Tobacco Field
Sudah lama aku tak merasakan bepergian bersama dengan keluargaku. Aku lupa kapan terakhir kali aku melakukan sebuah vacation indah yang dapat menghilangkan semua penat di kepalaku. Aku mungkin terlalu sibuk dengan urusanku sendiri—urusan yang belum jelas ujung pangkalnya.
Tapi, hari ini aku tidak akan bercerita tentang ‘urusan-urusan’ itu. Sekarang aku ingin menceritakan tentang pengalaman liburanku beberapa waktu lalu di daerah dataran tinggi Jawa Tengah, kota Temanggung. Kota ini adalah kota kecil di Jawa Tengah yang mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat. Seringkali teman-temanku bertanya tentang kemana aku berlibur ketika aku masih duduk di bangku sekolah dulu. Saat aku mengatakan, “Aku liburan ke rumah nenek di Temanggung”. Mereka selalu balik bertanya, “Dimana itu?” Hmm.. waktu itu yang terlintas di pikiranku adalah, “Mereka hidup di Indonesia bagian mana, sih, kok nggak tahu Temanggung?”
Tapi, kemudian aku sadar bahwa ternyata Temanggung adalah sebuah kabupaten dengan ibukota yang sama, dimana tak banyak orang yang tinggal disana dan dengan keadaan kota yang masih sangat dingin, bersih, dan nyaman—seolah belum tersentuh tangan-tangan jahil manusia.
Salah satu hasil ladang yang paling mencolok di daerah Temanggung adalah tembakau. Hampir seluruh penduduk di kota ini memiliki ladang yang sama dengan luas yang berbeda-beda tentunya. Tembakau di kota ini sangat menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi tiap-tiap masyarakatnya. Tak heran jika situasi ini dimanfaatkan oleh sebagian besar perusahaan rokok di Indonesia untuk memasarkan produknya, sehingga banyak sekali iklan-iklan rokok raksasa terpampang di setiap sudut kota. Tadinya, aku tak menyangka bahwa tembakau bisa membuat kehidupan masyarakat Temanggung sukses dan terjamin. Tapi, setelah aku melihat banyak orang kaya berasal dari kota ini mulutku terkunci rapat seketika.
Tak hanya itu. Masyarakat Temanggung sebenarnya memiliki hasil yang menjanjikan lainnya, yaitu tambak ikan emas. Namun, sepertinya usaha ini tak terlalu ‘booming‘ seperti tembakau. Sehingga, hanya sebagian kecil saja masyarakat yang masih mempertahankan usaha ini. Sehingga, usaha itu hanya dikembangkan di halaman rumah masing-masing.
Sejak umurku dua tahun aku sudah berkenalan dengan daerah ini dan hampir setiap tahun aku kemari. Aku tak pernah berpikir bahwa dengan kondisi masyarakat yang masih bisa dibilang primitif seperti itu mereka bisa menjadikan kota indah mereka menjadi lebih baik. Itu terbukti dari infrastruktur kota yang setiap tahun selalu bertambah.
Aku hanya heran bahwa di jaman serbateknologi seperti sekarang ini masih saja ada kota yang belum seluruhnya tersentuh oleh hal itu. Kalau aku hidup disana, mungkin aku takkan tahan. Tapi, dengan melihat masyarakat yang tinggal di kota itu, dengan keadaan seperti itu, terlihat santai dan sangat menikmati. Mungkin mereka berpikir bahwa hidup di kota tenang seperti itu lebih baik daripada hidup di kota besar tapi banyak masalah. Padahal, mungkin saja jika mereka ingin hijrah ke kota besar, kan? Buktinya, mereka tetap betah tinggal disana tanpa ada keinginan untuk hijrah ke kota metropolitan atau ke kota megapolitan sekali pun.












Komentar Terakhir