Archive

Archive for August, 2008

Aku Bingung

Aku tidak tahu akan apa yang ada di pikiranku sendiri. Aku bingung memikirkannya. Begitu banyak yang mempengaruhiku untuk mengikuti apa yang mereka pikirkan. Tapi, aku hanya berusaha untuk mengikuti kata hatiku sendiri—meski mungkin aku masih membutuhkan orang-orang itu untuk memberiku pendapat.

Entahlah.. apakah yang aku sampaikan ini benar ataukah salah, tapi yang jelas, aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi seseorang yang bisa mandiri dan tidak terlalu menggantungkan diri kepada orang lain. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, yang bebas dan inspiratif.

Aku tahu, mereka mungkin ingin yang terbaik untukku. Tapi, aku juga ingin sekali saja memenuhi keinginan hatiku untuk berusaha memenuhi akan janji yang telah aku buat sendiri. Aku tidak ingin ingkar.

Dan, semoga aku bisa terus seperti ini..

Categories: Job, Life Tags:

Last August

Selama bulan Agustus—hingga akhir Agustus ini—hari-hariku berlalu begitu cepat. Entah karena aku yang tak pandai memanfaatkan waktu atau memang waktu berjalan begitu cepat—bagiku. Aku sadar bahwa aku tak bisa begitu saja membuang-buang waktu dengan percuma, karena bagi kebanyakan orang dan kata orang jaman dulu, waktu adalah uang. Tapi, apa pula yang bisa aku lakukan dengan waktu itu kalau memang aku tak punya kesibukan apapun? Haruskah aku mencari perkara disana-sini hanya untuk memanfaatkan waktu yang seharusnya tidak perlu aku manfaatkan untuk hal-hal yang tidak berguna seperti itu? Aku hanya capek memikirkan hari-hariku yang berlalu dengan percuma seperti ini.

Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, aku tidak ingin dan tidak pernah ingin membuang-buang waktuku dengan percuma tanpa ada apapun yang aku lakukan. Aku… selalu ingin melakukan aktivitas—yang seperti dibilang oleh banyak orang—bisa membunuh waktu. Ya, aktivitas apapun itu, asalkan aku tidak menganggur.

Aku pribadi pun tidak pernah berhenti untuk memikirkan cara untuk mengisi waktu, hanya saja aku tak tahu bagaimana caranya. Aku juga tak ingin merepotkan orang lain hanya untuk membantuku mencarikan aku pekerjaan. Selama aku bisa, aku akan melakukannya sendiri, semampuku.

Sekarang, aku hanya berharap pada sebuah keadilan dan mengharap satu kesempatan bagiku untuk menjalankan satu kewajiban yang seharusnya aku lakukan.

Categories: Job Tags:

I Still Waiting

Aku masih tetap menunggu akan datangnya sebuah kepastian yang aku sendiri tak tahu akan sampai kapan? Semuanya serba tidak pasti, dan aku bak manusia yang kehilangan jarum diantara tumpukan jerami. Entah bisa menemukan jarum itu atau tidak. Mungkin perbandingannya adalah 1:1000. Jadi, ada sekitar seribu kemungkinan aku bisa menemukan jarum itu. Just like that!

Mencari satu pekerjaan yang cocok memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Aku baru sadar itu. Sekaligus, aku baru sadar kalo cari duit itu susah. Adalah suatu kebodohan kalo dulu aku tidak menghargai nilai suatu uang. Mungkin sekaranglah saatnya aku harus merasakan akibat dari apa yang aku lakukan dulu, dimana aku sangat tidak bisa menghargai arti uang. Sungguh suatu kebodohan kan?

Namun, bagaimana pun juga aku harus bisa mengubah semuanya. Mengubah semua yang telah aku lakukan dulu menjadi sesuatu yang bisa berguna untukku di masa depan. Aku tahu, mudah bila hanya berkata-kata, tapi kenyataannya tidak demikian. Tapi, aku tahu pasti, suatu hari nanti aku akan lebih bisa menghargai semua yang aku miliki—lebih dibanding aku menghargai diriku sendiri.

Categories: Job Tags:

Sebuah Penantian

Hmm.. sampai detik ini aku masih tetap menunggu akan datangnya suatu kepastian. Tapi, aku tak terlalu memusingkannya. Semua aku jalani dengan santai dan tenang. Sebenarnya, itu bukan style-ku (kalau boleh jujur). Aku tipe orang yang gampang merasa gugup dan tidak pernah bisa tenang dalam menghadapi sebuah situasi, terutama jika situasi itu membutuhkan sebuah pemikiran yang detail dan cepat. Aku hanya belajar dari seseorang bahwa aku harus tetap tenang dalam menghadapi apapun. Kalau aku bisa tenang dalam menghadapi sesuatu, maka sesuatu itu akan berjalan lancar dan mungkin bisa melebihi dari apa yang kita harapkan. Hanya itu yang aku tahu—dan aku berusaha menerapkannya dalam kehidupanku.

Mungkin, aku sedikit berhasil dalam menerapkan strategi itu. Buktinya, hingga detik ini aku tak pernah sekali pun merasa khawatir akan sesuatu. Semuanya aku anggap biasa saja—walau terkadang aku masih kerap merasakan kekhawatiran yang cukup berarti.

Tapi, aku pribadi merasa bahwa aku memang harus belajar hal-hal semacam itu agar aku bisa lebih tenang dalam menghadapi suatu permasalahan. Walau aku harus terus bersabar dan bersabar, aku masih tetap bisa tenang menghadapi semuanya—dan semoga aku bisa terus mempertahankannya.

Categories: Job Tags:

Hari-hariku

Pagi menjelang siang, siang menjelang sore, sore menjelang malam, hingga malam menjelang pagi lagi, terasa begitu lambat bagiku, meski aku tahu banyak orang berpikir bahwa hari-hari mereka berjalan sangat cepat. Mungkin selama ini aku memang tak pernah sekali pun menghitung hari-hariku dan menghitung berapa kali aku bernapas dalam sehari. Tapi entah kenapa sejak beberapa hari ini aku begitu telaten menghitung semuanya.

Aku tahu. Mungkin ini dikarenakan tak ada apapun yang aku lakukan di rumah. Sehari-hari, aku hanya duduk diatas sofa sambil memegangi remote TV dan memencet-mencet tombol mencari satu channel yang menurutku bagus untuk aku tonton. Setelahnya, mungkin aku pergi ke kamar, membaca novel, dan kalau sudah mengantuk aku akan memejamkan mata dan tidur. Hahaha, siapapun yang melakukan aktivitas seperti yang aku lakukan itu akan mengira kalau aku adalah seorang gadis yang malas dan tidak punya kerjaan lain selain nonton TV, makan, dan tidur. Iya, kan?

Memang benar! Aku memang tak punya kerjaan lain selain itu. Jadi, aku harus bagaimana? Sebenarnya (menurut aku pribadi), aku paling benci menganggur dan tak melakukan apa-apa. Karena, aku sangat suka beraktivitas dan melakukan sebuah petualangan. Semakin banyak yang bisa aku lakukan aku akan semakin suka, dan yang terpenting adalah satu: tidak berdiam diri di satu titik seperti yang aku lakukan sehari-hari saat ini.

Tapi, aku tidak boleh memaksakan sesuatu apabila satu hal yang aku inginkan itu memang bukan untukku. Contohnya, pekerjaan. Walaupun aku sudah dipanggil beberapa kali oleh sebuah pekerjaan tapi kalau pekerjaan itu memang bukan untukku, apakah aku harus memaksa? No, No, That’s Not My Style! Aku adalah tipe orang penyabar. Aku selalu bisa menerima keadaan, karena aku percaya, setiap orang di dunia ini memiliki jalan yang sudah digariskan sendiri-sendiri. Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa serta memohon yang terbaik. That’s All..

Categories: Life Tags:

Hanya Sebuah Waktu

Inilah saatnya dimana aku harus bisa menjadi seseorang yang lain yang lebih dewasa daripada sebelumnya. Aku tidak bisa terus-terusan menjadi Dhanis yang manja, yang suka bergantung pada orang lain, yang egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Mulai dari sekarang aku harus bisa berubah. Perubahan dalam arti secara keseluruhan. Aku pun tak ingin terus seperti ini.

Sebelum ada kepastian, aku tak ingin berbicara panjang lebar. Yang aku tahu, aku hanya ingin berubah, itu saja. Jika suatu saat nanti aku harus berbicara, aku akan mengatakannya. Aku bukan tipe orang yang suka menutup-nutupi apapun. Sebisa mungkin aku berbicara apa adanya dan sesuai dengan kenyataan. Namun, saat aku tidak boleh mengatakan apapun, aku tak akan berbicara. Selain aku suka berbicara apapun kepada siapapun, aku juga salah satu orang yang bertipe patuh pada peraturan.

Selama menunggu waktu yang tepat untuk berbicara itu, aku hanya bisa berharap agar segala sesuatunya bisa berjalan dengan lancar. Amin!

Categories: Love Tags: , ,