Archive

Archive for January, 2009

Birthday

Aku dan Dini di acara wisuda tahun 2008

Aku dan Dini di acara wisuda tahun 2008

Hari ini adalah hari ultah sahabatku, Dini, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa selain terbaring sakit di rumah. Virus cacar yang menyerangku sejak tujuh hari yang lalu ini telah membuatku tak bisa melakukan aktivitas apapun. Bahkan, ucapan selamat melalui SMS pun tak bisa aku lakukan, karena HP-ku masih dalam “masa penyitaan”. Alhasil, aku hanya terdiam dan terbaring lemah di atas tempat tidur sambil merenung dan menyesali segala sesuatu yang telah terjadi. Aku tak menyangka semuanya akan berdampak seperti ini. Andai saja aku bisa berbicara pada waktu, aku akan meminta padanya agar memutarbalikkan waktu yang aku miliki ke saat-saat dimana aku akan memutuskan untuk bekerja.

Penyesalanku yang lain adalah aku tak bisa menghadiri pesta pernikahan temanku, Dina, yang diselenggarakan pada tanggal 10 Januari lalu karena sakit yang aku derita. Padahal, saat aku menikah, dia datang ke pestaku dengan didampingi tunangannya. Aku benar-benar merasa bersalah. Seharusnya aku juga datang ke acara itu, tapi aku tidak bisa.

Sekarang, yang bisa aku lakukan hanyalah meminta maaf kepada Dina dan mengatakan yang sebenarnya. Semoga saja dia bisa memaklumi dan memaafkanku. The last but not least, untuk Dini:

“Happy Birthday, Din! Semoga apa yang kamu impikan bisa cepat terwujud. Doaku selalu menyertaimu”

Categories: Life Tags: ,

Tahun Baru 2009

Tahun 2009 sepertinya bukan tahun yang terlalu baik buatku dan kehidupanku. Buktinya, di penghujung tahun 2008 saja sudah banyak terjadi sesuatu yang buruk dan bukan sesuatu yang baik untuk sebuah akhir. Bahkan, aku pun tak sempat menikmati perayaan akhir tahun dan pesta tahun baru bersama suamiku. Padahal, aku sudah membayangkan sesuatu yang indah yang akan terjadi padaku saat itu.

Mungkin aku terlalu banyak berharap, sehingga saat aku tak bisa mencapai harapanku, aku kecewa. Tapi, itu semua juga karena kesalahanku sendiri. Aku yang memulainya, aku pulalah yang harus mengakhirinya.

Hari ini adalah hari dimana aku harus memulai semuanya dari awal. Suamiku sudah bisa memaafkanku, tapi aku tak memaksanya untuk bisa mempercayaiku lagi seperti dulu. Aku tahu, dia butuh waktu untuk bisa mengembalikan kepercayaan itu setelah apa yang aku lakukan padanya. Aku hanya bisa membuktikan dengan perbuatan bahwa aku sudah benar-benar kembali menjadi diriku sendiri seperti sediakala.

Banyak hal yang harus aku lakukan pascaresign-ku dari pekerjaanku beberapa waktu lalu. Aku harus mencari pekerjaan lagi untuk bisa menyambung hidup. Memang gaji suamiku sudah lebih dari cukup untuk berumahtangga, tapi alangkah baiknya kalau akupun juga mencari penghasilan sendiri dan tidak hanya bergantung dari gaji suami. Aku ingin mandiri. Selain itu, aku tak ingin mengecewakan orangtuaku yang telah menyekolahkanku sampai perguruan tinggi dengan susah payah. Aku ingin membuat mereka bangga padaku.

Hal lain yang aku pikirkan sekarang adalah: “Bagaimana caranya aku lepas dari bayang-bayang orangtuaku?”

Aku ingin mandiri dalam artian mandiri sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga yang baik. Untuk itu, aku dan suami sekarang sedang berusaha keras untuk bisa hidup sendiri layaknya sebuah keluarga kecil. Aku hanya bisa berdoa semoga apa yang aku lakukan ini akan membuahkan hasil dan nantinya aku tidak perlu lagi merepotkan orang lain, terutama orangtuaku. Aku sudah cukup merepotkan mereka saat aku masih duduk di bangku kuliah, dan aku tidak ingin membuat mereka susah lagi disaat aku sudah menikah dan memiliki suami.

Categories: Life Tags: , ,