Archive

Archive for June, 2008

Menganggur

Hmm.. ya beginilah nasib seseorang yang baru lulus kuliah: harus rela menganggur sementara waktu untuk menunggu panggilan kerja. Membosankan memang, tapi ya memang harus seperti ini. Aku kan tidak bisa memaksa-maksa untuk cepat dapat kerjaan, secara jaman sekarang orang cari kerjaan tuh susah..

Selagi menunggu panggilan-panggilan itu datang padaku, aku mencari-cari sendiri situs-situs pencari kerja yang ada di internet. Hasilnya lumayan. Aku sudah mendapat sedikit gambaran tentang pekerjaan seperti apa yang cocok untukku juga posisi yang akan ditawarkan. Walaupun demikian, aku tidak ingin bekerja pada perusahaan yang ‘tembre’. Artinya, perusahaan tersebut tidak bisa menjanjikan jenjang karir yang bagus untukku di masa depan. Karena patut diketahui bahwa aku menjalani masa-masa kuliah tidak sebentar dan selama itu pula biaya yang harus dikeluarkan oleh orangtuaku hingga mampu mengantarkanku menuju gerbang kelulusan pun tidak sedikit. Untuk itu, aku harus selektif dalam menentukan pilihan.

Hal ini mengingatkanku pada satu panggilan wawancara yang seakan ‘menerorku’ beberapa hari ini. Sejak dua hari yang lalu, aku ditelepon oleh salah satu perusahaan yang memintaku untuk datang wawancara pukul 8 pagi. Setelah orang tersebut mengatakan perihal tempat, aku sempat merasa curiga. Karena setahuku, jarang sekali sebuah perusahaan mengoperasikan bisnisnya di sebuah rumah penduduk dan bukannya di komplek perbisnisan. Kecurigaanku yang lain jatuh pada nomor telepon yang digunakan untuk meneleponku. Orang itu memakai nomor telepon HP dan bukannya nomor telepon kantor. Menurut aku pribadi, sangat tidak etis apabila memanggil seorang calon karyawan yang akan diwawancarai menggunakan nomor telepon HP. Memang tidak ada salahnya, tapi itu cukup membuatku ragu-ragu untuk datang memenuhi panggilannya.

Setelah satu hari aku tidak datang pada ketentuan waktu yang dijanjikan, orang tersebut menelepon kembali dan menawarkan hari yang lain dimana sekiranya aku bisa datang. Aku mengiyakan, namun tidak aku dengarkan. Karena pada dasarnya aku sudah tidak punya niat untuk datang. Keesokan paginya, secara kebetulan aku bangun pagi dan timbul satu keinginanku untuk mendatangi alamat itu. Aku cepat-cepat berkemas dan segera membuat surat lamaran serta CV yang diperlukan, lalu aku meminta ayahku untuk mengantarkanku.

Dua jam berselang, akhirnya aku menemukan alamat itu. Dan ternyata benar dugaanku. ‘Kantor’ yang dipakai sebagai operasi usaha itu tidak terlihat seperti layaknya kantor, tapi seperti rumah penduduk biasa. Mungkin aku salah, tapi kalau itu kantor dan memiliki banyak karyawan, kenapa tidak ada satu motor atau mobil pun disana..? Apa karyawan-karyawannya datang dengan jalan kaki? That’s so impossible, I think..!

Akhirnya, aku hanya lewat depan kantor itu saja dan kemudian pergi lagi. Ayahku pun juga tidak suka apabila aku seandainya benar-benar kerja disitu. Dalam hati, aku masih tidak habis pikir dengan keadaan kantor itu. Aku mengamati gang masuk untuk menuju kantor itu sambil membandingkan dengan gang masuk untuk menuju ke rumahku. Ternyata masih lebih lebar gang masuk ke rumahku! Lagipula, apabila rumah itu memang benar-benar kantor, kenapa tidak ada palang nama perusahaannya? Hal ini pun mengingatkanku pada kantor ayahku yang terletak di daerah Perak Barat. Kantor ayahku pun juga merupakan rumah penduduk biasa yang dulunya kosong kemudian dibeli ayahku untuk dijadikan kantor. Namun, ayahku bisa membedakan rumah itu dengan rumah-rumah penduduk biasa dengan memasang palang nama perusahaan. Sehingga, cukup meyakinkan orang-orang yang lewat disana bahwa itu kantor, bukan rumah.

Uh, ya ampun! Aku memikirkannya saja sudah merinding. Apa yang akan terjadi padaku seandainya aku benar-benar datang kesana tanpa seorang pun yang mengantarku?

Kemudian, pada hari yang sama, orang itu masih saja meneleponku perihal ketidakhadiranku pada panggilan wawancaranya sambil memberiku satu kesempatan lagi untuk bisa datang. Dalam hati aku berkata, “Ya ampun, nih orang masih nggak nyerah juga sih?!”. Aku pun menjawab panggilan itu dan mengatakan bahwa aku tidak tahu apa aku bisa datang atau tidak keesokan hari, karena aku tidak mungkin menolak tawaran itu mentah-mentah. Aku harus bisa bersikap profesional.

Keesokan harinya, yang jatuh pada hari Sabtu, ternyata aku bangun kesiangan (sekitar pukul 10 pagi) dan aku teringat kalau aku harus ke kampus—bukannya teringat datang wawancara—untuk mengurus surat-surat yang belum selesai pascakelulusanku beberapa hari sebelumnya. Waktu itu, aku lupa sama sekali kalau aku sudah janji akan memberi kabar perihal kehadiranku atas kesempatan wawancara yang diberikan padaku kemarin. Sepulang dari kampus, barulah aku mengingatnya, dan itu pun sudah pukul 3 sore. Aku mengangkat HP dan bermaksud untuk mengetik beberapa kata dalam SMS yang akan kukirimkan kepada orang yang bersangkutan. Tapi entah kenapa, HP itu aku letakkan kembali dan batal untuk mengirimkan SMS. Lagipula, pihak kantor juga tidak meneleponku sama sekali seharian itu. Jadi, aku pikir, untuk apa aku mengirimkan SMS kalau mereka (katakan saja) lupa akan jadwal yang mereka berikan sendiri. Iya, kan? Ya sudah, aku anggap masalahku clear hari itu.

Sekarang, aku hanya tinggal menunggu panggilan-panggilan selanjutnya. Aku harap, aku bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan apa yang telah aku dapatkan selama aku menempuh masa perkuliahan. Jika tidak pun, aku berharap semoga pekerjaan dan posisi yang ditawarkan padaku sepadan dengan besarnya biaya yang orangtuaku keluarkan untuk menyekolahkanku hingga detik ini.

Amin!

Categories: Job Tags: ,

My Another Confuse

Sekarang, yang aku pusingkan bukan lagi masalah bagaimana caraku menyelesaikan studiku, melainkan bagaimana caraku mencari pekerjaan yang cocok untukku. Memang aku akui, setelah aku lulus menjadi seorang Sarjana Ekonomi, banyak sekali perusahaan-perusahaan yang memanggilku untuk datang wawancara. Baik perusahaan kecil, maupun besar, dan dari bermacam-macam bidang usaha. Namun, entah kenapa, aku tidak memiliki keinginan kuat untuk memenuhi panggilan-panggilan itu. Entah karena aku belum siap atau karena memang aku sendiri yang tidak berminat, aku tidak tahu.

Aku punya beberapa alasan kenapa aku tidak ingin sembarangan mengambil satu posisi dalam sebuah perusahaan. Satu, karena aku ingin menunjukkan profesionalisme-ku dan tidak ingin kerja asal-asalan. Kedua, karena aku mempertimbangkan suatu pekerjaan yang akan aku ambil itu dari sisi jenjang karir. Aku tidak mempermasalahkan dimana aku kerja dan apa posisiku. Tapi, aku tidak ingin menjadi seseorang yang tidak bisa berkembang. Satu alasan aku ingin mencari kerja adalah aku ingin berkembang dan menerapkan ilmu-ilmu yang telah aku dapatkan selama ini. Kalau aku tidak bisa berkembang dan menjadi seseorang yang baru, untuk apa aku sekolah tinggi-tinggi?

Ya, hanya itu kebingunganku..

Beberapa waktu lalu, aku mendapatkan panggilan wawancara dari salah satu bank swasta yang memintaku untuk menempati jabatan sebagai costumer service. Tapi, karena waktu itu belum memiliki ijasah S1 dan hanya ijasah SMA, pihak bank tidak bisa memproses wawancaraku lebih lanjut. Jadi, aku harus merelakan posisi itu untuk orang lain—walau saat itu aku sangat-sangat ingin bisa diterima. Tapi ya sudahlah, akhirnya aku pulang dengan tangan hampa. Sesaat sebelum aku meninggalkan ruang wawancara, pihak bank tersebut mengatakan padaku bahwa aku mungkin masih bisa menelepon kembali setelah aku lulus dan mendapatkan surat keterangan lulus dari Universitas. Mendengar itu, aku hanya tersenyum simpul dan mengucapkan terima kasih. Namun, jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku berucap, “Masih samakah posisi yang ditawarkan padaku disaat aku sudah mendapatkan surat keterangan lulus nanti?”—aku tidak yakin.

Setelah tiba di rumah, aku hanya tertunduk lesu. Saat itu, aku menyesali kenapa aku tidak bisa lulus secepat teman-temanku dan mendapatkan posisi sebaik itu di sebuah bank? Tanpa terasa, aku menangis. Tapi, kemudian aku tersadar bahwa memang seperti itulah jalanku—jalan yang digariskan oleh Allah SWT kepadaku. Aku hanya bisa pasrah menerima semuanya, hingga secara tiba-tiba hatiku tergerak untuk segera menyelesaikan studiku secepat mungkin.

Sejak kuliah, aku memang selalu ingin bekerja part-time. Selain aku ingin mencari pengalaman sebelum aku benar-benar bekerja, aku juga ingin menambah uang sakuku dengan hasil jerih payahku sendiri. Namun, niat itu tidak pernah terlaksana. Hampir terlaksana pun, aku mendapatkan sebuah tawaran bekerja di sebuah bank swasta yang menurutku cukup bagus. Tapi, posisi yang ditawarkan sangat-sangat tidak aku sukai, yaitu sebagai marketing executive. Saat itu aku berpikir bahwa posisi marketing executive mungkin bisa aku terima di sela-sela kesibukan kuliahku. Namun, apa yang aku dapatkan ternyata jauh dari angan-anganku sebelumnya. Posisi itu ternyata mengharuskan aku untuk menawarkan produk mereka ke nasabah-nasabah lama ataupun ke calon nasabah. Wow! Betapa berat tugasku, pikirku saat itu. Setelah proses wawancara selesai, aku keluar ruangan dengan langkah gontai. Pupus sudah harapanku untuk mewujudkan impianku. Tapi, aku tidak menyerah. Aku tetap mengirimkan lamaran lebih banyak lagi. Dari sekian banyak lamaran yang aku kirim, tak satupun dari perusahaan-perusahaan itu yang memanggilku. Mungkin karena yang aku minta hanya sebagai part-timer, sehingga mereka sulit untuk mengabulkannya. Yang memanggilku hanyalah bank-bank swasta (lagi) yang menawarkan posisi sebagai marketing executive. Uh, capek sudah aku melakukan sesuatu yang sia-sia, jika hasilnya sama saja alias nol. Aku pun menutup akunku di sebuah situs job seeker kampusku, dan berencana mengaktifkannya kembali kalau aku sudah dinyatakan lulus oleh Universitas.

Dan inilah aku sekarang. Aku sudah mengaktifkan kembali akunku di situs job seeker itu dan beberapa jam yang lalu aku telah mengirimkan beberapa lamaran on-line (tanpa surat lamaran) ke beberapa perusahaan, sesuai dengan kualifikasi yang aku miliki. Aku hanya tinggal berharap aku bisa mendapatkan kembali keberuntungan yang sempat meninggalkanku beberapa waktu yang lalu.

Semoga..

Categories: Job Tags: ,

Something I Must Do

Beberapa tahun yang lalu—saat aku masih duduk di bangku sekolah—aku suka sekali menjalin hubungan dengan banyak pria. Artinya, aku tidak suka terikat dengan satu orang dan gampang merasa bosan. Aku selalu mencari sesuatu yang bisa membuatku merasa fun. Aku selalu membuat hubungan-hubunganku dulu sebagai sesuatu yang bisa aku permainkan sesuka hatiku. Asalkan aku bisa merasa bebas dan tidak terikat, why not?

Seiring dengan berjalannya waktu, aku semakin mengerti apa yang dimaksud dengan cinta, kasih sayang, dan alasan mengapa orang rela mengorbankan segalanya demi suatu hubungan. Seiring dengan itu pun, aku tumbuh menjadi seorang wanita yang memiliki ‘posisi’. Ya, kini aku bukan lagi gadis bebas seperti dulu. Kini, aku seorang wanita yang memiliki seseorang yang akan aku jadikan pendamping hidupku. Untuk itu, mulai dari sekarang dan seterusnya, aku tidak boleh lagi ‘bermain api’ dengan seseorang ataupun sesuatu yang bisa menghancurkan hubunganku.

Untuk itu, aku memiliki satu konsekuensi khusus, yaitu: aku tidak bisa lagi bergabung di berbagai macam situs social networking, terlebih jika situs social networking itu salah satunya bertujuan untuk dating atau mempertemukan dua insan manusia yang masih sama-sama jomblo.

Aku tahu dan aku sadar itu. Tapi masalahnya sekarang, aku punya lebih dari satu akun di situs-situs social networking semacam itu. Bagaimana caraku menghapus semuanya? Dan bagaimana pula nasib teman-temanku yang ada disana? Aku tidak ingin dianggap sombong atau apa. Tapi, ini memang sudah menjadi konsekuensiku sejak awal—bahwa cepat atau lambat aku pasti akan meninggalkan mereka semua.

Mungkin pada awalnya, memang sangat berat untuk dilakukan. Tapi, aku pun tidak punya pilihan lain untuk tidak melakukannya.

Aku masih ingat tentang bagaimana mereka berusaha menghiburku disaat aku sedih dan tertekan, serta bagaimana mereka memperlakukan aku dengan sangat baik—melebihi apa yang dilakukan teman-temanku di dunia nyata. Aku sungguh bahagia memiliki teman-teman seperti itu. Aku seakan memiliki ‘keluarga’ kedua dengan adanya mereka di sekeliling aku. Tidak pernah aku jumpai situs social networking dengan hubungan kekeluargaan erat seperti itu.

Tapi sekarang..? Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus rela meninggalkan semuanya demi sesuatu yang nyata yang telah menungguku. Mereka mungkin tidak nyata tapi mereka sungguh nyata bagiku. Namun, aku memiliki sesuatu yang lebih nyata dibandingkan itu semua. Dan aku tidak ingin kehilangan harapan dan mimpiku hanya karena aku ingin mengejar mempertahankan sesuatu yang tidak nyata.

“So, for now, I just can saying goodbye for you all, Guys! Forgive all my mistakes and I’ll always pray for you all. Just let me go and don’t try to find me..! I love you all, my friends!”.

Categories: Love Tags:

Finally..!!

“Finally, I can do this as everyone wish to me!!”

Yeah..! Akhirnya aku bisa mencapai sesuatu yang tidak pernah aku duga sebelumnya—bahkan setelah pengumuman itu dibacakan pun aku belum sepenuhnya sadar. Yah, aku tidak menyangka bahwa aku bisa mewujudkan impianku dan impian semua orang yang telah mendukungku menjadi sesuatu hal yang teramat indah untuk dilukiskan.

“Aku LULUS!!”

Ya, aku lulus! Senangnya..! Walaupun aku lulus dengan nilai relatif B, aku sudah sangat bersyukur dan bahagia sekali. Karena pada awalnya aku hanya menargetkan nilai kelulusan ini adalah C. Aku sangat-sangat lega, karena mulai dari saat inilah aku bisa terbebas dari segala macam beban. Namun, apa yang aku bilang bebas itu tidak sepenuhnya bebas. Aku masih punya satu tanggungan lagi untuk aku wujudkan, yaitu: mencari pekerjaan yang sesuai dengan apa yang aku inginkan.

Mungkin tingkat kesulitan yang akan aku dapatkan tidak sama dengan tingkat kesulitan yang harus aku hadapi ketika aku mengusahakan segalanya agar aku bisa mencapai kata lulus beberapa hari yang lalu. Tapi setidaknya, usaha yang harus aku lakukan untuk mencapai apa yang aku inginkan setelah ini, sedikit banyak sama.

Sekarang, harapanku adalah: aku bisa sukses dengan segala kemampuan yang aku miliki dan bisa mewujudkan semua impanku. Karena aku yakin, semua itu bisa aku raih—cepat atau lambat..

Categories: Duty Tags: , ,

Hari itu Semakin Dekat

Hari itu—hari penentuanku untuk mengakhiri masa studiku—sudah semakin dekat. Tapi, aku belum mempersiapkan apapun. Bahkan, ketika aku ditanya seputar skripsi yang aku kerjakan sendiri pun, aku tidak punya jawaban yang meyakinkan. Lalu, aku harus bagaimana?

Aku tidak tahu lagi harus mempersiapkan jawaban yang seperti apa. Otakku blank sama sekali. Biasanya aku selalu punya seribu satu cara untuk ‘ngeles’, tapi sekarang? Aku ngeles yang kayak gimana, coba? Semuanya sudah harus terstruktur. Nggak bisa lagi jawab yang asal-asalan, apalagi jawab yang nggak sesuai dengan apa yang sudah tertulis.

Aku benar-benar bingung sekarang. Awalnya aku yakin aku bisa jawab semua pertanyaan seputar skripsi, karena skripsi itu memang aku sendiri yang buat—tanpa bantuan orang lain. Tapi nyatanya aku salah. Tadi pagi saat aku briefing dengan dosen pembimbing, aku sudah sakit perut nggak keruan sehingga berakibat pada bahasaku yang acak-acakan saat menjawab pertanyaan. Hingga jawaban yang aku berikan sangat-sangat jelek dan tidak fokus pada pertanyaan. Dosen pembimbingku sih hanya bertanya perihal kesiapanku menghadapi ujian besok—walau pada akhirnya beliau memberikan jawaban yang benar atas pertanyaannya tadi. Aku sungguh bersyukur karena aku mendapatkan jawaban yang benar atas pertanyaan itu dan segera aku catat. Namun, jauh di dalam lubuk hatiku muncul sebuah pertanyaan mengerikan, “Itu baru pertanyaan dari dosen pembimbing. Bagaimana jika nanti yang bertanya adalah dosen penguji dan pertanyaan yang diberikan sama sekali tidak pernah aku duga?”

Aduh, entahlah! Aku pusing memikirkannya. Belum-belum aku sudah takut dan sakit perut begini, apalagi nanti. Aku hanya bisa belajar dan berdoa semampuku, serta meminta yang terbaik pada Yang Diatas. Aku serahkan semuanya padaNya dan berharap mendapatkan hasil yang memuaskan. Amin!

Categories: Duty Tags: , , ,

What Should I Do?

Selalu ada satu pertanyaan yang muncul di benakku saat sebuah kesulitan datang menghampiriku, “Apa yang harus aku lakukan?”

Ya, sama seperti saat ini. Aku menemui satu kesulitan setelah satu kesulitan lain telah berhasil aku atasi. Tapi, aku merasa kesulitan yang ini lebih berat daripada kesulitan-kesulitan yang aku hadapi sebelumnya. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, aku tak tahu. Yang jelas, semuanya membuatku takut.

Aku tidak pernah tidak merasa takut akan sesuatu. Untuk satu hal yang baru pertamakali aku jalani, aku selalu merasa takut. Aku heran, kenapa aku tidak bisa seperti orang lain yang selalu merasa tenang jika menghadapi sesuatu? Mungkin mereka juga merasa takut, tapi ketakutan yang mereka rasakan pastinya tidak separah yang aku rasakan.

Beberapa hari yang lalu—tepatnya tanggal 11 Juni—aku sidang komprehensif sebagai salah satu persyaratan sebelum aku sidang skripsi. Aku tidak menyangka kalau aku akan berhasil melaluinya, padahal sehari sebelumnya aku merasa hopeless.

Untuk sidang selanjutnya, aku tidak tahu bagaimana nasib yang akan menghadangku. Karena aku tahu, dosen-dosen penguji yang nanti akan mengujiku tidak sama dengan dosen-dosen penguji yang kemarin mengujiku—yang ini lebih membahayakan.

Untuk yang kesekian kalinya, aku hanya bisa kembali berharap—karena aku belum menemukan jawaban atas apa yang akan aku lakukan selanjutnya..

Categories: Duty Tags:

Lukisan dari Hati

Beribu ucapan selamat dan kata-kata mutiara yang ditujukan padaku datang bertubi-tubi kemarin—termasuk ucapan dari seseorang yang aku anggap telah melupakanku. Deretan kata yang datang tepat pada pukul duabelas tanggal 09 itu benar-benar membuatku terharu. Ternyata dibalik semua kesibukannya, dia masih mengingat tanggal ulang tahunku, meski aku tak pernah mengingatkannya lagi sejak beberapa bulan yang lalu.

Itu hanya sebuah intermezzo tentang bagaimana dia mencurahkan seluruh perhatiannya hanya untukku. Aku sungguh bodoh telah menganggapnya melupakanku, padahal dia sama sekali tak pernah melupakanku. Memang waktu yang diberikannya untukku tak sebanyak dulu, tapi perhatiannya tak pernah lepas dariku.

Dari intermezzo itu, satu ketakutan pun muncul di benakku, “Apa yang bisa aku berikan padanya saat dia bisa memberikan semuanya padaku—termasuk cintanya?”

Aku tidak ingin mengecewakannya, tapi aku juga tidak bisa berbuat lebih dengan memberikan sesuatu yang sepadan seperti yang dia berikan padaku. Sekeras apapun aku ingin memberikan apa yang ingin aku berikan, selalu ada sesuatu yang membuatku harus berpikir seribu kali sebelum aku benar-benar melakukannya. Sejak dulu—sejak aku mengenalnya—aku tak pernah belum pernah membuatnya bahagia. Padahal aku sangat ingin membuatnya bahagia, walau hanya sekali. Sekali seumur hidupku.

Dia memang benar-benar cerminan seorang laki-laki sejati. Tak pernah merasa disakiti, walau sering tersakiti. Tak pernah benar-benar marah, meski ada banyak hal yang seharusnya bisa membuatnya marah. Kadang aku merasa heran dengannya. Di jaman era modern seperti ini, dimana semua orang berlomba-lomba untuk mendapatkan posisi terbaik dalam pekerjaannya, dia malah merasa iba pada seseorang yang dikeluarkan dari pekerjaannya karena kesalahan orang itu sendiri dan ikut minta dikeluarkan juga, dengan alasan kemanusiaan—tepat dimana saat itu dia telah berhasil mendapatkan reward dan tingkat jabatan yang lebih baik dalam pekerjaannya atas segala sumbangsih tenaga dan pikiran yang selama ini ia lakukan untuk perusahaan itu.

Tak ada yang bisa menyalahkan dia atas apa yang dia lakukan sendiri. Semua orang—yang sangat mengenalnya—hanya bisa menyesalkan hal itu. “Kenapa dia tidak pernah memikirkan hal lain selain memikirkan nasib orang lain?”

Mungkin aku dan orang-orang itu telah salah menilainya. Salah mempersepsikan semua hal yang telah dilakukannya menjadi sesuatu hal yang tidak seharusnya ia lakukan. Tapi, mungkin memang seperti itulah cara dia melukiskan apa yang ada di hatinya—sama seperti caranya melukiskan perasaannya padaku—meski aku tak pernah tahu apa maksudnya.

Semakin dia memberikan perasaannya dengan tulus padaku, akan semakin membuatku merasa bersalah. Bukan karena apa-apa aku mengatakan ini, tapi lebih karena aku tak bisa membalas semua kebaikan dan pengorbanannya. Dia terlalu banyak berkorban untukku, sementara aku belum bisa membalasnya satu pun.

Terkadang terlintas satu pertanyaan di benakku, “Apa yang dicarinya di dunia ini sampai-sampai dia rela mengorbankan apapun untuk orang lain seperti itu?”

Aku salut sekaligus iba padanya. Yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah memohon segalanya yang terbaik untuknya—sebagai balas jasa atas semua yang ia korbankan untukku.

Sebuah perasaan itu—satu lukisan hati yang ingin ia lukiskan untuk orang-orang yang disayanginya—telah membuatnya lupa akan dunia yang seharusnya ia jalani. Semoga saja ia tidak lupa akan siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya.

Categories: Life Tags:

Satu Realita Hidup

Selama ini aku selalu menunjukkan kepada setiap orang bahwa aku kuat menghadapi kerasnya hidup, padahal aku yang sebenarnya tidak seperti itu. Aku yang sebenarnya adalah aku yang selalu ketakutan menghadapi kenyataan hidup. Apapun itu.

Sebuah realita kehidupan yang selalu takut aku hadapi sebenarnya adalah realita tentang kehidupanku sendiri. Aku tidak tahu apa saja yang telah aku pikirkan dan rasakan. Yang jelas, semuanya selalu mengandung satu kata: takut.

Entah sejak kapan perasaan ini muncul dan entah sampai kapan perasaan ini akan berakhir. Aku selalu tidak berani memikirkan apa yang terjadi beberapa jam ke depan, beberapa hari berikutnya, atau satu masa yang akan datang. Aku hanya berani memimpikannya, tanpa pernah berharap menjadi kenyataan. Karena itulah kenapa aku selalu jadi seorang pemimpi, tanpa berani mengambil satu tindakan—untuk mewujudkannya.

Jikalau aku mengatakan sesuatu yang kedengarannya pasti, orang-orang yang mengenalku akan segera berpikir bahwa aku seolah memaksakan sesuatu.

Mereka tidak salah—tapi mungkin juga tidak benar..

Aku mengatakan sesuatu itu karena aku memang benar-benar ingin mengatakannya. Dan bukan hanya sekedar kata, tapi ada sebuah harapan disana untukku ingin membuatnya menjadi sebuah kenyataan.

Walau sebenarnya aku takut dan selalu ketakutan, tapi aku tetaplah seorang anak manusia yang memiliki sejuta impian. Impian yang selalu ingin aku wujudkan.

Kini, aku hanya bisa berharap pada keajaiban. Keajaiban yang bisa membawaku terbang ke satu dunia dimana aku bisa menggapai semuanya—semua yang pernah menjadi impianku..

Categories: Life Tags:

Day of The Day

Hari ulang tahun selalu menjadi hari terindah bagi setiap orang. Entah dirayakan atau tidak, satu hari itu pastilah menjadi hari bersejarah bagi setiap insan manusia. Termasuk juga aku. Meskipun hari jadiku jarang dirayakan—kecuali saat sweet seventeen—karena selalu hampir bersamaan dengan hari jadi adik bungsuku yang jatuh tepat satu minggu setelahku (sehingga perayaannya digabung), tapi aku selalu bahagia menyambutnya.

Mungkin selama ini hari jadiku hanya memiliki makna yang biasa-biasa saja, tapi kali ini—hari jadi yang ke 24 ini—terasa sangat berarti bagiku. Bukan karena apa-apa, hanya saja hari jadi yang sudah kesekian kali ini mempunyai makna ‘lain’ buatku. Selain karena aku hampir menyelesaikan studiku, hubunganku dengan seseorang yang sangat aku sayangi dan cintai juga memiliki prospek yang bagus di masa yang akan datang. Di samping itu, segala masalah yang selama ini aku rasakan berangsur-angsur membaik. Seiring dengan itu semua, aku pun percaya bahwa, “selalu ada hikmah dibalik peristiwa”.

Mulai detik ini—hari ini—aku berjanji pada diriku sendiri untuk lebih bisa meniti hidupku dengan lebih baik lagi. Karena aku tahu, hidupku tak hanya berhenti sampai disini. Masih ada satu masa di depan yang telah menunggu untuk aku jelang.

“Life is still go on, whatever it takes!”

Categories: Life Tags:

Karakter Manusia Berdasarkan Bulan Kelahiran

Tiap manusia memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang rajin, ada yang malas, ada yang baik hati, ada yang jahat, ada yang terbuka, namun tak sedikit pula yang memiliki sifat tertutup dan misterius. Percaya atau tidak, bulan kelahiran dari masing-masing individu sedikit banyak berpengaruh terhadap sikap dan perilaku individu yang lahir pada bulan tersebut.

JANUARI

  • Ambisius dan serius
  • Suka mengajar dan diajar
  • Selalu mencari cacat dan kelemahan orang lain
  • Suka mengkritik
  • Pekerja keras dan produktif
  • Pandai, rapi, dan terorganisir
  • Sensitif dan memiliki pemikiran yang dalam
  • Tahu cara membahagiakan orang lain
  • Pendiam, kecuali pada saat tegang atau ‘tersulut’
  • Cenderung menutup diri
  • Sangat perhatian pada hal kecil
  • Cenderung tidak mudah sakit, tapi lemah terhadap udara dingin
  • Romantis, tapi susah mengungkapkan cinta
  • Menyukai anak
  • Orang rumahan
  • Setia
  • Butuh meningkatkan kemampuan sosial
  • Mudah cemburu

FEBRUARI

  • Pemikirannya abstrak
  • Menyukai realitas dan abstrak
  • Cerdas dan pandai
  • Perwatakan berubah-ubah
  • Temperamental
  • Pendiam, pemalu, dan sederhana
  • Rendah diri
  • Setia dan jujur
  • Bertekad kuat dalam mencapai tujuan
  • Mencintai kebebasan
  • Memberontak jika dihambat
  • Menyukai agresifitas
  • Terlalu sensitif dan mudah sakit hati
  • Gampang marah
  • Tidak menyukai hal-hal yang kurang perlu
  • Sangat suka berteman, tapi jarang memperlihatkannya
  • Sangat berani, tapi keras kepala
  • Ambisius
  • Ingin mewujudkan impian dan harapan
  • Tajam
  • Menyukai hiburan dan waktu santai
  • Boros
  • Belajar menunjukkan perasaan

MARET

  • Berkepribadian menarik
  • Pengasih
  • Pemalu dan tertutup
  • Penuh rahasia
  • Jujur, pemurah, dan simpatik
  • Menyukai ketenangan dan kedamaian
  • Sensitif akan kebutuhan orang lain
  • Suka melayani orang lain
  • Tidak mudah marah
  • Dapat dipercaya
  • Sangat berterimakasih dan selalu membalas
  • Pengamat dan penilai yang baik
  • Penuh dendam
  • Menyukai mimpi dan fantasi
  • Suka bertualang
  • Suka diperhatikan
  • Menyukai dekorasi rumah
  • Berbakat musik
  • Menyukai hal-hal khusus
  • Gampang berubah mood

APRIL

  • Aktif dan dinamis
  • Cepat mengambil keputusan dan suka membenci, tapi cenderung menyesal
  • Menarik dan menyayangi
  • Kuat mental
  • Menyukai perhatian
  • Diplomatis
  • Suka menenangkan
  • Ramah dan suka membantu memecahkan permasalahan
  • Berani dan tidak kenal takut
  • Cenderung suka bertualang
  • Mencintai dan menyayangi
  • Pandai membujuk dan murah hati
  • Emosional
  • Penuh dendam
  • Selalu bergerak cepat
  • Agresif
  • Memiliki memori yang kuat
  • Penggerak yang baik
  • Pandai memotivasi orang dan diri sendiri
  • Penyakit biasanya bersarang di kepala atau dada
  • Mudah sekali cemburu berat

MEI

  • Keras kepala dan keras hati
  • Berkemauan keras dan memiliki motivasi tinggi
  • Memiliki pemikiran tajam
  • Mudah marah
  • Mudah menarik perhatian orang lain dan menyukai perhatian
  • Memiliki perasaan yang dalam
  • Cantik fisik dan mental
  • Tegas
  • Mudah terpengaruh
  • Tidak butuh dimotivasi
  • Mudah dihibur
  • Sistematis (otak kiri)
  • Suka bermimpi
  • Peramal hebat
  • Sangat pengertian
  • Penyakit umumnya bersarang di leher dan telinga
  • Imajinasi tinggi
  • Kemampuan debat yang baik
  • Kemampuan fisik yang baik
  • Pernapasan lemah
  • Mencintai literatur dan seni
  • Mencintai petualangan
  • Tidak suka diam di rumah
  • Gelisah
  • Pekerja keras
  • Semangat tinggi
  • Boros

JUNI

  • Berpikir jauh dengan visi yang kuat
  • Mudah dipengaruhi dengan kebaikan hati
  • Sopan dan bertutur kata halus
  • Memiliki banyak ide
  • Sensitif
  • Berpikiran aktif
  • Ragu-ragu
  • Cenderung menunda-nunda
  • Pemilih dan cenderung hanya mau yang terbaik
  • Temperamental
  • Lucu dan suka humor
  • Suka bercanda
  • Memiliki kemampuan debat yang baik
  • Cerewet
  • Penghayal
  • Ramah
  • Patuh pada peraturan
  • Mampu menunjukkan karakter
  • Mudah disakiti
  • Mudah terserang flu
  • Suka berdandan
  • Gampang bosan
  • Pengeluh
  • Butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka hati
  • Sadar merek
  • Pengambil keputusan
  • Keras kepala
  • Mereka yang menyukaiku adalah musuh
  • Mereka yang membenciku adalah teman

JULI

  • Orang yang menyenangkan
  • Penuh rahasia
  • Susah diukur dan dimengerti
  • Pendiam, kecuali saat tegang atau ‘tersulut’
  • Bangga pada diri sendiri
  • Memiliki reputasi
  • Mudah ditenangkan
  • Jujur
  • Peduli terhadap perasaan orang lain
  • Gampang diterima
  • Ramah
  • Mudah didekati
  • Sangat emosional
  • Temperamental dan tidak dapat diramalkan
  • Gampang berubah mood dan mudah terluka
  • Cerdik
  • Sentimentil
  • Tidak pendendam
  • Pemaaf, tetapi tidak mudah melupakan
  • Tidak menyukai barang yang tidak perlu
  • Mampu membimbing orang lain, baik secara fisik maupun mental
  • Sensitif dan membentuk citra diri secara berhati-hati
  • Suka memperhatikan dan mencintai
  • Memperlakukan semua orang sama
  • Siaga dan selalu berpikiran tajam
  • Menilai orang melalui pengamatan
  • Pekerja keras

AGUSTUS

  • Suka bercanda
  • Menarik
  • Mudah membujuk dan sangat perhatian
  • Berani dan tidak kenal takut
  • Tegas dan memiliki sifat kepemimpinan
  • Tahu cara menghibur orang
  • Terlalu murah hati dan egois
  • Membanggakan diri sendiri
  • Haus pujian
  • Semangat yang luar biasa
  • Mudah marah
  • Marah jika disulut
  • Mudah cemburu
  • Pengamat yang baik
  • Selalu berhati-hati dan waspada
  • Berpikir cepat
  • Berpikir mandiri
  • Suka memimpin dan dipimpin
  • Suka bermimpi
  • Berbakat dalam bidang musik, seni, dan pertahanan
  • Sensitif, dalam cara yang kurang menyenangkan
  • Mudah jatuh sakit
  • Cenderung terburu-buru
  • Harus belajar tenang
  • Romantis
  • Mencintai dan menyayangi
  • Suka berteman

SEPTEMBER

  • Pandai membujuk dan berkompromi
  • Berhati-hati, waspada, dan teratur
  • Suka menunjukkan kesalahan orang lain
  • Suka mengkritik
  • Pendiam, namun sebenarnya pandai berbicara
  • Tenang dan pendiam
  • Baik hati dan simpatik
  • Perhatian dan sangat mendetail
  • Dapat dipercaya, setia, dan jujur
  • Dapat bekerja dengan baik
  • Sensitif
  • Pemikir
  • Ingatan kuat
  • Cerdas dan mudah dikenali
  • Harus menahan diri pada saat mengkritik
  • Mampu memotivasi diri sendiri
  • Pengertian
  • Penuh rahasia
  • Menyukai olahraga, bersantai, dan bertualang
  • Jarang menunjukkan emosi
  • Cenderung menekan emosi
  • Sangat pemilih dalam melakukan hubungan
  • Mencintai hal-hal lebar
  • Sistematis

OKTOBER

  • Suka ngobrol
  • Mencintai orang yang mencintainya
  • Suka langsung mengarah ke pusat permasalahan
  • Menarik dan pandai membujuk
  • Memiliki kecantikan luar dalam
  • Tidak suka berbohong atau berpura-pura
  • Simpatik
  • Suka memperlakukan teman seperti orang penting
  • Selalu berusaha mencari teman
  • Gampang terluka dan gampang pula ’sembuh’
  • Temperamen buruk
  • Egois
  • Jarang membantu, kecuali jika diminta
  • Penghayal
  • Sangat terpengaruh dengan pendapat pribadi
  • Tidak peduli dengan pendapat orang lain
  • Emosional
  • Cepat mengambil keputusan
  • Peramal hebat
  • Suka bertualang, seni, dan karya sastra
  • Tutur bahasa halus, suka mencintai dan menyayangi
  • Romantis
  • Gampang tersinggung dan mudah cemburu
  • Sangat perhatian
  • Suka bergerak di udara terbuka
  • Adil dan tidak berat sebelah
  • Boros dan mudah dipengaruhi
  • Mudah kehilangan rasa percaya diri

NOVEMBER

  • Banyak memiliki ide
  • Berpikiran ke depan
  • Unik dan cerdas
  • Ide yang luar biasa
  • Pemikiran tajam
  • Peramal yang hebat dan akurat
  • Dapat menjadi dokter yang hebat
  • Berhati-hati dan waspada
  • Penuh rahasia
  • Selalu ingin tahu
  • Tahu cara menggali rahasia
  • Selalu berpikir
  • Tidak terlalu cerewet, tetapi ramah
  • Berani dan murah hati
  • Sabar
  • Keras kepala dan keras hati
  • Jika ada kemauan, maka ada jalan
  • Tidak mudah goyah
  • Jarang marah, kecuali jika sengaja disulut
  • Penyendiri
  • Selalu berpikir berbeda dengan orang lain
  • Berpikiran tajam
  • Mampu memotivasi diri sendiri
  • Tidak terlalu peduli dengan pujian
  • Bersemangat
  • Bertubuh kuat dan tegar
  • Cintanya amat dalam

DESEMBER

  • Setia dan murah hati
  • Patriotis
  • Aktif terlibat dalam permainan atau interaksi
  • Kurang sabar dan terburu-buru
  • Ambisius
  • Berpengaruh dalam organisasi
  • Menyenangkan
  • Suka bersosialisasi
  • Suka dipuji
  • Suka diperhatikan
  • Suka dicintai
  • Jujur dan dapat dipercaya
  • Tidak berpura-pura
  • Mudah marah
  • Kepribadiannya mudah berubah
  • Tidak egois
  • Bangga akan diri sendiri
  • Tidak suka dikekang
  • Suka bercanda
  • Memiliki sense of humor yang bagus
  • Logis

Sumber: www.kapanlagi.com

Categories: Article Tags: