Menghitung Jam, Menit, dan Detik
Kepindahanku dan suami ke rumah baru kami hanya tinggal menghitung hari. Aku berharap semoga semuanya berjalan lancar tanpa kurang suatu apa pun. Serta, aku pun berharap semoga dengan menempati rumah baru ini ada harapan baru dalam kehidupan rumah tanggaku. Selama ini memang aku merasa ‘terpenjara’ di rumahku sendiri, tak terkecuali suamiku. Mungkin hal itulah yang menyebabkan hingga saat ini aku dan suami belum dikaruniai seorang anak. Setiap wanita yang sudah menikah pasti menginginkan seorang anak dalam kehidupan rumah tangganya. Begitu pun aku. Anak bagaikan secercah cahaya yang akan menerangi langkahku menuju surga masa depan.
Harapan ini mungkin tak hanya berhenti sampai disini saja. Masih banyak harapan-harapan lain yang ingin kusampaikan. Namun, satu harapan yang sangat ingin aku capai dengan menempati rumah baru itu adalah hidup tenang, aman, dan nyaman dengan suara tangisan bayi yang sungguh sangat ingin aku dengar—secepatnya.
Sementara untuk urusan pekerjaanku semuanya masih sama. Tak ada sesuatu pun yang spesial yang terjadi baru-baru ini. Sungguh membosankan dan tak ada perkembangan. Aku masih tetap mempelajari hal-hal yang sama setiap hari. Kemarin, si bos marah-marah untuk permasalahan yang tidak jelas. Aku tanya temanku, Diana, dia bilang, “Nggak tahu, Mbak.”
Aku baru kali itu melihat si big boss marah. Menakutkan memang, dan benar apa kata teman-teman di kantor bahwa hati-hati terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan. “Jangan sampai membuat kesalahan,” begitu kata mereka. Mungkin, aku nanti juga akan mengalaminya andai aku tidak melakukan pekerjaanku dengan sebaik-baiknya. Uh, kalau begitu aku harus menata mentalku sejak sekarang.
Kemudian, tidak lama berselang setelah beliau marah-marah terhadap semua stafnya, aku tiba-tiba merasakan kantuk yang luar biasa. Pasalnya, aku diharuskan duduk dan mengamati seorang operation jahit menjahitkan sepatu yang bahan-bahannya telah aku siapkan sebelumnya. Tujuannya, agar aku mengerti bagaimana proses pembuatan sepatu dari awal hingga akhir. Saat itu, sepatu yang tengah aku buat sedang dalam proses jahit. Sialnya, yang menjahitkan sepatuku adalah seorang karyawan yang juga masih baru dan belum berpengalaman memegang mesin jahit. Alhasil, aku menunggui karyawan itu memegang dan menjahit sepatuku selama berjam-jam! Bagaimana aku tidak mengantuk kalau sudah begitu? Aku ingin berjalan kesana-kemari dengan maksud agar rasa kantukku sirna, tapi aku tidak diperbolehkan oleh seorang mandor yang bertugas mengawasiku. Aku juga sudah berusaha melakukan penyegaran dengan membasuh muka dan membasahi pelupuk mataku, tapi tak ada hasil. Aku tetap saja mengantuk. Aku menyerah dan aku hanya duduk diam disamping seorang karyawati jahit itu dengan sesekali menanyakan sesuatu hal agar jangan sampai aku tertidur. Tapi, aku tidak berhasil. Akhirnya, satu hal yang aku takutkan terjadi juga. Aku tertidur!
Tak lama setelah aku tertidur, aku dikagetkan oleh suara seseorang yang aku kira aku mendengarnya dalam mimpi. Ternyata, aku tidak bermimpi. Suara itu adalah suara Mr. Lee, sang big boss! Oh, My God, bodohnya aku! Mr. Lee—yang asli orang Taiwan—membangunkan aku dengan suara lantangnya dan dengan bahasa Indonesia terpatah-patah, “Hei, you, halo.. halo! Semua yang lain kerja, you tidur sendiri!” Lalu, dia berteriak kepada sang mandor, “Hei, ini harus ada yang temani ya, dia tidur ini, dia tidur. Ayo, suruh dia kemana-mana, jangan dibiarkan saja. Dia tidur ini!” katanya seraya menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku malu bukan main. Dengan suara seperti itu, dia terus-terusan menyebut kata-kata ‘tidur’ di depan banyak karyawati yang tengah bekerja. Duh! Kemudian, saat suaranya mulai kembali normal, dia kembali berkata kepadaku, “Hei, you belajar yang rajin ya. You harus cepat ingat!” katanya seraya menunjuk keningnya sendiri berkali-kali. Aku pun menjawab sambil mengangguk, “Iya, Mr. Lee.”
Hmpff.. hari itu sungguh suatu hari yang buruk bagiku. Belum pernah aku merasakan hal seperti itu sebelumnya. Setiap hari—Senin hingga Sabtu—aku selalu menghitung jam, menit, dan detik seraya bertanya dalam hati berapa jam lagi aku bisa pulang dan segera beristirahat di ranjangku yang empuk, merasakan sejuknya hawa AC, dan memeluk suami yang senantiasa menemaniku tidur? Itu mungkin masih akan terus berlanjut sampai aku mengakhiri masa training-ku yang masih tersisa sekitar dua bulan.
Tapi, bagaimana pun juga aku tidak merasa menyesal, ingin protes, mogok kerja, atau apapun itu. Segala konsekuensi harus bisa aku terima dengan lapang dada. Aku harus mulai meyakinkan diriku bahwa inilah jalanku dan disinilah rejekiku berada. Aku harus bisa bersabar sampai masa training ini berakhir dan aku bisa mulai bekerja dengan seluruh kemampuan yang aku miliki.











wah, klo githu semoga sukses n tetap sabar ngedepin trainingnya yach mbak..hehe
mksh jg udah mampir k blogQ
salam kenal
ha..ha.. yg namanya Mr. Lee di mana-mana sama aja ya… entah itu Lee Korea, Lee China atau Lee Taiwan.
Tetap semangat trainingnya mbak… nggak lama lagi berakhir kan?
nice info …. sist !!!
keep posting !!!