Archive

Archive for May, 2009

Serpihan

Serpihan demi serpihan mimpi datang kembali padaku. Yang dilakukannya hanyalah mengusik ketenangan dan kesendirianku. Apakah aku pernah memohon bahwa aku ingin sendiri? Lupakah mereka pada ucapanku? Ataukah kata-kata itu hanya sirna di tengah kemelut duka yang aku alami? Kini, kembali aku tegaskan, “Aku ingin sendiri”.

Memiliki mimpi memang indah. Namun, apa yang terjadi jika mimpi-mimpi itu kemudian mengganggu hidupmu? Kata orang, mimpi adalah bunga tidur. Tanpa mimpi, tidur tak akan nyenyak. Masa sih?

Yang aku inginkan sekarang adalah aku bisa hidup tenang tanpa ada satu mimpi pun yang mengusikku. Aku suka mimpi, dan aku kerap bermimpi—sebelum akhirnya mimpi-mimpi itu menjadi sebuah mimpi buruk dalam hidupku. Entah sejak kapan aku mulai jadi seperti ini. Aku berubah menjadi seseorang yang takut akan mimpi. Dan, takut untuk melanjutkan mimpi-mimpiku lagi.

Categories: Love Tags: , , ,

Horoscope vs Global Warming

Global Warming atau yang sering kita sebut dengan pemanasan global sempat membuat masyarakat dunia panik. Pasalnya, hal itu mau tidak mau sangat mempengaruhi aktivitas kehidupan di bumi. Padahal, kalau dianalisa lebih lanjut global warming dapat diatasi dengan cepat.

Aku sendiri sebetulnya juga nggak terlalu paham tentang sebab-musabab terjadinya global warming. Hanya saja, aku sekarang lebih peduli dengan bumi dibanding dulu. Aku sering baca di surat kabar harian dan majalah tentang bahaya global warming kalau tidak cepat diatasi. Dari berbagai bacaan itu aku menemukan sesuatu. Ternyata, zodiak kita punya elemen masing-masing yang bisa membantu kita untuk mencanangkan program penyelamatan bumi. Elemen-elemen itu, antara lain:

ELEMEN API (Aries, Leo, Sagitarius)

Kelebihanmu: Kamu bisa menularkan semangatmu yang berapi-api! Kamu memiliki jiwa pemimpin yang membuatmu jadi sumber kekuatan ketika membela apa yang kamu yakini benar. Biarkan kepedulian dan semangat kepemimpinanmu menjadi motivasi bagi orang-orang di sekitarmu. Kamu bisa:

  1. Membela apa yang kamu percaya melalui kampanye protes terhadap masalah yang sedang ‘hangat’ di lingkunganmu. Pimpin teman-teman untuk menyuarakan pendapat.
  2. Mulai memberikan dukunganmu lewat petisi online yang mendukung hak-hak binatang ataupun anti global warming.
  3. Kumpulkan teman-teman dan ikutan long march tanggal 22 September untuk memperingati World Carfree Day (Hari Tanpa Mobil), sambil bagi-bagikan flyers berisi info tentang pentingnya mengurangi pemakaian kendaraan bermotor.

ELEMEN UDARA (Gemini, Libra, Aquarius)

Kelebihanmu: Kamu pemikir yang hebat dan jago berkomunikasi. Manfaatkan keahlianmu dalam memecahkan masalah untuk mengatasi topik yang sedang ‘hangat’, lalu keluarkan ide-ide seru dari kepalamu. Kamu bisa:

  1. Pilih masalah yang menarik perhatianmu dan kamu dukung seratus persen (misalnya tentang polusi) dan buat tulisan tentang itu di mading atau majalah sekolah.
  2. Menjadi inspirasi untuk membuat perubahan dengan membeli dan menggunakan buku tulis dari kertas hasil recycle. Jika kamu dan sembilan orang temanmu mengganti semua buku biasa dengan kertas recycle, dalam setahun kalian sudah menyelamatkan 60.000 pohon!
  3. Buat satu bagian di situs facebook, friendster, Multiply, atau MySpace milikmu dan isi dengan tulisan sederhana tentang masalah seperti global warming. Jangan lupa tuliskan juga apa saja yang bisa dilakukan oleh kamu dan teman-teman untuk bumi kita tersayang.

ELEMEN TANAH (Taurus, Virgo, Capricorn)

Kelebihanmu: Kamu selalu punya rencana dan bisa diandalkan. Berkat dua sifat itu, kamu bisa menjadi penggalang dana yang oke! Kamu punya kepedulian yang ekstrabesar terhadap masalah yang berhubungan dengan lingkungan, seperti kesejahteraan hewan dan pelestarian alam. Kamu bisa:

  1. Mengadakan konser amal untuk mengumpulkan sumbangan bagi orangutan di Kalimantan. Berapapun hasilnya, setidaknya kamu sudah ikut berperan dalam melestarikan orangutan beserta habitatnya.
  2. Menjadi relawan di organisasi pecinta lingkungan, seperti greenpeace dan walhi. Atau membangun rumah untuk kaum tunawisma dan korban bencana alam disini.
  3. Tunjukkan bahwa kamu peduli bumi beserta satwa di dalamnya dengan memakai kaos, pin, tas, sampai jam tangan yang dibuat oleh WWF dan ProFauna.

ELEMEN AIR (Cancer, Scorpio, Pisces)

Kelebihanmu: Perasaan yang dalam dan pemikiran yang ekstrakreatif, membuat kamu pas banget untuk aktif dalam kegiatan sosial. Cari cara unik yang sekaligus bisa menginspirasi orang lain untuk ikutan peduli. Kamu bisa:

  1. Recycle dengan cara kreatif.
  2. Buat aktivitas peduli ini menjadi sesuatu yang glamour!
  3. Kumpulkan sumbangan berupa uang dan pakaian bekas layak pakai dari teman-teman dan kirim ke daerah yang dilanda bencana alam. Musibah tak mengenal waktu dan lokasi. Siapa pun dan dimana pun di seluruh dunia ini bisa saja terkena musibah. Dengan cara itu, kamu bisa membantu meringankan beban mereka.

Sumber: Majalah CosmoGirl! edisi Oktober 2007

Categories: Article, World Tags: , ,

Ada Apa dengan Facebook?

Aku bergabung dengan facebook sekitar bulan Maret 2009 lalu. Itupun kalau bukan temanku yang memaksaku untuk mendaftar, aku tak akan mendaftar. Aku pikir, untuk apa? Aku sudah punya banyak sekali akun-akun pertemanan semacam itu. Kalau aku punya terlalu banyak, takutnya tak akan terurus semua. Percuma saja, kan? Buntut-buntutnya pasti akan ditinggalkan dan dilupakan jika menemukan akun-akun pertemanan lain yang lebih asyik dan booming. Tapi,  demi solidaritas, aku pun akhirnya menuruti permintaan temanku itu dan mendaftarkan diriku disana.

Tapi, banyak diantara mereka yang mengaku kecanduan facebook sampai-sampai lupa makan, lupa tidur, bahkan ada yang rela mengorbankan beberapa ribu juta rupiah hanya untuk memasang koneksi wi-fi unlimited secara pribadi di kamar agar dapat selalu terkoneksi dengan internet siang dan malam tanpa hambatan. Oh, My God!

Memang aku akui bahwa situs pertemanan sosial yang satu ini memiliki daya tarik khusus bagi pencinta social networking. Daya tarik khusus apa itu aku sendiri juga tidak tahu pasti, namun yang jelas facebook mampu menyedot perhatian massa—terutama remaja—tak hanya di Indonesia, tapi juga seluruh dunia.

Tadinya aku menganggap bahwa tak ada yang spesial dari facebook sampai akhirnya tanpa sengaja aku menemukan kembali teman-temanku yang pernah satu sekolah denganku sepuluh hingga lima belas tahun yang lalu. Betapa senang hatiku bisa berbicara dan berkomunikasi dengan mereka lagi setelah sekian lama. Selama aku bergabung dengan situs pertemanan lain, aku tak menemukan satu pun dari mereka. Hanya di facebook itulah tempatku melakukan ‘reuni online‘ dengan mereka tanpa harus pergi kemana pun.

Namun begitu, aku tak merasakan adanya kecanduan atau apapun yang sering disebut-sebut oleh media belakangan ini. Aku tidak membuka facebook setiap hari. Tidak seperti teman-teman kebanyakan yang selalu berganti status setiap jam, setiap menit, setiap detik, tergantung suasana hati mereka. Aku hanya membukanya sesekali kalau aku sempat. Kalaupun tidak, aku biarkan saja selama kurang lebih seminggu setelah itu barulah aku buka. Itupun hanya sekedar membalas comment ataupun inbox yang masuk dan menyetujui jika ada seseorang yang memintaku menjadi teman mereka. Oh ya, aku mungkin juga terkadang meng-upload foto kalau aku punya foto baru yang bagus yang perlu aku sharing-kan bersama teman-temanku.

Sampai sekarang aku masih tidak tahu apa hebatnya facebook hingga menyebabkan candu bagi orang-orang itu. Mungkin aku tak terlalu bisa mengoperasikan facebook sehingga aku tak ikut-ikutan kecanduan seperti mereka? Atau faktor facebook itu sendiri yang sekarang sedang banyak dibicarakan masyarakat sehingga banyak orang kecanduan karenanya? Hmm, sungguh fenomena yang aneh—setidaknya menurutku.

Banyak juga blog-blog yang menuliskan tentang situs yang satu ini. Sebenarnya ada apa denganmu, facebook? Apakah kau terbuat dari salah satu zat candu yang membuat semua orang lupa akan dimana dia hidup? Ataukah kau memang diciptakan untuk membuat seluruh masyarakat di dunia menghilang dari kehidupan nyatanya dan hanya ingin tenggelam dalam dunia maya sepertimu?

Categories: Article Tags: , , , ,

Iklan Job Fair

Tak jarang aku membaca iklan-iklan yang berkaitan dengan job fair atau bursa kerja bermunculan di harian surat kabar dan internet. Dengan adanya iklan seperti itu sudah pasti akan banyak sekali masyarakat yang tergiur untuk mendaftar dan apply. Bukan aku patah arang melihat kenyataan itu, tapi untuk apa diadakan iklan besar-besaran seperti itu kalau hanya sedikit yang bisa mereka terima di perusahaan? Katakanlah ada sekitar ribuan orang yang melamar, padahal yang dibutuhkan hanya sekitar 20 hingga 30 orang saja. Menurutku, hanya buang-buang tenaga, waktu, dan uang. Perusahaan-perusahaan itu mungkin tidak tahu apa yang dilakukan para pelamar untuk bisa mendapatkan satu pekerjaan. Yang mereka tahu hanyalah bagaimana caranya menambah karyawan untuk meningkatkan laba perusahaan.

Aku sadar bahwa persaingan memang selalu ada dimana-mana, tapi kalau harus ikut bursa kerja yang kemungkinan diterima kecil seperti itu, aku seakan merasa kalah sebelum berperang. Aku belum bisa menerima bahwa diriku tak lebih baik dari mereka yang menjadi pesaingku. Aku bingung dengan perusahaan-perusahaan yang memasang iklan-iklan itu. Calon karyawan seperti apa yang mereka cari? Calon karyawan seperti apa yang menurut mereka berkualitas? Dan, calon karyawan seperti apa yang menurut mereka memiliki kredibilitas kerja?

Entah sudah berapa rupiah yang harus aku keluarkan untuk melamar satu pekerjaan, tapi tak ada satu pun perusahaan ‘baik’ yang mau menerimaku. Ada apa denganku?

Terlalu banyak pesaing menurutku tidak baik, tapi tidak ada pesaing sama sekali juga menandakan bahwa perusahaan itu ‘tidak baik’ di mata masyarakat. Aku hanya berharap aku bisa cepat mendapatkan pekerjaan agar aku bisa segera meringankan beban suamiku. Aku tidak tega kalau terus-terusan bergantung padanya dan menagih tanggungjawabnya untuk menafkahiku—walau memang itulah kewajibannya. Setidaknya aku bisa sedikit membantunya. Aku hanya bisa menggantungkan harapanku tanpa pernah tahu kapan harapan itu akan menjadi kenyataan.

Categories: Job Tags: , , , ,

Tobacco Field

Sudah lama aku tak merasakan bepergian bersama dengan keluargaku. Aku lupa kapan terakhir kali aku melakukan sebuah vacation indah yang dapat menghilangkan semua penat di kepalaku. Aku mungkin terlalu sibuk dengan urusanku sendiri—urusan yang belum jelas ujung pangkalnya.

Tapi, hari ini aku tidak akan bercerita tentang ‘urusan-urusan’ itu. Sekarang aku ingin menceritakan tentang pengalaman liburanku beberapa waktu lalu di daerah dataran tinggi Jawa Tengah, kota Temanggung. Kota ini adalah kota kecil di Jawa Tengah yang mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat. Seringkali teman-temanku bertanya tentang kemana aku berlibur ketika aku masih duduk di bangku sekolah dulu. Saat aku mengatakan, “Aku liburan ke rumah nenek di Temanggung”. Mereka selalu balik bertanya, “Dimana itu?” Hmm.. waktu itu yang terlintas di pikiranku adalah, “Mereka hidup di Indonesia bagian mana, sih, kok nggak tahu Temanggung?”

Tapi, kemudian aku sadar bahwa ternyata Temanggung adalah sebuah kabupaten dengan ibukota yang sama, dimana tak banyak orang yang tinggal disana dan dengan keadaan kota yang masih sangat dingin, bersih, dan nyaman—seolah belum tersentuh tangan-tangan jahil manusia.

Ladang Tembakau

Ladang Tembakau

Salah satu hasil ladang yang paling mencolok di daerah Temanggung adalah tembakau. Hampir seluruh penduduk di kota ini memiliki ladang yang sama dengan luas yang berbeda-beda tentunya. Tembakau di kota ini sangat menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi tiap-tiap masyarakatnya. Tak heran jika situasi ini dimanfaatkan oleh sebagian besar perusahaan rokok di Indonesia untuk memasarkan produknya, sehingga banyak sekali iklan-iklan rokok raksasa terpampang di setiap sudut kota. Tadinya, aku tak menyangka bahwa tembakau bisa membuat kehidupan masyarakat Temanggung sukses dan terjamin. Tapi, setelah aku melihat banyak orang kaya berasal dari kota ini mulutku terkunci rapat seketika.

Tak hanya itu. Masyarakat Temanggung sebenarnya memiliki hasil yang menjanjikan lainnya, yaitu tambak ikan emas. Namun, sepertinya usaha ini tak terlalu ‘booming‘ seperti tembakau. Sehingga, hanya sebagian kecil saja masyarakat yang masih mempertahankan usaha ini. Sehingga, usaha itu hanya dikembangkan di halaman rumah masing-masing.

Sejak umurku dua tahun aku sudah berkenalan dengan daerah ini dan hampir setiap tahun aku kemari. Aku tak pernah berpikir bahwa dengan kondisi masyarakat yang masih bisa dibilang primitif seperti itu mereka bisa menjadikan kota indah mereka menjadi lebih baik. Itu terbukti dari infrastruktur kota yang setiap tahun selalu bertambah.

Aku hanya heran bahwa di jaman serbateknologi seperti sekarang ini masih saja ada kota yang belum seluruhnya tersentuh oleh hal itu. Kalau aku hidup disana, mungkin aku takkan tahan. Tapi, dengan melihat masyarakat yang tinggal di kota itu, dengan keadaan seperti itu, terlihat santai dan sangat menikmati. Mungkin mereka berpikir bahwa hidup di kota tenang seperti itu lebih baik daripada hidup di kota besar tapi banyak masalah. Padahal, mungkin saja jika mereka ingin hijrah ke kota besar, kan? Buktinya, mereka tetap betah tinggal disana tanpa ada keinginan untuk hijrah ke kota metropolitan atau ke kota megapolitan sekali pun.

Categories: Knowledge Tags: ,

Satu Keputusan

Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini. Terombang-ambing bagaikan arus ombak di lautan. Beberapa jam lalu aku baru saja melihat sebuah rumah kost yang menurutku lumayan bagus, bersih, dan terawat. Tak seperti kebanyakan rumah kost yang selalu terlihat kotor dan tidak terawat. Sehingga, melihatnya saja sudah malas apalagi memutuskan untuk tinggal.

Sekarang, hanya tinggal menunggu persetujuan orangtuaku apakah aku diperbolehkan tinggal berdua dengan suamiku di rumah kost itu—mengingat selama ini orangtuaku selalu melarangku untuk tinggal di sebuah kost-kost-an. Menurutku pribadi mereka sebenarnya tidak berhak untuk mengintervensi hidupku dan suamiku. Aku sudah punya kehidupan sendiri. Dan, tinggal di rumah kost itu hanya untuk sementara waktu selama menunggu rumahku yang sebenarnya selesai dibangun.

Aku tidak ingin tinggal di rumah orangtuaku lebih lama lagi. Aku seperti orang lain disitu. Dan, tinggal lebih lama lagi hanya akan membuat rumah tanggaku semakin berantakan. Aku seperti hidup di dalam sangkar. Tidak bisa bebas dan meniti hidupku lebih jauh ke depan.

Aku hanya lelah menangis. Meratapi hidupku yang selalu saja seperti ini. Tidak pernah berubah walau aku telah memiliki pendamping hidup. Ada apa sebenarnya? Pasti ada kesalahan. Dan, apakah kesalahan itu terletak pada diriku? Jika memang iya, maka aku harus segera mengubahnya. Namun jika tidak, salah siapa sebenarnya?

Categories: Life Tags:

Kewirausahaan

Semasa kuliah dulu, aku pernah mengambil mata kuliah ini. Tapi, karena dulu aku tak begitu mengerti apa maksudnya, maka aku dulu mengikuti setiap perkuliahannya dengan setengah hati. Maksudnya, aku mengikuti perkuliahan itu tanpa ada keinginan yang benar-benar kuat. Atau, dengan kata lain mengikuti perkuliahan hanya karena ingin mendapatkan nilai tinggi, bukan karena ingin menyerap sebuah ilmu.

Kini, aku mulai merasakan pentingnya mata kuliah itu—disaat aku akan mendirikan sebuah usaha baru. Tapi, aku juga harus waspada akan segala keuntungan dan kerugian dari risiko berwirausaha.

Menurut Peggy Lambing dan Charles L. Kuehl (2000:19-20) dalam bukunya “Entrepreneurship” dikatakan bahwa keuntungan dan kerugian kewirausahaan identik dengan keuntungan dan kerugian pada usaha kecil milik sendiri. Keuntungan dan kerugian itu antara lain:

Keuntungan:

  1. Otonomi. Pengelolaan yang bebas dan tidak terikat membuat wirausaha menjadi seorang “bos” yang penuh kepuasan.
  2. Tantangan awal dan perasaan motif berprestasi. Tantangan awal atau perasaan bermotivasi yang tinggi merupakan hal menggembirakan. Peluang untuk mengembangkan konsep usaha yang dapat menghasilkan keuntungan sangat memotivasi wirausaha.
  3. Kontrol finansial. Bebas dalam mengelola keuangan dan merasa kekayaan sebagai milik sendiri.

Kerugian:

  1. Pengorbanan personal. Pada awalnya wirausaha harus bekerja dengan waktu yang lama dan sibuk. Sedikit sekali waktu untuk kepentingan keluarga—rekreasi. Hampir semua waktu dihabiskan untuk kegiatan bisnis.
  2. Beban tanggung jawab. Wirausaha harus mengelola semua fungsi bisnis, baik pemasaran, keuangan, personil, maupun pengadaan dan pelatihan.
  3. Kecilnya margin keuntungan dan kemungkinan gagal. Karena wirausaha menggunakan keuntungan yang kecil dan keuangan milik sendiri, maka margin laba atau keuntungan yang diperoleh akan relatif kecil dan kemungkinan gagal juga ada.

Dengan melihat keuntungan dan kerugian itu, aku mungkin akan lebih berhati-hati dengan langkahku ke depan. Karena, menurut buku yang ditulis oleh Alex Inkeles dan David H. Smith (1974:24) berjudul “Becoming Modern Individual Change in Six Developing Countries”, kualitas manusia modern tercermin pada orang yang berpartisipasi dalam produksi modern yang dimanifestasikan dalam bentuk sikap, nilai, dan tingkah laku dalam kehidupan sosial. Ciri-cirinya meliputi: keterbukaan terhadap pengalaman baru, selalu membaca perubahan sosial, lebih realistis terhadap fakta dan pendapat, berorientasi pada masa kini dan masa yang akan datang—bukan pada masa lalu, berencana, percaya diri, memiliki aspirasi, berpendidikan dan mempunyai keahlian, respek, hati-hati, dan memahami produksi.

Mungkin, teori saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan tindakan real. Aku akan mencobanya dengan seluruh kemampuan dan keahlian yang aku miliki. Awalnya mungkin masih sangat sulit, tapi untuk ke depan aku akan bisa memetik hasilnya. Who Knows?

Categories: Knowledge Tags:

Jauh

Kemarin (6/5) aku menyempatkan diriku untuk mengunjungi job fair atau bursa kerja yang digelar di Gramedia Expo selama dua hari, tanggal 6 dan 7 Mei. Ingin tahu apa yang terjadi setelah aku sampai disana? Aku seolah melihat lautan manusia! Aku tahu bahwa setiap orang—terutama mereka yang belum memiliki pekerjaan—sangat membutuhkan pekerjaan tetap, bukan hanya sebuah pekerjaan kontrak yang hanya berlaku beberapa bulan saja. Tapi, apa yang mereka harapkan dari sebuah job fair seperti itu? Yang notabene-nya sangat banyak sekali pelamar dan mungkin kecil kemungkinan bagi orang per orang akan dipanggil untuk melangkah ke tahap selanjutnya dan akhirnya direkrut menjadi karyawan. Aku saja tak terlalu banyak berharap. Harapanku seakan pupus seketika.

Hingga detik ini aku sampai sempat berpikir bahwa sebuah pekerjaan bonafid yang aku bayangkan selama ini seakan jauh untuk dapat kujangkau. Terlalu tinggi, terlalu jauh, terlalu tak terjangkau. Aku lelah bermimpi. Aku pun lelah untuk terus berharap. Langkahku terlalu jauh tertinggal di belakang. Aku tak mungkin bisa seperti orang-orang itu. Orang-orang sukses yang bekerja di perusahaan bonafid yang menjanjikan pendapatan tinggi dan kehidupan yang lebih baik.

Selama ini aku terus bersabar dan terus berharap semoga aku bisa mengejar apa yang telah menjauh dariku. Nyatanya? Aku tak juga bisa meraihnya. Apakah jalanku memang harus seperti ini? Aku capek, aku lelah, aku menyerah.

Mungkin ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘banyak jalan menuju Roma’, tapi bagiku jalan apa lagi yang musti kutempuh? Semuanya sepertinya sudah aku lakukan. Tapi bolehlah, kalau memang aku harus menunggu lagi dan aku harus bersabar (lagi) untuk yang kesekian kalinya. Akan aku lakukan—demi kelangsungan hidupku—di masa depan.

Categories: Job Tags:

Berwirausaha?

Aku mungkin bukan orang yang gampang menyerah. Tidak! Aku tidak ingin menyerah sekarang. Tidak dalam keadaan seperti ini. Susahnya aku mencari pekerjaan bukan suatu alasan untuk menyerukan kata-kata menyerah. Tapi, bila aku telah berada di ujung tanduk keputusasaan, masihkah aku bersikeras dengan pendirianku?

Aku tidak ingin berhenti di tengah jalan. Masih banyak yang harus kuraih. Umurku masih cukup untukku mencapai apa yang aku impikan. Jika aku menyerah sekarang, bagaimana dengan semua impian dan harapanku? Aku tidak ingin apa yang aku bangun selama ini sirna dengan sia-sia.

Saat aku telah benar-benar tersudut oleh semua keadaan ini, aku mungkin akan memutuskan untuk berwirausaha sendiri. Tapi, itupun aku belum tahu pasti. Semuanya masih samar-samar. Aku belum yakin akan keputusanku. Seseorang yang akan berwirausaha haruslah benar-benar memiliki jiwa usahawan yang tinggi dan memiliki insting kuat tentang pangsa pasar, target pasar, kompetitor, dan lain sebagainya.

Mungkin akan butuh waktu cukup lama bagiku untuk mempersiapkan semua ini. Atau, mungkinkan aku sudah menyerah dengan keadaan? Entahlah. Yang jelas, aku tidak boleh menyerah pada nasib. Aku harus berjuang sekeras apapun selama aku masih mampu melakukannya.

Categories: Life Tags: