Menganggur
Hmm.. ya beginilah nasib seseorang yang baru lulus kuliah: harus rela menganggur sementara waktu untuk menunggu panggilan kerja. Membosankan memang, tapi ya memang harus seperti ini. Aku kan tidak bisa memaksa-maksa untuk cepat dapat kerjaan, secara jaman sekarang orang cari kerjaan tuh susah..
Selagi menunggu panggilan-panggilan itu datang padaku, aku mencari-cari sendiri situs-situs pencari kerja yang ada di internet. Hasilnya lumayan. Aku sudah mendapat sedikit gambaran tentang pekerjaan seperti apa yang cocok untukku juga posisi yang akan ditawarkan. Walaupun demikian, aku tidak ingin bekerja pada perusahaan yang ‘tembre’. Artinya, perusahaan tersebut tidak bisa menjanjikan jenjang karir yang bagus untukku di masa depan. Karena patut diketahui bahwa aku menjalani masa-masa kuliah tidak sebentar dan selama itu pula biaya yang harus dikeluarkan oleh orangtuaku hingga mampu mengantarkanku menuju gerbang kelulusan pun tidak sedikit. Untuk itu, aku harus selektif dalam menentukan pilihan.
Hal ini mengingatkanku pada satu panggilan wawancara yang seakan ‘menerorku’ beberapa hari ini. Sejak dua hari yang lalu, aku ditelepon oleh salah satu perusahaan yang memintaku untuk datang wawancara pukul 8 pagi. Setelah orang tersebut mengatakan perihal tempat, aku sempat merasa curiga. Karena setahuku, jarang sekali sebuah perusahaan mengoperasikan bisnisnya di sebuah rumah penduduk dan bukannya di komplek perbisnisan. Kecurigaanku yang lain jatuh pada nomor telepon yang digunakan untuk meneleponku. Orang itu memakai nomor telepon HP dan bukannya nomor telepon kantor. Menurut aku pribadi, sangat tidak etis apabila memanggil seorang calon karyawan yang akan diwawancarai menggunakan nomor telepon HP. Memang tidak ada salahnya, tapi itu cukup membuatku ragu-ragu untuk datang memenuhi panggilannya.
Setelah satu hari aku tidak datang pada ketentuan waktu yang dijanjikan, orang tersebut menelepon kembali dan menawarkan hari yang lain dimana sekiranya aku bisa datang. Aku mengiyakan, namun tidak aku dengarkan. Karena pada dasarnya aku sudah tidak punya niat untuk datang. Keesokan paginya, secara kebetulan aku bangun pagi dan timbul satu keinginanku untuk mendatangi alamat itu. Aku cepat-cepat berkemas dan segera membuat surat lamaran serta CV yang diperlukan, lalu aku meminta ayahku untuk mengantarkanku.
Dua jam berselang, akhirnya aku menemukan alamat itu. Dan ternyata benar dugaanku. ‘Kantor’ yang dipakai sebagai operasi usaha itu tidak terlihat seperti layaknya kantor, tapi seperti rumah penduduk biasa. Mungkin aku salah, tapi kalau itu kantor dan memiliki banyak karyawan, kenapa tidak ada satu motor atau mobil pun disana..? Apa karyawan-karyawannya datang dengan jalan kaki? That’s so impossible, I think..!
Akhirnya, aku hanya lewat depan kantor itu saja dan kemudian pergi lagi. Ayahku pun juga tidak suka apabila aku seandainya benar-benar kerja disitu. Dalam hati, aku masih tidak habis pikir dengan keadaan kantor itu. Aku mengamati gang masuk untuk menuju kantor itu sambil membandingkan dengan gang masuk untuk menuju ke rumahku. Ternyata masih lebih lebar gang masuk ke rumahku! Lagipula, apabila rumah itu memang benar-benar kantor, kenapa tidak ada palang nama perusahaannya? Hal ini pun mengingatkanku pada kantor ayahku yang terletak di daerah Perak Barat. Kantor ayahku pun juga merupakan rumah penduduk biasa yang dulunya kosong kemudian dibeli ayahku untuk dijadikan kantor. Namun, ayahku bisa membedakan rumah itu dengan rumah-rumah penduduk biasa dengan memasang palang nama perusahaan. Sehingga, cukup meyakinkan orang-orang yang lewat disana bahwa itu kantor, bukan rumah.
Uh, ya ampun! Aku memikirkannya saja sudah merinding. Apa yang akan terjadi padaku seandainya aku benar-benar datang kesana tanpa seorang pun yang mengantarku?
Kemudian, pada hari yang sama, orang itu masih saja meneleponku perihal ketidakhadiranku pada panggilan wawancaranya sambil memberiku satu kesempatan lagi untuk bisa datang. Dalam hati aku berkata, “Ya ampun, nih orang masih nggak nyerah juga sih?!”. Aku pun menjawab panggilan itu dan mengatakan bahwa aku tidak tahu apa aku bisa datang atau tidak keesokan hari, karena aku tidak mungkin menolak tawaran itu mentah-mentah. Aku harus bisa bersikap profesional.
Keesokan harinya, yang jatuh pada hari Sabtu, ternyata aku bangun kesiangan (sekitar pukul 10 pagi) dan aku teringat kalau aku harus ke kampus—bukannya teringat datang wawancara—untuk mengurus surat-surat yang belum selesai pascakelulusanku beberapa hari sebelumnya. Waktu itu, aku lupa sama sekali kalau aku sudah janji akan memberi kabar perihal kehadiranku atas kesempatan wawancara yang diberikan padaku kemarin. Sepulang dari kampus, barulah aku mengingatnya, dan itu pun sudah pukul 3 sore. Aku mengangkat HP dan bermaksud untuk mengetik beberapa kata dalam SMS yang akan kukirimkan kepada orang yang bersangkutan. Tapi entah kenapa, HP itu aku letakkan kembali dan batal untuk mengirimkan SMS. Lagipula, pihak kantor juga tidak meneleponku sama sekali seharian itu. Jadi, aku pikir, untuk apa aku mengirimkan SMS kalau mereka (katakan saja) lupa akan jadwal yang mereka berikan sendiri. Iya, kan? Ya sudah, aku anggap masalahku clear hari itu.
Sekarang, aku hanya tinggal menunggu panggilan-panggilan selanjutnya. Aku harap, aku bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan apa yang telah aku dapatkan selama aku menempuh masa perkuliahan. Jika tidak pun, aku berharap semoga pekerjaan dan posisi yang ditawarkan padaku sepadan dengan besarnya biaya yang orangtuaku keluarkan untuk menyekolahkanku hingga detik ini.
Amin!











Komentar Terakhir