Archive

Archive for July, 2008

My Destiny

Seperti biasanya, aku hanya menunggu panggilan dan panggilan untuk mendapatkan satu pekerjaan yang tepat untukku. Bagaimana pun kerasnya usaha yang aku lakukan untuk mendapatkan itu tapi kalau pihak lain tidak meresponnya dengan baik hasilnya akan sia-sia. Entahlah, mungkin sudah jalan hidupku harus seperti ini, aku bisa apa? Yang bisa aku lakukan hanyalah bersabar dan bersabar.

Dan seperti hari ini tadi pun aku mendapatkan panggilan untuk yang kesekian kalinya. Yang ada di benakku saat ini adalah: aku takut.

Bukan takut karena satu hal mistis, tapi rasa takut yang aku rasakan ini lebih kepada posisi yang ditawarkan padaku. Seperti yang sudah aku ceritakan berulang kali bahwa aku sudah sering sekali mendapat panggilan wawancara semacam ini dan posisi yang ditawarkan padaku tidaklah seperti yang aku harapkan. Maka dari itu, hari ini dan untuk hari-hari berikutnya, aku hanya bisa berharap aku bisa mendapatkan pekerjaan dengan posisi dan job description yang benar-benar sesuai untukku—dan yang terpenting aku happy menjalani posisi itu.

Semoga!

Categories: Job Tags:

Just Think

Aku selalu ingin berpikir tentang segala sesuatu yang seharusnya tidak perlu kupikirkan. Tapi entah kenapa, otakku selalu berputar disitu-situ saja, tak pernah melakukan hal lain selain kembali ke ingatan masa lalu.

Kadang aku merasa bingung dengan cara kerja otakku. Meski otak, hati, dan pikiran merupakan satu kesatuan dari tubuhku, tapi aku merasa mereka bekerja sendiri-sendiri—tanpa aku perintah.

Pemikiran yang aku lakukan bukanlah suatu pemikiran baru yang membantuku keluar dan pergi dari masa lalu. Tapi sebaliknya, pemikiran itu justru mengembalikan aku kesana saat aku benar-benar tidak ingin kembali. Haruskah aku kembali? Atau, tidak bisakah aku sebentar saja merasakan udara kebebasan tanpa aku harus mengeluarkan airmata?

Aku capek menangis..!

Seseorang itu..

Seseorang yang datang dari masa lalu..

Seseorang yang sudah ingin aku lupakan..

Seharusnya, aku memang sudah harus melupakannya. Tapi, bayangan-bayangan itu selalu kembali. Aku tidak bisa dan aku tidak sanggup jika aku harus hidup dengan bayang-bayang itu. Aku.. hanya ingin bebas. Bebas dan lepas dari masalah apapun. Bebas dan lepas dari masa lalu.

Dan, aku hanya berpikir, “Apakah keputusanku tepat?”

Categories: Love Tags:

Only in My Memories

Ingatan itu kembali.

Ingatan tentang masa lalu itu kembali seiring dengan kembalinya aku kesana—ke dunia yang dulu pernah aku jalani dengan seseorang yang kini entah berada dimana. Aku sendiri pun tak tahu pasti dunia apa yang sebenarnya aku jalani itu, yang jelas dunia itu adalah sebuah dunia yang mampu memutarbalikkan kehidupanku seratus delapan puluh derajat. Dunia yang mampu mempengaruhi pemikiranku, juga alam bawah sadarku.

Dan sekarang, setelah aku kembali kesana.. otakku dipaksa untuk mengulang masa-masa itu. Tapi tentu saja, keadaannya sekarang sudah jauh berbeda dibandingkan dulu. Karena.. aku kembali sendirian, tanpa siapapun yang bersamaku. Mungkin, kalau aku kembali bersamanya, keadaannya bisa jauh lebih berbeda lagi. Entahlah.. berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Yang jelas, aku meninggalkan dunia itu dulu bersamanya, dan sekarang aku kembali tanpanya—meski sebelumnya aku pernah berjanji aku takkan kembali lagi kesana, karena hanya akan mengingatkanku padanya. Tapi nyatanya, sekarang aku kembali.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa aku kembali kalau jelas-jelas hal itu hanyalah mengingatkanku pada masa-masa sedih dan dunia itu jelas-jelas merupakan dunia yang penuh dengan tangis dan cucuran airmata?

Jawabannya adalah: Tidak Tahu.

Aku ingin kembali karena aku rindu, itu saja. Tanpa beban, tanpa paksaan, dan tanpa apapun. Semuanya murni keinginanku. Yang ada di benakku adalah sesuatu yang ditakuti apabila tidak dijalani, maka selamanya akan menjadi sesuatu yang menakutkan. Tapi sebaliknya, kalau apa yang menurut kita menakutkan jika dijalani dengan segenap keberanian, maka hal itu tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu ditakutkan. Hanya itu..

Yang ingin aku lakukan—terutama untukku—sekarang adalah, aku tidak ingin apapun bisa mempengaruhi pola pikirku lagi. Aku ingin, sekali saja, bisa merasakan keyakinan penuh dalam hatiku bahwa aku bisa melakukan apapun tanpa meminta bantuan siapapun jika aku sendiri masih mampu melakukannya seorang diri.

Categories: Life Tags: ,

Kerinduanku

Kerinduan yang aku rasakan sekarang bukan soal hubunganku dengan seseorang, melainkan kerinduanku terhadap menulis.

Aku sangat rindu menulis..

Dalam bulan Juli ini saja bisa dihitung berapa kali aku menulis di blog kesayanganku ini. Bukan karena aku malas, tapi lebih karena aku tak punya banyak waktu luang untuk melakukannya. Dan parahnya, aku tak punya koneksi internet pribadi di rumah. Jadi, walaupun ingin aku harus bisa menahannya.

Tapi, aku tak akan pernah ingin untuk berhenti menulis—sampai kapan pun..

Categories: Life Tags:

Bosan..

Hmpff, bosan..!

Berhari-hari aku hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun. Aku bosan. Apalagi aku tipe orang yang gampang sekali merasa bosan. Aku harus senantiasa melakukan sesuatu yang berbeda tiap harinya. Tapi, apa yang bisa aku lakukan sekarang? Tak ada apapun yang bisa aku kerjakan—selain makan dan tidur.

Mm.. mungkin sesekali aku keluar jalan-jalan dengan kekasihku hanya untuk mencari makan dan mencari sesuatu untuk dibeli. Atau mungkin aku juga jalan-jalan dengan temanku hanya untuk berbagi cerita tentang segala sesuatu yang terjadi di hari-hari belakangan mengingat aku dan dia selama ini tidak pernah bertemu sejak dia lulus kuliah dan aku pun juga lulus beberapa bulan setelahnya. Untuk itu, acara ‘temu kangen’ seperti ini sangat penting buatku.

Mungkin beberapa tahun kemudian, aku sudah sangat jarang bertemu dengan teman-temanku. Karena itulah, selagi aku bisa, aku harus melakukan apa yang aku bisa itu—meski apa yang telah aku sebutkan tadi belum cukup untuk bisa membunuh rasa bosanku.

Categories: Job Tags:

Dunia Maya

Banyak orang berpikir bahwa dunia maya tak sama dan takkan pernah sama dengan dunia nyata, tapi tidak bagiku. Dunia maya bagiku sama seperti dunia nyata. Mungkin lebih nyata dibandingkan dunia nyata yang sebenarnya. Aku bisa berpendapat demikian karena aku punya alasan. Satu-satunya alasan yang paling masuk akal adalah karena aku kesepian.

Ya, aku kesepian..

Tak banyak yang bisa aku lakukan di dunia nyata, selain mencari sesuatu yang bisa membuatku bahagia dan tidak pernah merasa bosan. Aku senantiasa berkutat dengan orang-orang yang ’sealiran’ denganku. FYI, aku tidak suka berbicara dengan orang yang tidak mengerti arah pembicaraanku dan aku harus mengulang-ulang perkataan itu untuk mencapai satu arti. Aku tipe orang yang simple dan tidak banyak tingkah, begitu pula dalam tutur bahasaku.

Sementara dalam dunia maya, aku bisa melakukan apapun yang aku suka. Di satu sisi aku tipe orang yang simple dan tidak banyak tingkah, tapi di sisi lain aku juga seorang pemimpi. Sang pemimpi ulung yang berharap apapun yang diangankannya bisa menjadi kenyataan.

Entahlah, kenapa aku bisa seperti ini. Jika aku melihat teman-temanku yang notabene-nya memiliki karakteristik yang sama denganku—yang juga memiliki impian dan keinginan—aku rasa tak separah aku.

Memang aku akui bahwa kemauanku sangat keras, dan aku tidak ingin melakukan suatu pekerjaan dengan setengah-setengah, terlebih ketika hal itu nantinya akan mengakibatkah hasil yang akan aku dapatkan juga tidak bisa maksimal. Sebisa mungkin, selama aku mampu, aku akan melakukan setiap pekerjaan yang diberikan padaku bisa terselesaikan dengan sempurna.

Argumen diatas cukup menjelaskan mengapa aku suka ‘hidup’ di dunia maya—dunia yang telah banyak memberiku ketenangan. Aku selalu menginginkan hasil yang sempurna, walau mungkin ada dari sebagian pekerjaan yang aku lakukan hasilnya tak sesempurna yang aku bayangkan. Aku sadar, karena kemampuan yang aku miliki mungkin kurang superior untuk menghasilkan output yang sempurna. Untuk itulah, setiap kali aku merasakan beban yang aku tanggung untuk mencapai kata sempurna itu mengganggu pikiranku, ‘diary dunia maya’ selalu dapat menampung keluh kesahku tanpa ada sedikit pun keluhan yang diucapkan. Selain itu, mungkin aku pernah mengatakan bahwa aku sangat menjunjung tinggi privacy, dan ‘diary dunia maya’ tak mungkin membongkar privacy-ku kepada pihak manapun—tanpa seijinku..

Categories: Life Tags:

Ketahanan Iklim

Akhir-akhir ini, iklim di bumi semakin tidak menentu. Hujan dan panas bisa datang sewaktu-waktu. Hal ini diakibatkan oleh pemanasan global atau yang sering disebut dengan global warming. Saat diramalkan hujan tak lagi turun di bulan Mei, ternyata dengan santainya titik-titik air yang berasal dari air laut yang menguap itu jatuh membasahi bumi dan mematahkan dugaan setiap orang. Kini, iklim dan cuaca tak lagi dapat diramalkan. Keadaan telah berubah. Banyak diantaranya yang tidak bisa dilihat hanya dengan menggunakan peramalan.

Kenyataan bahwa ternyata ketahanan iklim sangat diperlukan untuk mengembalikan bumi yang menangis diakibatkan oleh ulah manusia itu sendiri, telah membuat semua orang tersadar.

Penghijauan..

Ya, hanyalah penghijauan yang bisa menyelamatkan keadaan iklim yang sudah semakin parah menghantui setiap insan manusia di bumi ini. Dengan penanaman pohon, maka setidaknya akan sedikit mengurangi keganasan iklim yang semakin tidak menentu.

Iklim tidak bisa dianggap remeh, dikarenakan iklim dapat berbalik menjadi musuh bagi setiap insan manusia bumi apabila dibiarkan. Atas alasan itulah, mengapa program penghijauan harus terus dilakukan untuk mempertahankan iklim di alam ini agar tidak semakin parah.

Selain alasan itu, iklim yang tidak menentu tidak hanya membuat cuaca berubah-ubah melainkan juga dapat membuat keadaan alam jadi simpang-siur. Semua apapun yang ada di bumi ini hanya tergantung dari iklim. Sebagai contoh adalah hasil pertanian berupa sayuran yang hanya tumbuh pada musim hujan atau buah-buahan yang hanya tumbuh pada musim kemarau. Apabila iklim menjadi tidak menentu seperti saat ini, apa yang akan dilakukan petani agar mereka tidak merugi?

Kini, keadaan sudah semakin kacau dan tidak mungkin bisa kembali seperti dulu disaat iklim masih ‘berjalan di rel’ nya—disaat iklim masih sesuai dengan waktu yang seharusnya. Yang bisa dilakukan sekarang hanyalah bagaimana cara agar iklim ini bisa bertahan—atau lebih bagus lagi jika berkurang—dan tidak menjadi semakin parah di kemudian hari. Semuanya hanya tergantung pada manusia sebagai faktor utama penentu dan pengendali keadaan alam di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Foto: www.greenpeace.org

Pengendalian Emosi

Satu hal yang ingin aku tanyakan kepada diriku sendiri, “Kenapa aku tidak pernah bisa mengendalikan emosi?”

Bagaimana pun kerasnya aku belajar untuk mengendalikannya, aku tetap tidak bisa. Kadang aku merasa benci dengan sifat burukku itu. Terkadang pula aku ingin menjadi orang lain dengan segudang sifat positif dan tanpa cela sedikit pun. Tapi, itu tidak mungkin—dan aku tahu itu, karena setiap manusia diciptakan dengan karakteristik yang berbeda-beda. Hanya saja aku kurang bisa menerima keadaanku yang seperti ini.

Entahlah..

Banyak dari mereka yang mengkritik sifat ini. Mereka hanya bisa memandang aku dari sana tanpa ingin tahu bagaimana aku yang sebenarnya. Aku hanya manusia biasa yang selalu punya kesalahan, dan aku juga cuma cewek biasa yang selalu ingin menutupi segala kekuranganku dengan segela kelebihan yang aku miliki. Tapi entah kenapa, semuanya jadi berantakan saat aku berusaha untuk menutupi kekurangan-kekurangan itu.

Pertengkaran itu terjadi karena aku bersikeras dengan pendirianku yang aku sendiri pun tahu bahwa apa yang aku pertahankan itu jelas-jelas salah. Entah apa yang merasukiku waktu itu sehingga aku jadi superkeraskepala dan ingin menang sendiri. Emosiku tiba-tiba saja sudah sampai di ubun-ubun dan meledaklah amarah itu—tanpa bisa aku kendalikan. Biasanya aku yang pertamakali meminta maaf saat aku sadar bahwa kesalahan ada padaku. Tapi saat itu, mulutku seakan terkunci rapat tatkala hatiku ingin mengucap satu kata maaf.

Setelah gagang telepon aku letakkan kembali di tempatnya, amarahku tiba-tiba saja surut dan mereda. Saat itulah beribu rasa sesal menyerangku, membuatku ingin mengulang waktu. Tapi itu sangat mustahil aku lakukan. Yang bisa aku lakukan hanyalah meminta maaf dan memohon sebuah kata pengertian. Memang tidak mudah, tapi aku harus berusaha—hingga aku berhasil dimaafkan.

Apa yang aku harapkan pun terkabul. Dia mau memaafkanku dan bisa mengerti aku. Aku sangat bersyukur memiliki kekasih seperti dia. Dalam hati aku berjanji bahwa aku tak akan mengulanginya lagi. Mungkin kejadian seperti ini masih akan kembali terulang, tapi aku akan mencoba untuk bisa lebih mengendalikan emosiku. Sehingga, pertengkaran seperti beberapa waktu lalu tak perlu terjadi lagi.

Categories: Love Tags: