Archive

Archive for September, 2008

That's Me, That's My Job!

Yippieee..! Akhirnya aku bisa juga mendapatkan pekerjaan itu! Pekerjaan di bidang forwarding yang aku inginkan. Walau tak mudah bagiku untuk mempelajari semuanya, tapi setidaknya sekarang aku sudah punya pekerjaan, dan bukan lagi seorang pengangguran.

Hari pertamaku bekerja disana sangatlah tidak enak. Bukan tidak enak suasananya, tapi karena aku yang belum bisa menyesuaikan diriku dengan keadaan disana. Tentu saja, selama ini aku selalu berkutat dengan dunia pendidikan yang sudah sangat kental dengan tawa canda dan gurauan konyol. Tapi tidak dengan dunia kerja yang kini aku hadapi. Setiap hari selalu saja ada keributan. Keributan-keributan khas dunia kerja yang membuatku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya diam menyaksikan orang-orang itu—yang notabene-nya adalah teman-temanku sendiri—berlalu-lalang kesana-kemari hanya untuk meyakinkan bahwa dokumen-dokumen yang telah dibuat tidak ada yang salah ataupun terselip.

Aku mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menyesuaikan diri dengan semuanya. Tapi, aku yakin aku pasti bisa melakukannya. Untung saja dalam menjalani proses itu, aku dibantu oleh seorang teman. Dia selalu mengajariku apa-apa yang harus aku lakukan dalam melayani sebuah order atau pesanan. Maklum saja, perusahaanku adalah jenis perusahaan forwarder, dimana sistem kerjanya adalah menerima order dari perusahaan lain yang akan melakukan ekspor ke sebuah negara. Dan, tak hanya satu order saja yang diterima dalam satu hari. Setiap harinya, selalu ada bermacam-macam order yang berasal dari bermacam-macam perusahaan dan yang ditujukan ke berbagai macam negara!

Aku akan menjalani apapun yang aku bisa disana, karena aku tahu aku mampu. Hanya mungkin sekarang aku belum terbiasa. Tapi, beberapa waktu ke depan aku akan bisa menjalankan semua proses kerja itu dengan baik. Because, that’s me and that’s my job!

Categories: Job Tags:

That’s Me, That’s My Job!

Yippieee..! Akhirnya aku bisa juga mendapatkan pekerjaan itu! Pekerjaan di bidang forwarding yang aku inginkan. Walau tak mudah bagiku untuk mempelajari semuanya, tapi setidaknya sekarang aku sudah punya pekerjaan, dan bukan lagi seorang pengangguran.

Hari pertamaku bekerja disana sangatlah tidak enak. Bukan tidak enak suasananya, tapi karena aku yang belum bisa menyesuaikan diriku dengan keadaan disana. Tentu saja, selama ini aku selalu berkutat dengan dunia pendidikan yang sudah sangat kental dengan tawa canda dan gurauan konyol. Tapi tidak dengan dunia kerja yang kini aku hadapi. Setiap hari selalu saja ada keributan. Keributan-keributan khas dunia kerja yang membuatku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya diam menyaksikan orang-orang itu—yang notabene-nya adalah teman-temanku sendiri—berlalu-lalang kesana-kemari hanya untuk meyakinkan bahwa dokumen-dokumen yang telah dibuat tidak ada yang salah ataupun terselip.

Aku mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menyesuaikan diri dengan semuanya. Tapi, aku yakin aku pasti bisa melakukannya. Untung saja dalam menjalani proses itu, aku dibantu oleh seorang teman. Dia selalu mengajariku apa-apa yang harus aku lakukan dalam melayani sebuah order atau pesanan. Maklum saja, perusahaanku adalah jenis perusahaan forwarder, dimana sistem kerjanya adalah menerima order dari perusahaan lain yang akan melakukan ekspor ke sebuah negara. Dan, tak hanya satu order saja yang diterima dalam satu hari. Setiap harinya, selalu ada bermacam-macam order yang berasal dari bermacam-macam perusahaan dan yang ditujukan ke berbagai macam negara!

Aku akan menjalani apapun yang aku bisa disana, karena aku tahu aku mampu. Hanya mungkin sekarang aku belum terbiasa. Tapi, beberapa waktu ke depan aku akan bisa menjalankan semua proses kerja itu dengan baik. Because, that’s me and that’s my job!

Categories: Job Tags:

Aku Lelah

Dua hari yang lalu, aku mendapat telepon yang memintaku untuk datang wawancara di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pelayaran. Aku sangat senang karena akhirnya aku bisa ‘mengontrak’ satu tempat di tempat yang aku inginkan. Aku baru sadar bahwa selama ini pekerjaan yang aku cari adalah pekerjaan yang berkaitan dengan bidang pelayaran atau forwarder. Ini mungkin karena aku ingin menggali pengalaman sebanyak mungkin tentang desain pekerjaan di bidang itu, disamping aku merasa punya kewajiban untuk meneruskan apa yang telah dirintis ayahku sejak aku menghembuskan napasku untuk yang pertamakalinya.

Aku adalah anak sulung di keluargaku, dan aku masih memiliki dua orang adik yang masih bergantung pada orangtua. Tentu saja, aku sangat-sangat ingin meringankan sedikit beban orangtuaku yang seharusnya sudah tidak perlu lagi menanggung beban atas diriku. Aku sudah sepantasnya untuk mencari penghasilan sendiri. Bahkan, lebih baik lagi kalau aku bisa membantu mereka dan juga adik-adikku.

Bagiku cukup berat, karena seperti diketahui, tak mudah menjadi anak sulung. Tanggungjawab itu sangat besar artinya, dan sekarang aku sedang memikulnya. Ayahku tak mungkin selamanya muda. Suatu saat nanti beliau akan tua. Dan sebelum waktu itu tiba, aku akan berusaha untuk memenuhi apa yang beliau amanatkan kepadaku.

Hanya saja, aku lelah. Aku terlalu lelah untuk datang wawancara jika nantinya aku tak dipanggil lagi untuk memulai hari pertama kerja. Artinya, aku hanya sampai pada tahap wawancara. Aku lelah untuk itu—dan terlalu lelah untuk memulainya. Aku ingin segera mengakhiri masa ‘paceklik’ pekerjaan dalam hidupku.

Aku hanya bisa berharap jalanku akan lancar nanti. Tak ada lagi penyesalan, untuk apapun. Aku hanya ingin membuat orangtuaku bangga dengan apa yang aku lakukan. Ingin membalas apa yang telah mereka korbankan untukku selama masa perkuliahanku yang tak bisa dibilang singkat. Ingin mempersembahkan sesuatu yang terindah bagi mereka. Apapun itu.

Categories: Job Tags:

Recruitment

Beberapa jam yang lalu, aku diberi informasi oleh temanku bahwa ada recruitment karyawan yang dilaksanakan oleh Bapenas. Tapi, entah kenapa waktu aku tulis alamatnya di bagian atas panel browse, website yang aku maksud nggak mau muncul. Apa alamatnya salah ya? Aku nggak tahu sih, karena alamatnya emang aku nggak punya.

Tapi, aku tahu aku nggak boleh gampang menyerah atas apa yang udah aku lalui sejauh ini. Pengorbanan itu akan terus berjalan yang aku tidak tahu entah sampai kapan. Banyak orang bilang bahwa pengorbanan yang tulus dan ikhlas akan mendatangkan kebahagiaan yang lebih dari apa yang kita bayangkan. Amin! Semoga saja itu benar. Aku percaya apa kata mereka, karena walaupun aku belum pernah benar-benar mengalaminya, setidaknya aku pernah merasakan sesuatu dari apa yang pernah aku korbankan.

Seperti halnya artikel yang pernah aku baca dari sebuah majalah bahwa setiap manusia harus percaya akan kemampuan dirinya sendiri. Karena hanya dengan itulah, apapun yang dilakukannya akan mendatangkan hasil yang diharapkannya—bahkan mungkin lebih. Dan, aku percaya itu..

Categories: Life Tags:

Dunia ini Nggak Adil

September 18, 2008 Sotyasari Dhanisworo 1 comment

Pagi tadi secara nggak sengaja aku baca koran yang memberitakan tentang fenomena ijazah palsu di kalangan masyarakat—yang sebenarnya udah ada sejak dulu. Betapa terkejutnya aku setelah membaca berita yang nggak lebih dari sepuluh menit itu. Ternyata, orang-orang bisa dengan mudah mendapatkan surat keterangan lulus tanpa harus duduk di bangku kuliah dan mendengarkan dosen berceramah. Oh, My God!

Aku bukannya apa-apa. Surat atau ijazah kelulusan itu bisa aja didapat oleh siapa saja asalkan ada duit. Tapi, yang nggak bisa aku terima adalah kenapa orang bisa dengan mudah mengambil jalan itu dan nggak mikirin gimana susahnya kuliah? Fenomena seperti itu udah membuktikan bahwa ilmu bukan lagi satu-satunya hal yang dipentingkan masyarakat, melainkan uang. Gimana nggak? Orang-orang berduyun-duyun ingin mendapatkan ijazah itu sebenarnya untuk apa sih? Untuk mendapatkan pekerjaan, kan? Dan dengan mendapat pekerjaan, maka orang itu akan mendapat gaji berupa uang tunai. Serta, adanya ijazah strata satu, strata dua, ataupun strata tiga itu juga sebenarnya untuk apa? Untuk kenaikan jabatan, kan? Dan dengan naiknya jabatan tentu gaji—yang juga berupa uang tunai—yang akan didapat pun juga akan meningkat. Astaga! Begitu rendahnyakah nilai pendidikan di mata orang-orang itu?

Kalau aku mau pun, aku juga bisa saja seperti mereka. Tapi, aku nggak mau. Aku nggak ingin mempersingkat hidupku, masa remajaku, masa-masa sekolahku, hanya demi mendapatkan selembar kertas bercap ‘lulus’. Aku cuma ingin merasakan masa-masa indah sekolah, masa-masa sulit semasa kuliah, yang bagiku akan meninggalkan kenangan tersendiri dalam hidupku.

Aku juga tidak habis pikir dengan orang-orang yang memutuskan untuk mengambil jalan pintas itu. Mereka tidak pernah merasakan sulitnya sekolah, tidak pernah merasakan pahit getirnya kuliah, dan tidak pernah merasakan tangisan darah saat mengerjakan tugas akhir, tapi dengan mudah mereka diterima di instansi pekerjaan yang mereka inginkan. Sementara mereka-mereka yang serius menjalankan kuliah sampai (katakanlah) titik darah penghabisan, sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan, hingga akhirnya memutuskan untuk menganggur. Dunia ini benar-benar nggak adil! Sangat nggak adil!

Saat membaca berita itu, hatiku benar-benar miris bagai diiris-iris. Pedih tak tertahankan. Rasanya ingin menangis pun aku tak bisa karena nyatanya tak ada seorang pun yang bertindak tegas atas fenomena yang jelas-jelas merugikan masyarakat itu. Aku benar-benar kecewa. Dan entah sampai kapan aku bisa menerima fenomena seperti ini.

Kalau begitu caranya, untuk apa didirikan sekolah, untuk apa didirikan kampus, untuk apa ada guru, dan untuk apa ada dosen, kalau semuanya bisa dilakukan tanpa adanya mereka dan tanpa penyebaran ilmu yang cukup berarti? Aku hanya menyesalkan semua itu, kenapa pemerintah Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa?

Yang jelas, aku menegaskan bahwa dunia ini benar-benar nggak adil! Aku hanya tahu perbuatan tidak adil seperti itu pasti ada balasan yang setimpal, entah apa. Dunia boleh saja tidak adil, tapi Tuhan selalu adil terhadap siapapun di dunia ini, tanpa terkecuali.

Categories: Life Tags:

Sesuatu itu Tak Berubah

Walau mungkin aku telah sedikit melupakan apa yang pernah aku alami dulu, tapi aku tidak mungkin bisa melupakan apapun yang menurutku cukup membuatku menghabiskan waktuku dengan cucuran airmata. Ya, bermili-mili airmata yang dulu pernah aku persembahkan kepada bumi karena seseorang yang kini (mungkin) telah berubah dan (mungkin juga) belum berubah.

Sesuatu yang aku anggap sedikit berubah adalah sikap dan perilakunya yang (menurutku) akhir-akhir ini agak aneh. Entahlah, aku mungkin terlalu berprasangka. Tapi, apa yang aku katakan memang benar. Setidaknya setahuku, dia dulu tak seperti itu. Dan aku anggap ada yang tidak berubah darinya adalah dia masih juga suka menulis. Blog itu—blog yang entah dibuatnya sejak kapan—selalu ramai dari hari ke hari. Buah pikiran murni yang selalu dituangkannya dalam bentuk kata dan kalimat.

Tapi, aku tak terlalu mempedulikannya sekarang. Itu juga atas permintaannya—dan keinginanku. Kalau dulu mungkin aku harus berderai-derai airmata melihatnya begini dan melihatnya begitu, juga bersedih karena harus melakukan sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan, yang tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan—setidaknya aku pernah peduli padanya.

Dan sekarang, aku tidak bisa lagi melakukan semua itu—aku tahu. Sekarang, aku harus lebih bisa berkonsentrasi dengan diriku dan masa depanku sendiri. Mungkin dia tahu itu. Karenanya, kenapa sekarang dia berubah padaku. Mungkin dia tidak ingin lagi mengulang sesuatu yang bisa mengacaukan segalanya. Mungkin juga dia tidak ingin lagi melihatku, dimana baginya aku hanyalah potret dari seonggok kesedihan yang hanya meninggalkan siluet hitam di kehidupannya. Atau, entahlah.. hati orang siapa yang tahu, kan?

Apapun yang dilakukannya sekarang, aku hanya bisa melihat tanpa bisa berkata-kata. Hanya bisa tersenyum tanpa bisa bernapas. Hanya inginkan semua yang terbaik untuknya. Dan, hanya bisa berharap semoga dia bisa kembali menemukan kebahagiaan yang pernah hilang dalam hidupnya.

Categories: Life Tags: , ,

Back to Usual

Hari ini aku kembali mencoba peruntunganku dalam mendapatkan sebuah pekerjaan. Dengan berbekal seluruh kemampuan yang aku miliki—yang tak seberapa—aku mencoba untuk menguji kemampuan itu pada sebuah bank yang cukup ternama di Indonesia. Mungkin dewi fortuna belum berpihak padaku, karena ternyata pembukaan lowongan untuk perekrutan karyawan baru telah berakhir sejak bulan Agustus kemarin.

Yah, akhirnya aku harus bisa menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Aku kembali pulang dengan tangan hampa, dalam artian aku tidak mendapatkan apa-apa dari pencarian itu. Tidak apa-apalah.. yang penting aku bisa bersabar, itu sudah cukup bagiku. Aku sudah terbiasa menghadapi kegagalan. Dan aku sudah kenyang akan kata-kata ‘gagal’.

Mungkin suatu hari nanti aku akan mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang telah aku usahakan hari ini dan hari-hari sebelumnya. Kuncinya, aku hanya harus bersabar.

Categories: Job Tags:

Pengalaman Kerja

Untuk pertama kalinya aku benar-benar merasakan bagaimana rasanya bekerja. Tapi, apa yang terjadi padaku kemarin sangat-sangat tidak wajar, terutama bagi seorang wanita. Dalam pekerjaan itu aku masuk pukul 9 pagi dan pulang pukul 9 malam! Ya ampun, mana ada orang kerja sehari 12 jam? Ya, itulah aku! Tapi, aku nggak bisa terus-terusan kerja seperti itu. Untuk apa? Kalau aku dibayar 10 juta, baru aku mau, tapi nggak mungkin kan? Dan walaupun aku dibayar 10 juta, aku tetap nggak mau. Karena selalu ada yang harus dikorbankan, yaitu: waktu. Jadilah, pengalaman kerja kemarin adalah pengalaman kerja pertamaku sekaligus pengalaman kerjaku yang terakhir—karena tepat pukul 9 pagi hari tadi aku menelepon bosku untuk mengundurkan diri.

Saat aku dihubungi via telepon oleh pihak perusahaan bahwa aku diterima kerja aku sangat senang sekali, karena akhirnya aku punya kesibukan juga selain makan dan tidur di rumah. Aku pun segera mempersiapkan diri untuk segala yang aku butuhkan dalam menghadapi lingkungan kerja keesokan harinya. Oh ya, perusahaan ini adalah perusahaan jasa event organizer yang melayani customer untuk berbagai acara atau event, seperti: pesta penikahan, pesta ulang tahun, seminar, rapat perusahaan, dll.

Sesampainya aku di tempat kerja, aku diharuskan menunggu sebentar karena yang ingin aku temui masih belum tiba. Setelah aku menunggu beberapa menit, akhirnya yang aku tunggu pun datang. Aku pun mengikutinya ke sebuah ruangan dimana aku dikenalkan dengan beberapa rekan kerja yang akan menjadi teman-temanku nantinya. Lalu aku diajarkan bagaimana aku harus menjalankan pekerjaan itu. Dalam hati aku berkata, “Itu cukup mudah, aku mungkin bisa menanganinya dengan baik.”

Setelah beberapa jam aku melakukan pekerjaan itu—yang tentunya masih dengan seorang teman yang diutus untuk mendampingiku—aku mulai merasa capek. Bagaimana tidak? Harus setiap jam aku naik-turun lift untuk melakukan pengecekan terhadap AC dan keadaan di dalam toko (dalam perusahaan ini terdapat sebuah area pertokoan dan ballroom). Apakah AC di sepanjang koridor maupun di dalam toko sudah cukup nyaman atau tidak, apakah ada SPG yang komplain atau tidak, apakah pengunjung cukup nyaman atau tidak, dan lain-lain. Belum lagi, aku juga harus melakukan pengecekan terhadap toilet di setiap lantai! Untung waktu itu tidak ada event apapun yang sedang diselenggarakan. Seperti menjawab pertanyaanku sendiri, dalam beberapa menit saja aku sudah bisa menjawabnya bahwa kalau ada event—apalagi jika satu hari ada dua event atau lebih—aku bisa tidak pulang seharian!

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak meneruskan ‘langkah gila’-ku. Aku memutuskan untuk berhenti sampai disitu saja. Cukup bagiku dengan merasakan bagaimana badanku seakan dicabik-cabik oleh rasa pegal yang luar biasa. Aku tidak ingin mengulanginya lagi. Tapi, aku bisa mengambil hikmah dari semua itu. Satu hari aku berada di luar dengan konsekuensi tidak bertemu mama, papa, adik-adik, juga kekasihku, aku baru menyadari bahwa aku merindukan rumahku! Aku merindukan mereka semua, dan aku menangis..

Tapi sekarang aku sudah tidak lagi berada di pekerjaan itu. Aku kapok! Aku ingin kerja tapi yang normal-normal aja. Normal itu dalam artian, masuk jam 8 pagi pulang jam 5 sore. Bukan seperti pekerjaan yang aku lakukan kemarin. Sangat-sangat menguras tenaga dan menurutku tidak normal.

Aku hanya bisa berharap semoga aku diberi kesempatan kedua untuk meniti hidupku di dunia karir. Kalaupun tidak, aku mungkin akan berusaha sendiri meniti karirku sendiri dengan usahaku sendiri, modal sendiri, dan kemampuan sendiri. Semoga!

Categories: Job Tags:

On the Next Monday

Hari ini tadi, baru saja aku menerima panggilan wawancara yang beberapa waktu lalu aku kirimkan lamaran melalui pos. Aku tidak tahu apakah wawancara tadi berjalan sukses atau tidak. Masalahnya hanya begitu-begitu saja sih, nggak ada yang special. Atau mungkin aku-nya yang udah kebal. Entahlah, yang penting aku nggak akan pernah berhenti berharap sebelum semuanya jelas bagiku.

Besok Senin aku akan menerima jadwal training yang tadi baru saja diberikan padaku. Training seperti apa aku sendiri juga belum tahu. Aku hanya selalu mengharapkan yang terbaik untuk semuanya—untukku, untuk masa depanku, dan untuk orang lain.

Aku sudah bosan terus-menerus berada di rumah tanpa bisa melakukan apapun. Aku ingin mencari pengalaman baru, apapun, dimanapun—asalkan tidak terlalu jauh dari rumahku, it’s okay!

Aku tidak peduli apa yang dikatakan orang tentang aku, yang penting aku melakukan apa yang menurutku baik untukku. Aku tidak ingin membuat diriku sendiri terseok-seok akan keputusan yang aku buat sendiri. Aku cuma ingin melakukan hal yang seharusnya. Semoga saja aku mendapat jalan itu. Amin!

Categories: Job Tags:

Cuaca Panas

Aku heran kenapa akhir-akhir ini Surabaya panas banget. Padahal biasanya, walaupun panas tak sepanas hari-hari lalu. Hmm.. aku mulai ingat sekarang. Setiap menjelang puasa, cuaca di Indonesia ini selalu panas tak tertahankan seperti ini. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah cuaca panas ini juga disebabkan karena bulan ini adalah bulan puasa?

Sekitar dua hari yang lalu, aku baru saja pulang dari kampus, dan aku perkirakan hari kepulanganku itu tepat pukul 2 siang hari. Aduh, aku tak tahu apa yang terjadi dengan diriku saat aku merasakan diriku hampir pingsan di tengah jalan. Entahlah, hari itu kepalaku sangat pusing sekali. Tapi untungnya, aku masih bisa mengendalikan diriku untuk tidak benar-benar pingsan di tengah jalan. Sesampainya di rumah aku segera mandi, mengganti pakaianku, dan menyalakan AC. Walau sudah seperti itu, kenapa pula udara di dalam kamarku masih saja terasa panas?

Hari ini tadi pun aku juga mengalami hal yang sama. Aku pergi ke kantor pos untuk mengirimkan lamaran pekerjaanku ke sebuah perusahaan. Beberapa mil menuju kantor pos itu aku lalui dengan berpanas-panas ria. Astaga, kepalaku serasa mau pecah saking panasnya!

Mungkinkah ini salah satu cobaan bagi orang puasa? Kalau memang benar demikian, berarti cuaca panas seperti ini harus aku lalui selama satu bulan penuh. Oh..! Tapi, tak apa-apa.. aku sudah biasa menjalaninya. Dan, selama aku kuat menghadapinya, it’s okay!

Categories: Life Tags: