kamu cuma tipe penyendiri. Sifat negatif kamu adalah egois dan manja, untungnya cuma sedikit. Yang lebih perlu diperhatikan adalah pengontrolan emosi, karena emosi kamu bisa naik turun dalam waktu yang singkat alias nggak stabil.

Garis Hidup 8

Fokus kamu adalah mendapatkan kepuasan yang didapat dari dunia kebendaan. Garis hidup 8Angka 8 adalah orang-orang yang percaya diri, kuat, serta sukses dalam materi. Independen, penuh dorongan, dan kompetitif. Rutinitas kamu sehari-hari meliputi hubungan-hubungan bisnis, praktis dan membumi, sedikit sekali waktu untuk impian-impian dan khayalan. Kamu tahu benar bagaimana mengelola diri dan lingkungan. Praktis dan stabil dalam usaha mencapai tujuan-tujuan. Punya keyakinan yang bikin kamu berani. Sifat negatif mereka yang bergaris hidup 8 adalah kadang-kadang bisa seperti diktator dan seringkali menahan antusiasme dan usaha dari teman-teman di lingkungannya. Hal ini menimbulkan rasa terasing dan kesendirian. Coba deh untuk lebih menghargai pendapat dan jalan pikiran orang lain.

Garis Hidup 9

Sifat utama kamu adalah kasih pada sesama dan sangat humanis. Ini adalah misi yang harus kamu pelajari dalam hidup. Biasanya angka ini menghasilkan individu yang sangat dipercaya dan pribadi terhormat, juga seorang individu yang nggak punya sifat rasial dalam bentuk apapun. Kamu dengan angka garis hidup tertinggi ini berada pada posisi kehidupan yang tinggi dan dengan sendirinya mempunyai banyak tanggungjawab. Tujuan hidupnya bersifat filosofis. Hakim, pemimpin spiritual, penyembuh, dan pendidik, seringkali mempunyai energi 9 ini. Kamu diberi berkah oleh Tuhan berbentuk kemampuan untuk memahami orang, yang jika digunakan dengan benar bisa sangat bermanfaat bagi orang lain. Gampang disukai, karena berjiwa sosial, simpatik, toleran, dan berwawasan luas. Kamu juga seorang yang romantis dalam urusan cinta.

Sumber: Gogirl! Magazine, No.35/Des 2007

Foto: dari berbagai sumber

Categories: Article Tags: