Susahnya Hidup Berumahtangga
Awalnya aku berpikir bahwa definisi berumahtangga adalah menikah,
mengurus, dan melayani suami. Tapi, ternyata semuanya jauh dari apa yang aku bayangkan. Berbagai macam persoalan datang silih berganti. Berbagai macam perbedaan pendapat masuk di kepalaku setiap hari seolah ada dua kubu yang memaksaku untuk memihak pada salah satunya. Aku baru menikah sekitar lima bulan yang lalu tapi kenapa permasalahan ini datang seakan pernikahanku sudah berumur puluhan tahun?
Aku sering bertanya, apakah permasalahan dalam satu pernikahan itu harus sedemikian pelik? Jika benar, bagaimana tiap-tiap pasangan suami-isteri di luar sana menghadapinya? Aku ingin belajar dari mereka.
Sekarang, aku masih tinggal di rumah orangtuaku, tapi aku merasa seperti berada di rumah orang lain. Buntut-buntutnya, aku seakan terusir dari rumahku sendiri. Aku sudah berusaha untuk tidak merepotkan orangtuaku dengan aku dan suamiku berada di situ. Tapi, sepertinya apa yang aku lakukan tidaklah berguna. Aku tetap saja berperan sebagai ‘manusia terasing’.
Aku sedih.
Kadang aku ingin menangis, kadang aku ingin sendiri. Aku hanya ingin bebas. Aku ingin menapaki hidup ini dengan langkah kakiku sendiri. Aku tidak ingin terus-menerus terpenjara bagai burung di dalam sangkar. Hidup mungkin keras, tapi sekeras apapun itu jika aku melaluinya dengan hati dan jiwa yang bahagia, mungkin hidup tak sekeras kelihatannya.












Komentar Terakhir