Pacaran ala backstreet atau yang lebih populer dikenal dengan nama cinta
sembunyi-sembunyi banyak dijumpai di kalangan remaja yang sebagian besar dari mereka tidak ingin hubungannya dengan seseorang diketahui oleh umum, semisal: orangtua, sahabat, atau wartawan (biasanya dilakukan oleh selebriti). Mungkin pacaran ala backstreet bisa dilakukan dalam waktu singkat, tapi tidak untuk selamanya. Karena biasanya pacaran ala backstreet bersifat identik dengan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.
Pacaran ala backstreet memang mudah dilakukan, tapi tidak mudah untuk dipertanggungjawabkan. Contohnya saja, seorang cewek bernama A menjalin hubungan cinta dengan seorang cowok bernama B, dimana B pada saat yang bersamaan juga menjalin cinta dengan sahabat A yang bernama C. Lalu, apa yang akan dilakukan A dan B, saat C mengetahui hubungan mereka berdua?
Sekelumit contoh di atas merupakan sekelumit kisah yang sering terjadi di kalangan masyarakat, terutama remaja, yang notabene-nya masih menganggap cinta adalah sesuatu yang indah dan berharga serta menempatkan cinta di atas segala-galanya.
Dua insan yang tengah menjalin cinta secara sembunyi-sembunyi ini biasanya suka menyendiri. Dan, mereka pun bisa ditebak tidak akan pernah bisa mengikuti event-event apapun yang bertemakan cinta. Atau jangankan mengikuti event-event seperti itu, perayaan hari jadi—dimana bagi sebagian pasangan, hari jadi merupakan hari dimana cinta diantara keduanya terbentuk—pun mungkin jarang bisa mereka rayakan. Bahkan, kunjungan yang biasanya rutin dilakukan oleh para pria kepada sang kekasih saat weekend tiba juga tidak bisa dilakukan, karena suatu halangan-halangan tertentu yang selalu mereka hadapi. Tapi itulah yang dinamakan risiko. Risiko yang harus dihadapi sepasang kekasih saat mereka telah memutuskan untuk menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi. Tidak adil memang. Saat sepasang kekasih bisa melakukan dinner romantis di sebuah restoran, sepasang kekasih lainnya tidak bisa. Saat sepasang kekasih lain bisa menikmati sunset di sebuah pantai, sepasang kekasih lainnya tidak bisa. Saat sepasang lainnya lagi bisa saling berbagi cerita dengan orang lain, sepasang kekasih lainnya juga tidak bisa, dan masih banyak lagi. Salah satu konsekuensi dari pacaran backstreet adalah seperti itu bahwasanya sepasang kekasih yang telah memutuskan untuk berpacaran secara sembunyi-sembunyi tidak boleh merasa iri dengan sepasang kekasih lain yang tidak melakukan hubungan cintanya secara sembunyi-sembunyi.
Sekarang, semuanya kembali ke diri pribadi masing-masing tentang kesanggupan kedua insan manusia untuk melewati segala aral yang mungkin menghadang. Tak mudah melakukan hubungan cinta secara sembunyi-sembunyi apabila kedua belah pihak tidak saling setia dan percaya. Karena inti dari hubungan cinta sembunyi-sembunyi adalah kesetiaan dan kepercayaan.
Di samping semua hal tersebut di atas, pacaran ala backstreet lebih banyak mengandung dampak negatif dibandingkan dampak positif. Dampak negatif sangat mungkin dapat terjadi apabila hubungan cinta diantara kedua insan manusia sudah tidak sehat dan mulai menjurus ke hal-hal yang dapat merugikan pihak perempuan. Dan kalau sudah begini, hubungan ala backstreet sebaiknya segera diakhiri. Seorang pria tidak mungkin lagi menjunjung tinggi nama cinta apabila dirinya sudah membuat belahan jiwanya menderita lahir dan bathin.
Sebagian orang mungkin bertanya seperti ini: “Apakah cinta memang sedemikian indahnya sampai-sampai ada sepasang kekasih yang rela melakukan apapun demi cinta?”
Cinta memang indah, tapi indah pada saat yang tepat dan dalam kondisi yang tepat. Tetapi, cinta tidak bisa dikatakan indah apabila ada satu pihak yang tidak bisa menghargai pihak lain, terutama ada salah satu pihak yang merasa dirugikan, dikhianati, dan teraniaya. Menurutku, cinta adalah anugerah, karena dengan cinta manusia bisa merasa sempurna. Karena cinta merupakan anugerah, maka jagalah cinta itu sebaik kita menjaga diri kita sendiri.













0 Responses to “Pacaran ala Backstreet”