Archive

Archive for July, 2009

Menghitung Jam, Menit, dan Detik

Kepindahanku dan suami ke rumah baru kami hanya tinggal menghitung hari. Aku berharap semoga semuanya berjalan lancar tanpa kurang suatu apa pun. Serta, aku pun berharap semoga dengan menempati rumah baru ini ada harapan baru dalam kehidupan rumah tanggaku. Selama ini memang aku merasa ‘terpenjara’ di rumahku sendiri, tak terkecuali suamiku. Mungkin hal itulah yang menyebabkan hingga saat ini aku dan suami belum dikaruniai seorang anak. Setiap wanita yang sudah menikah pasti menginginkan seorang anak dalam kehidupan rumah tangganya. Begitu pun aku. Anak bagaikan secercah cahaya yang akan menerangi langkahku menuju surga masa depan.

Harapan ini mungkin tak hanya berhenti sampai disini saja. Masih banyak harapan-harapan lain yang ingin kusampaikan. Namun, satu harapan yang sangat ingin aku capai dengan menempati rumah baru itu adalah hidup tenang, aman, dan nyaman dengan suara tangisan bayi yang sungguh sangat ingin aku dengar—secepatnya.

Sementara untuk urusan pekerjaanku semuanya masih sama. Tak ada sesuatu pun yang spesial yang terjadi baru-baru ini. Sungguh membosankan dan tak ada perkembangan. Aku masih tetap mempelajari hal-hal yang sama setiap hari. Kemarin, si bos marah-marah untuk permasalahan yang tidak jelas. Aku tanya temanku, Diana, dia bilang, “Nggak tahu, Mbak.”

Aku baru kali itu melihat si big boss marah. Menakutkan memang, dan benar apa kata teman-teman di kantor bahwa hati-hati terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan. “Jangan sampai membuat kesalahan,” begitu kata mereka. Mungkin, aku nanti juga akan mengalaminya andai aku tidak melakukan pekerjaanku dengan sebaik-baiknya. Uh, kalau begitu aku harus menata mentalku sejak sekarang.

Kemudian, tidak lama berselang setelah beliau marah-marah terhadap semua stafnya, aku tiba-tiba merasakan kantuk yang luar biasa. Pasalnya, aku diharuskan duduk dan mengamati seorang operation jahit menjahitkan sepatu yang bahan-bahannya telah aku siapkan sebelumnya. Tujuannya, agar aku mengerti bagaimana proses pembuatan sepatu dari awal hingga akhir. Saat itu, sepatu yang tengah aku buat sedang dalam proses jahit. Sialnya, yang menjahitkan sepatuku adalah seorang karyawan yang juga masih baru dan belum berpengalaman memegang mesin jahit. Alhasil, aku menunggui karyawan itu memegang dan menjahit sepatuku selama berjam-jam! Bagaimana aku tidak mengantuk kalau sudah begitu? Aku ingin berjalan kesana-kemari dengan maksud agar rasa kantukku sirna, tapi aku tidak diperbolehkan oleh seorang mandor yang bertugas mengawasiku. Aku juga sudah berusaha melakukan penyegaran dengan membasuh muka dan membasahi pelupuk mataku, tapi tak ada hasil. Aku tetap saja mengantuk. Aku menyerah dan aku hanya duduk diam disamping seorang karyawati jahit itu dengan sesekali menanyakan sesuatu hal agar jangan sampai aku tertidur. Tapi, aku tidak berhasil. Akhirnya, satu hal yang aku takutkan terjadi juga. Aku tertidur!

Tak lama setelah aku tertidur, aku dikagetkan oleh suara seseorang yang aku kira aku mendengarnya dalam mimpi. Ternyata, aku tidak bermimpi. Suara itu adalah suara Mr. Lee, sang big boss! Oh, My God, bodohnya aku! Mr. Lee—yang asli orang Taiwan—membangunkan aku dengan suara lantangnya dan dengan bahasa Indonesia terpatah-patah, “Hei, you, halo.. halo! Semua yang lain kerja, you tidur sendiri!” Lalu, dia berteriak kepada sang mandor, “Hei, ini harus ada yang temani ya, dia tidur ini, dia tidur. Ayo, suruh dia kemana-mana, jangan dibiarkan saja. Dia tidur ini!” katanya seraya menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku malu bukan main. Dengan suara seperti itu, dia terus-terusan menyebut kata-kata ‘tidur’ di depan banyak karyawati yang tengah bekerja. Duh! Kemudian, saat suaranya mulai kembali normal, dia kembali berkata kepadaku, “Hei, you belajar yang rajin ya. You harus cepat ingat!” katanya seraya menunjuk keningnya sendiri berkali-kali. Aku pun menjawab sambil mengangguk, “Iya, Mr. Lee.”

Hmpff.. hari itu sungguh suatu hari yang buruk bagiku. Belum pernah aku merasakan hal seperti itu sebelumnya. Setiap hari—Senin hingga Sabtu—aku selalu menghitung jam, menit, dan detik seraya bertanya dalam hati berapa jam lagi aku bisa pulang dan segera beristirahat di ranjangku yang empuk, merasakan sejuknya hawa AC, dan memeluk suami yang senantiasa menemaniku tidur? Itu mungkin masih akan terus berlanjut sampai aku mengakhiri masa training-ku yang masih tersisa sekitar dua bulan.

Tapi, bagaimana pun juga aku tidak merasa menyesal, ingin protes, mogok kerja, atau apapun itu. Segala konsekuensi harus bisa aku terima dengan lapang dada. Aku harus mulai meyakinkan diriku bahwa inilah jalanku dan disinilah rejekiku berada. Aku harus bisa bersabar sampai masa training ini berakhir dan aku bisa mulai bekerja dengan seluruh kemampuan yang aku miliki.

Categories: Job Tags: , , ,

Masa-masa Sulit

Tiba-tiba saja aku merasa rindu dengan pekerjaan lamaku. Entah apa yang terjadi aku sendiri tidak mengerti. Yang jelas, kerinduan ini bukan karena sesuatu ‘minus’ yang dulu pernah terjadi padaku hingga aku memutuskan keluar selang sehari setelah aku melangsungkan pernikahan. Semua ini semata-mata karena perbedaan latar belakang pekerjaan yang aku jalani.

Memang, tak ada satu pekerjaan pun di dunia ini yang mudah dan santai. Tapi setidaknya, aku tidak terlalu susah memahami operasional kerjaku yang dulu. Dalam beberapa hari saja aku sudah mengerti sebagian besar gambaran pekerjaanku. Mungkin hal itu juga masih berkaitan erat dengan latar belakang pekerjaan ayahku sebagai seorang pimpinan di lingkup pekerjaan yang sama. Sehingga, aku mudah memahami semua yang diajarkan kepadaku. Aku pun masih bisa memaksimalkan kualitas pekerjaanku dengan semua pemahaman yang aku miliki, disamping waktu kerja yang tidak menentu dan gaji di bawah rata-rata.

Sedangkan disini—di pekerjaan baruku ini—aku merasa bagaikan di ‘neraka’. Aku benar-benar tidak tahan akan hawa panas dan menyengat. Padahal, selama masa training yang berlangsung selama tiga bulan terhitung sejak tanggal 22 Juni itu aku akan selalu berada di bagian produksi yang sungguh panas dan menyengat. Aku benar-benar merasa tersiksa. Aku menyebut ini semua sebagai masa-masa sulit yang belum pernah aku alami di bidang pekerjaan mana pun, selain disini. Mungkin itu sebabnya aku tiba-tiba saja merindukan pekerjaanku dulu yang sungguh nyaman, tenang, aman, dan—mungkin bagiku—fun. Benar apa kata orang bahwa sesuatu memang terasa indah dan berharga saat kita sudah kehilangannya. Tapi, itu adalah masa laluku dan mustahil bagiku untuk kembali kesana.

Aku sudah memutuskan untuk berada disini dan sekuat tenaga akan aku jalani—semampuku, sebisaku. Dan, yang terpenting, kalau bukan karena aku sangat sayang suami dan keluarga kecilku aku takkan mau berada disini. Semoga saja ini semua segera berakhir dan aku bisa melakukan pekerjaan sesuai dengan tingkat kemampuan dan keahlianku.

Categories: Job Tags: ,

Sifat Manusia Berdasarkan Golongan Darah

Sifat manusia memang berbeda-beda. Namun, setiap dari mereka masing-masing pastilah memiliki ciri khas yang akan membedakan satu dengan yang lainnya. Termasuk disini adalah golongan darah kita masing-masing.

Seperti yang aku baca di salah satu sumber bahwa ternyata karakter manusia bisa dilihat dari golongan darah mereka. Golongan darahku AB—golongan darah papa B, sedangkan mama A—dan apa yang aku baca itu sangat sesuai dengan karakter dan kepribadianku. Seperti yang bisa dilihat disini:

Golongan Darah A

  1. Biasanya orang yang bergolongan darah A ini berkepala dingin, serius, sabar, dan kalem (cool, istilahnya).
  2. Orang yang bergolongan darah A ini mempunyai karakter yang tegas, bisa diandalkan dan dipercaya, namun keras kepala.
  3. Sebelum melakukan sesuatu mereka memikirkannya terlebih dahulu, dan merencanakan segala sesuatunya dengan matang. Mereka mengerjakan segalanya dengan sungguh-sungguh dan konsisten.
  4. Mereka berusaha membuat diri mereka sewajar dan se-ideal mungkin.
  5. Mereka bisa kelihatan menyendiri dan jauh dari orang-orang.
  6. Mereka mencoba menekan perasaan mereka dan karena sering melakukannya mereka terlihat tegar. Meskipun, sebenarnya mereka memiliki sisi diri yang lembek, seperti gugup, dan sebagainya.
  7. Mereka cenderung keras terhadap orang-orang yang tidak sependapat dengannya. Untuk itu, mereka cenderung berada di sekitar orang-orang memiliki temperamen yang sama seperti dirinya.

Golongan Darah B

  1. Orang yang memiliki golongan darah B cenderung penasaran dan tertarik terhadap segalanya.
  2. Mereka juga cenderung memiliki banyak kegemaran dan hobby. Jika sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu, namun juga cepat merasa bosan.
  3. Biasanya mereka bisa memilih mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang dikerjakannya.
  4. Mereka cenderung ingin menjadi nomor satu dalam berbagai hal ketimbang hanya dianggap rata-rata. Sekaligus, mereka biasanya cenderung melalaikan sesuatu jika terfokus dengan kesibukan yang lain. Singkat kata, mereka tidak bisa mengerjakan sesuatu secara bersamaan.
  5. Mereka dari luar terlihat cemerlang, riang, bersemangat, dan antusias. Namun, sebenarnya hal itu semua sama sekali berbeda dengan yang ada dalam diri mereka.
  6. Mereka bisa dikatakan sebagai orang yang tidak ingin bergaul dengan banyak orang.

Golongan Darah O

  1. Orang dengan golongan darah ini biasanya berperan dalam menciptakan gairah dalam suatu kelompok. Serta berperan dalam menciptakan suatu keharmonisan diantara para anggota kelompok tersebut.
  2. Figur mereka terlihat sebagai orang yang menerima dan melaksanakan sesuatu dengan tenang. Mereka pandai menutupi sesuatu, sehingga mereka terlihat selalu riang, damai, dan, tidak memiliki masalah sama sekali. Tapi, kalau tidak tahan mereka pasti akan mencari tempat untuk mengadu (curhat).
  3. Mereka biasanya pemurah, baik hati, dan senang berbuat kebajikan. Mereka dermawan dan tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk orang lain.
  4. Mereka biasanya dicintai oleh semua orang (loved by all). Tapi, mereka sebenarnya keras kepala, dan secara rahasia mempunyai pendapatnya sendiri tentang berbagai hal.
  5. Mereka sangat fleksibel dan sangat mudah menerima hal-hal yang baru.
  6. Mereka cenderung mudah dipengaruhi oleh orang lain dan apa yang mereka lihat di TV.
  7. Mereka terlihat berkepala dingin dan terpercaya, tapi mereka sering tergelincir dan membuat kesalahan yang besar karena kurang berhati-hati. Tapi, hal itu yang menyebabkan orang yang bergolongan darah O ini dicintai.

Golongan Darah AB

  1. Orang dengan golongan darah ini mempunyai perasaan yang sensitif dan lembut.
  2. Mereka penuh perhatian dengan perasaan orang lain dan selalu menghadapi orang dengan kepedulian serta kehati-hatian.
  3. Mereka juga keras dengan diri mereka sendiri dan orang-orang yang dekat dengannya.
  4. Mereka cenderung terlihat memiliki dua kepribadian.
  5. Mereka sering menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam.
  6. Mereka mempunyai banyak teman, tapi mereka membutuhkan waktu untuk menyendiri untuk memikirkan persoalan-persoalan mereka.
Categories: Knowledge Tags:

Perjalanan Karir

Mungkin perjalananku belum selesai, dan sama sekali belum berakhir. Semua masih akan berlanjut yang entah sampai kapan. Berbagai cobaan telah aku lalui. Mulai dari mencari satu buah pekerjaan hingga akhirnya mendapatkan berbagai tawaran untuk diterima bekerja di salah satunya. Semua datang silih berganti tanpa bisa aku hindari. Disaat aku terbelenggu dalam lingkaran putus asa, semua seolah sangat sulit aku capai dan rasanya berbagai ekspresi ‘tak mungkin’ berkecamuk di benakku. Begitu pun sebaliknya. Disaat aku sudah mendapatkan salah satu pekerjaan yang menurutku sangat baik untuk prospek karirku di masa depan, berbagai tawaran lain muncul menantiku. Disinilah aku harus menentukan pilihanku. Aku tak mungkin berada pada dua lokasi kantor yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Tapi, memutuskan untuk memilih salah satu pekerjaan itulah yang membuatku bingung. Di satu sisi menawarkan lokasi yang sangat dekat dengan rumah, namun dengan gaji kecil dan prospek karir yang bisa dibilang buruk. Sementara di sisi lain menawarkan prospek karir yang sangat bagus dan gaji yang meyakinkan, namun dengan lokasi yang sangat jauh dan transportasi yang lumayan susah bagiku yang tidak bisa mengendarai motor sendiri.

Disaat aku telah menjatuhkan pilihanku, aku tetap masih dibingungkan oleh beberapa pilihan lain. Sebuah perusahaan besar yang menawarkan sejumlah jenjang karir yang meyakinkan dan gaji yang terbilang cukup memuaskan memintaku dengan sangat untuk dapat bekerja disana. Sebenarnya aku tak perlu memusingkannya. Aku tinggal mengatakan kesanggupanku untuk dapat segera bergabung dengan mereka dan semuanya beres. Namun, tak semudah itu. Aku harus memikirkan hal lain yang juga sangat vital—terutama bagiku yang tidak bisa mengendarai motor sendiri. Yaitu, transportasi. Sarana kendaraan untuk dapat mencapai lokasi kantor itu sangatlah jauh dan tergolong sulit. Tapi, pihak kantor mengatakan bahwa aku tak perlu membingungkannya karena mereka telah menyediakan antar-jemput yang bersedia mengantarkanku pulang dan pergi. Baiklah, kalau begitu aku bersedia bergabung. Aku pun menyanggupinya. Aku harap aku bisa menikmati pekerjaanku disana.

Oh ya, aku lupa mengatakan bahwa pekerjaan dan segala apapun yang aku ceritakan tadi tak bukan dan tak lain adalah pekerjaanku di pabrik sepatu yang telah aku publish di postinganku yang lalu berjudul “tempat kerja baru”. Aku memang sempat ingin keluar dari sana beberapa waktu lalu dan berencana untuk bekerja di sebuah perusahaan bengkel asuransi yang berlokasi sangat dekat dengan tempat tinggalku. Hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit untuk mencapai lokasi kantor itu. Tak sulit memang, tapi untuk ukuran pendidikan dan segala kemampuan yang aku miliki rasanya perusahaan bengkel asuransi itu tak cocok untukku. Segala kemampuan yang aku miliki mungkin takkan pernah digunakan. Jadi, untuk apa aku menempuh pendidikan tinggi selama ini?

Tanpa kuduga, pabrik sepatu itu meneleponku kembali untuk tetap ingin mempertahankanku dan berupaya agar aku bersedia bergabung kembali dengan mereka. Setelah aku mengatakan alasan aku berhenti, mereka pun berusaha mencarikanku jalan keluar agar aku benar-benar kembali kesana. Dan memang benar. Setelah mereka menemukan jalan keluar untukku—dalam hal transportasi—aku pun bersedia kembali. Kalau memang aku dibutuhkan, aku akan dengan senang hati untuk kembali. Mungkin segala ketidaknyamanan, kebisingan, kepedihan, dan apapun yang aku rasakan selama dua minggu aku bekerja disana takkan aku pedulikan lagi. Itulah risiko orang bekerja, aku berpikir. Tak ada satu pun pekerjaan yang tidak membutuhkan kesabaran, keuletan, dan pengorbanan demi mencapai hasil yang memuaskan. Maka, aku harus bersabar. Semuanya demi kelangsungan hidupku di masa depan. Aku harus paham itu. Dan, semoga ke depannya aku akan mendapatkan balasan dari buah kesabaranku.

Categories: Job Tags: , , ,

Kecelakaan Kerja

Aku sama sekali tidak punya pengalaman bekerja di sebuah pabrik. Dan, aku pikir aku tidak akan bekerja di sebuah pabrik. Tapi, nasib seseorang siapa yang bisa menduga, kan? Ternyata aku sekarang bekerja disana—sebuah pabrik sepatu yang tergolong besar dengan jumlah karyawan sekitar 1000 orang yang berlokasi di daerah Sidomojo-Krian, Sidoarjo, Indonesia.

Aku memang masih sangat baru disitu, tapi aku sudah mendapat satu kecelakaan kerja yang melukai diriku sendiri. Jari kelingkingku memar-memar terpukul palu. Saat aku tengah melakukan pekerjaanku aku mengalami kesulitan dan aku meminta tolong kepada salah seorang teman. Tanpa sengaja ia memukul jariku sekeras-kerasnya dengan palu besar itu. Aku tak bisa meraung, berteriak, pun menangis. Aku hanya bisa menahan rasa sakit itu.

Setibanya di rumah barulah aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak bisa lagi menahan rasa sakit yang amat sangat bersemayam di jari kecilku. Tapi, dengan sabar suamiku mengobati lukaku dan menghilangkan rasa sakit itu.  Aku ingin mengakhiri masa kerjaku disana, tapi aku tak bisa begitu saja meninggalkan apa yang telah aku mulai.  Jauh dalam lubuk hatiku aku berjanji akan tetap bekerja disana sampai aku mungkin mendapatkan tempat kerja lainnya—yang tidak harus melukai diriku sendiri.

Categories: Job Tags: ,