Nothing
Ternyata, tak ada sesuatu pun yang terjadi kemarin. Hanya mungkin aku saja yang terlalu mendramatisir keadaan. Aku terlalu terbawa suasana. Mungkin memang tanggal 11 Juni itu bukan hanya sekedar tanggal bagiku. Tanggal itu memiliki arti yang lebih dibanding semuanya. Tapi, meski jaman sudah berkembang dan serbacanggih seperti sekarang ini, aku tetap tak bisa melakukan apapun—walau hanya ingin berucap satu patah kata.
Aku tahu aku tak boleh seperti ini. Mengharap sesuatu yang tak seharusnya bisa boleh aku harapkan. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri tentang kapan aku tersadar bahwa diantara aku dan dia ada dinding tebal kedap suara yang menelan seluruh suara yang aku teriakkan padanya? Kapan? Mungkin aku harus menenggelamkan diriku ke dasar sungai yang dalam terlebih dahulu—kalau perlu di kedalaman samudera sekalian—baru aku akan bisa melupakannya. Karena menurut buku yang aku baca dan film yang pernah aku lihat, kedalaman air bisa merusak jaringan otak, yang tentunya bisa membuat amnesia. Hmm, bagus untukku!
Apapun akan kulakukan asalkan aku bisa melupakan dia. Aku sudah tak sanggup lagi menahan semua ini. Kemana pun aku pergi, sejauh kakiku melangkah, kemana pun sudut mataku mengarah, selalu ada hal yang bisa mengingatkanku padanya. Oh, Tuhan, tolong aku!
Satu-satunya nomor kontak yang masih bisa kuingat, kini sudah tak lagi eksis. Apa yang terjadi? Padahal hanya itu yang masih tersisa tentangnya—di benakku. Kemudian, aku berpikir, “Mungkin kisah cerita antara aku dan dia harus berakhir sampai disini.”
“Goodbye, My Love!!”











Komentar Terakhir