Archive

Archive for August, 2009

Tujuhbelasan ala Warga Sedati Permai

Hiruk-pikuk setiap warga negara Indonesia dalam menyambut kemerdekaan negerinya sangat beragam. Mulai dari menggelar event tahunan sampai acara-acara tradisional dengan tujuan mengenang jasa para pahlawan negeri yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi meraih satu kata, yaitu kemerdekaan.

Indonesia memiliki lebih dari 17.ooo pulau yang terbagi menjadi puluhan propinsi. Di tiap-tiap propinsi itu terdapat berbagai macam suku bangsa, dimana masing-masing dari mereka memiliki jiwa nasionalisme untuk merayakan hari jadi bangsa dan tanah airnya tercinta dengan caranya sendiri-sendiri.

Tak terkecuali dengan perayaan tujuhbelasan yang digelar di kawasan perumahan Sedati Permai, Sidoarjo—tempat tinggalku. Sejak awal bulan Agustus lalu, tiap-tiap warga sibuk mengadakan rapat mingguan demi membahas rangkaian acara yang akan diadakan pada malam menjelang kemerdekaan.

Pada tahun-tahun sebelumnya, acara yang digelar menjelang malam kemerdekaan selalu dihiasi dengan berbagai macam lomba anak-anak, remaja, dan dewasa dari sejak akhir bulan Juli hingga pertengahan Agustus. Namun, akhir-akhir ini lomba-lomba itu sudah jarang diadakan. Karena, selain pengadaan lomba yang membutuhkan dana yang cukup, juga peserta lomba yang bisa dibilang semakin berkurang dari tahun ke tahun.

Beberapa pengurus yang bertugas menangani acara tujuhbelasan mengakali semua itu dengan mengadakan acara lain yang juga menarik. Diantaranya pengadaan bazaar di sepanjang komplek perumahan Sedati Permai. Antusiasme warga dalam menyambut acara bazaar itu semakin menambah ramai acara tujuhbelasan di komplek perumahanku. Sejak pagi hingga matahari tepat diatas kepala beberapa petugas keamanan dengan dibantu sekelompok warga tengah sibuk mempersiapkan stand dan dekorasi yang akan digunakan berjualan pada sore harinya.

Tiap-tiap warga yang berpartisipasi dalam bazaar itu diizinkan menjual apapun yang sekiranya bisa menarik pembeli untuk mendatangi stand mereka. Setidaknya ada lebih dari lima stand yang berjajar di sepanjang komplek perumahan Sedati Permai itu menjual makanan dan minuman, meski ada beberapa diantara mereka yang hanya menjual snack-scack ringan. Sampai pukul enam sore, beberapa stand masih ramai dikunjungi orang. Beberapa diantaranya malah sudah ada yang bebenah untuk bersiap-siap kembali ke rumah dikarenakan barang dagangan yang telah habis terjual.

Sesuai dengan konsep awal bahwasanya bazaar itu memang dibuka untuk umum. Sehingga, pengunjung tidak hanya berlaku bagi komplek perumahan Sedati Permai saja, melainkan juga komplek-komplek perumahan tetangga yang letaknya berdekatan. Bisa dibayangkan betapa meriah acara bazaar di komplek perumahanku saat itu.

Aku sempat mengunjungi salah satu stand yang menjual rujak cingur yang berada paling ujung dari jalanan komplek perumahan Sedati Permai. Stand itu terlihat paling ramai dikunjungi orang, karena memang rujak cingur yang dibuatnya benar-benar diracik sendiri dan cara pembuatannya juga bersih. Harga yang ditawarkan pun tidak terlalu mahal. Sesampainya di rumah, aku segera mencicipi rujak cingur yang telah aku beli dan aku mengakui bahwa memang benar rasanya sungguh lezat. Walaupun hanya sebatas bazaar untuk meramaikan acara tujuhbelasan, namun rasa yang ditawarkan mampu menyaingi rujak cingur kelas restoran.

Stand Rujak Cingur

Stand Rujak Cingur

Stand Cap Go Mek

Stand Cap Go Mek

Stand Makanan Berprotein Tinggi

Stand Makanan Berprotein Tinggi

Aku memang tidak bisa membeli semua makanan dan minuman di bazaar itu, tapi hanya dengan melihat keramaian dan respons positif terhadap diadakannya acara bazaar di perumahan Sedati Permai aku sudah sangat senang dan bangga bahwa seluruh warga di tempat tinggalku masih memiliki semangat dan jiwa nasionalisme untuk merayakan hari ulangtahun negerinya.

Selain bazaar, masih ada lagi satu acara yang kami semua warga Sedati Permai menamakannya sebagai malam tirakatan atau malam tasyakuran hari kemerdekaan yang memang hanya diadakan setahun sekali setiap malam tanggal 16 Agustus hingga menjelang tengah malam tanggal 17 Agustus.

Acara tasyakuran ini adalah acara paling spesial—atau bisa dikatakan sebagai acara puncak—yang dipersiapkan dalam setiap rapat tahunan warga dikarenakan acara ini tidak memakan biaya yang sedikit dan menyangkut kepentingan orang banyak. Dalam setiap rapat itu dibahas tentang apa saja acara-acara yang akan ditampilkan dalam malam tasyakuran tersebut, apakah ada spontanitas dari warga yang bersedia mengisi acara, jenis makanan seperti apa yang akan dihidangkan sebagai konsumsi, dan yang terpenting adalah berapa banyak warga yang bersedia menjadi donatur dalam acara ini. Karena tidak dipungkiri bahwa tanpa adanya sumbangan berlebih dari warga yang kondisi ekonominya kuat dan hanya mengandalkan uang kas RT yang pas-pasan acara tasyakuran ini mustahil diadakan. Tapi, syukurlah tahun ini perumahan Sedati Permai memiliki kondisi kas yang lumayan, sehingga acara yang diadakan pada malam tasyakuran beserta hidangan yang tersaji terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Kalau di tahun-tahun sebelumnya kami hanya menikmati nasi kotak dan duduk bersila di sebuah karpet dan tikar sepanjang 4 hingga 5 rumah, tahun ini kami bisa menikmati hidangan sepuasnya yang tersaji secara prasmanan dengan duduk di kursi plastik berwarna putih yang tertata rapi.

Sajian Istimewa

Sajian Istimewa

Hmm.. yummy!

Hmm.. yummy!

Kambing Guling yang Lezat

Kambing Guling yang Lezat

Hidangan-hidangan itu disajikan di awal acara dikarenakan acara itu memang diadakan pada tepat jam makan malam, yaitu pukul tujuh malam. Setelah sambutan ketua RT, ketua panitia, dan seluruh warga yang menyanyikan hymne Indonesia Raya, para hadirin dipersilahkan menyentuh hidangan yang tersaji sembari menikmati serangkaian pertunjukan yang diramaikan oleh anak-anak dan orang dewasa.

Tari Remo

Tari Remo

Para Hadirin Warga Sedati Permai RT. 36

Para Hadirin Warga Sedati Permai RT. 36

Tari Mbok Jamu

Tari Mbok Jamu

Koor Ibu-Ibu

Koor Ibu-ibu

Drama Ande-ande Lumut

Drama Ande-ande Lumut

Menjelang pukul duabelas malam, para hadirin yang beberapa jam lalu berkerumun untuk menikmati berbagai pertujukan mulai berkurang satu persatu. Hal itu selain dikarenakan hari yang semakin malam juga karena anak-anak mereka yang harus segera beristirahat karena esok harinya mereka harus menghadiri upacara bendera di sekolah masing-masing.

Namun, ada beberapa warga—yang kebanyakan adalah bapak-bapak—masih berada di tempatnya sambil asyik berkaraoke ria dengan diselingi canda dan tawa. Ketika waktu tepat menunjukkan pukul duabelas malam, acara puncak pun dibuka dengan pemotongan tumpeng yang sejak awal telah disediakan oleh panitia. Sebelum tumpeng dipotong untuk yang pertamakalinya, para warga yang masih tersisa itu mengadakan acara doa bersama yang dipersembahkan untuk tanah air tercinta dalam bentuk rasa syukur yang tiada tara.

Tumpeng

Tumpeng

Setelah tumpeng dipotong, ada pembagian doorprize bagi nomor rumah yang terpilih. Doorprize itu berupa kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Setiap kepala keluarga memiliki dua kali kesempatan untuk mendapatkan doorprize.

Doorprize

Doorprize

Setiap tahun aku selalu menunggu-nunggu acara spesial di bulan yang juga spesial seperti itu. Selain menambah keakraban setiap warga satu dengan yang lainnya, bulan Agustus juga merupakan bulan yang penuh arti bagi setiap warga negara Indonesia. Salam hangat dan cinta, Untukmu Indonesiaku!

 

Pindah Divisi

Akhirnya aku terbebas juga dari ’setan’ bernama Dewi. Sekarang, aku tak harus berurusan lagi dengannya karena oleh Mr. Lee aku telah dipindahkan ke divisi lain—divisi order. Di divisi ini yang harus dikerjakan hanyalah menghitung dan menghitung. Yang dihitung tak lain adalah berapa banyak kain atau bahan yang dibutuhkan untuk membuat satu atau lebih jenis sepatu. Memang membutuhkan ketelitian tinggi dan kemampuan hitung yang diatas rata-rata. Terus terang saja, aku memang tak begitu pandai berhitung. Nilai Matematikaku semasa sekolah dulu saja selalu tak lebih tinggi dari angka 6. Tapi, setelah aku belajar selama dua hari di divisi order itu aku tak banyak mengalami kesulitan, karena ternyata bukan suatu hitungan rumit layaknya rumus phytagoras seperti saat-saat sekolah dulu. Melainkan suatu hitungan sederhana yang berkaitan dengan inch, centimeter, dan yard, yang diukur melalui mal (sketsa bentuk dan bagian-bagian sepatu).

Saat pertamakali aku di divisi itu aku belajar membuat hitungan satu jenis sepatu dengan sekitar limabelas mal yang telah disediakan. Mbak Utami—karyawan yang bertugas mengajariku—menunjukkan padaku bagaimana cara menghitung setiap bagian-bagian sepatu, karena setiap bagian memiliki cara penghitungan yang berbeda. Tapi anehnya, aku langsung mengerti cara menghitung setiap mal itu dengan sekali ajar. Mungkin masih banyak kesalahan disana-sini dengan hasil kerjaku, dan Mbak Utami mengomentari pekerjaanku dengan sesekali mengulang kembali apa yang telah diajarkannya padaku. Setelah keduakalinya aku mengerjakan penghitungan mal untuk jenis sepatu yang berbeda, pekerjaanku sudah mendekati sempurna. Aku sungguh puas dengan hasil pekerjaanku itu, karena disamping aku tidak menyangka akan kemampuan otakku—yang notabene-nya bisa dikatakan tidak ‘bersahabat’ dengan angka—aku bisa melakukan apa yang dipercayakan padaku dengan baik.

Tidak seperti waktu aku berada di divisi pembelian. Aku selalu mengalami depresi tak menentu, hingga aku tidak dapat memaksimalkan apa yang aku kerjakan. Divisi pembelian dituntut untuk dapat selalu mengingat bahan apa yang telah dibeli, bahan mana yang belum dikirim atau masih dalam tahap proses, dan pada supplier mana bahan itu dibeli. Divisi pembelian itu juga mungkin tak cocok untukku, karena aku orangnya pelupa. Sedangkan, bahan yang dibeli tak hanya satu atau dua jenis, tapi puluhan. Aku pun pernah terkena amarah Mr. Lee dikarenakan aku lupa bahan yang telah aku beli dan bahan yang belum terkirim. Aku dibentak-bentak, dimaki, serta diancam akan dikeluarkan dari kantor itu. Namun, akhirnya Mr. Lee memberiku kesempatan terakhir dengan memindahku ke divisi order (telah aku ceritakan di awal).

Di samping aku kesal, aku juga takut jika sampai aku terdepak dari kantor itu. Aku pun juga menyesal dengan diriku sendiri kenapa aku harus jadi seorang yang pelupa, sampai-sampai bahan yang kupesan sendiri terlupa olehku. Kalau saja aku bisa mengingat semuanya tentu hal buruk ini takkan menimpaku.

Uuuh, entahlah. Kepalaku seakan kejatuhan beban seberat satu ton. Inginnya mencari pekerjaan lain, tapi dimana? Jaman sekarang tak mudah mencari pekerjaan. Lulusan S1 sepertiku pun harus menunggu sekitar setengah tahun untuk mendapatkan satu pekerjaan—itu pun sang big bozz selalu naik darah tiap hari. Sebenarnya aku juga sering mendapatkan panggilan untuk interview dari berbagai macam jenis usaha, namun aku tak punya waktu untuk memenuhi setiap panggilan itu. Lagipula, suamiku berkata padaku agar aku tetap berada di kantorku yang sekarang dan menekuni pekerjaanku. Kalau bisa, dia bilang, aku dapat meningkatkan kinerjaku sampai aku mendapatkan posisi yang pasti dan jabatan yang lumayan bagus disana.

Itu memang niatku, tapi mungkin aku butuh waktu yang agak lama untuk memenuhinya. Sekarang saja, aku masih bingung akan posisiku yang sesungguhnya. Entah dimana Mr. Lee akan menempatkan aku. Yang jelas—dan yang aku tahu—aku harus berusaha dan melakukan apapun tugas yang diberikan padaku dengan sebaik-baiknya.

Categories: Job Tags: , , ,

Flashback

Sekarang aku sudah agak mengerti bagaimana aku harus bekerja di kantor. Tentunya aku masih sedikit bertanya kepada Dewi tentang hal yang tak kumengerti, tapi tidak banyak. Karena, menurutku Dewi sekarang agak menjengkelkan. Hadirnya seorang laki-laki sebagai karyawan baru pengganti karyawan outsole yang telah re-sign beberapa bulan lalu itu cukup menyita perhatiannya. Entah karena apa. Padahal, dia sendiri sudah mempunyai kekasih. Tapi, sudahlah biar saja. Aku tak mau mencampuri urusan pribadinya.

Aku mengatakan kalau Dewi sekarang agak menjengkelkan karena dia selalu mengajarkan sesuatu hal yang menurutku tidak terlalu penting kepada karyawan baru itu. Apa mungkin karena karyawan baru itu laki-laki—yang menurut orang-orang lumayan tampan—dan aku perempuan? Apapun itu yang jelas aku sekarang merasa tidak lagi nyaman dengan orang bernama Dewi di kantor itu. Kebetulan memang Dewi akan re-sign dalam rentang bulan September 2009 nanti—dan aku berharap semoga waktu re-sign itu dipercepat, kalau bisa. Walaupun nantinya aku mungkin akan kesusahan sendiri karena Dewi re-sign, bagiku bukan masalah besar, yang penting aku merasa nyaman di kantor itu tanpa adanya Dewi.

Tapi, di tengah-tengah ‘penderitaan’ yang aku alami, aku masih bisa tersenyum. Kemarin, aku menelepon Mbak Tri dan menanyakan kabar terbaru di kantorku yang lama. Mungkin tak banyak perubahan, karena pekerjaan mereka memang seperti itu. Hanya saja ada pengurangan jatah ekspor diakibatkan karena krisis global yang melanda dunia akhir-akhir ini. Aku memang tak bisa banyak berbicara karena keterbatasan waktu, tapi aku sudah merasa sangat terhibur dengan itu. Mungkin aku akan melakukannya lagi walaupun tidak akan terlalu sering. Karena, dengan begitu aku seperti merasakan flashback ke suatu masa dimana aku diperlakukan sewajarnya di tempat yang pada awalnya aku merasa asing, namun akhirnya aku merasa bahwa teman-temanku disana seperti keluarga bagiku—yang mungkin tidak bisa aku dapatkan di kantor baru ini, sampai kapan pun.

Categories: Job Tags: , , ,

Rindu ini Akan Tetap Ada

Lagi-lagi tentang masalah pekerjaan. Sekarang, aku baru menyadari bahwa apa yang aku lakukan disini sangat-sangat tidak sesuai dengan jiwaku. Kalau ingin tahu yang sebenarnya jiwa ini harus berada dimana, akan kukatakan. Jiwaku seharusnya berada di perak, tempat dimana kapal berlalu-lalang untuk mengirim barang ke luar negeri dengan menggunakan container. Ooh.. aku merindukan itu! Kenapa saat dulu aku mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan itu justru aku sendiri yang menghancurkannya? Kenapa aku harus berulah hingga tragedi itu terjadi dan membuat semua orang melarangku untuk tetap bekerja disana? Aku memang bodoh. Sangat bodoh.

Aku pikir dengan keluarnya aku dari kantor lamaku aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan gaji yang lebih memadai. Ternyata memang benar, harapan itu terkabul. Tapi tak bisa semudah itu. Ada yang harus aku bayar sebelum aku bisa menikmati semuanya—dan itu bernama penderitaan batin. Disini, aku sama sekali tidak bisa memahami bagaimana prosedur kerja yang benar. Sekalinya aku bisa mereka-reka apa yang kira-kira harus dilakukan, ternyata ada prosedur lain yang harus dilakukan terlebih dahulu. Hal itu cukup membingungkan aku. Kalau begitu caranya, sampai kapan pun aku takkan pernah bisa mengerti. Aku masih dalam tahap belajar, dimana aku seharusnya dibimbing untuk dapat mengerti proses kerja yang sesungguhnya dan yang terpenting apa yang harus aku lakukan nanti.

Terkadang aku merasa sebal dengan orang-orang di kantor ini. Mereka seolah membiarkan dan mengabaikan aku. Disaat aku bertanya untuk meminta kejelasan mereka terkesan ogah-ogahan dan memberikan jawaban sekenanya dan tidak pasti. Bagaimana seorang murid bisa belajar dengan cepat kalau saat ia bertanya kepada sang guru perihal apa yang tidak ia mengerti lantas guru itu tidak memberikan jawaban yang benar? Aneh memang, tapi itulah kenyataan yang aku alami saat ini.

Aku selalu dituntut untuk dapat dengan cepat mempelajari seluruh seluk-beluk sepatu berikut ribuan warna dan modelnya, tapi Dewi—si pengajar—selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Dan, saat aku memintanya untuk mengajariku dan memberitahuku apa yang harus aku lakukan, dia selalu menjawab, “Mbak belajar sendiri aja. Aku nggak bisa kalau harus ngajari mbak terus. Kerjaanku ya banyak.” Aku pun terdiam. Kemudian, ia melanjutkan, “Aku dulu ya belajar sendiri kok.” (?) Tak berapa lama setelah itu, saat aku ingin bertanya tentang sesuatu yang tak kumengerti, Dewi malah asyik memakan kue di ruangannya dengan bersembunyi di bawah meja. Apakah seperti itu yang dibilang sibuk?

Coba lihat, maksudnya apa itu? Apa aku harus seperti dia dulu? Apakah pantas seorang pembimbing berkata seperti itu? Apakah pantas dia memperlakukan aku seperti itu? Aku akui bahwa dia memang pintar walau umurnya masih sangat muda—bahkan mungkin lebih muda dari adikku. Tapi, sikap semena-menanya kepadaku tidak bisa aku terima. Kalau aku sudah mengerti bagaimana cara kerja di pabrik sepatu sebagai staf pembelian, aku akan jalan sendiri dan aku tak mungkin membutuhkan bantuannya. Hanya saat ini saja aku masih sangat membutuhkan bantuannya sampai waktu training-ku berakhir. Apakah itu sulit?

Namun, nampaknya memang aku sudah harus berjalan sendiri meski aku belum tahu pasti apa yang harus aku lakukan. Hal itu disebabkan hadirnya seseorang yang baru yang juga membutuhkan bimbingan dari Dewi. Mungkin aku takkan lagi terlalu diperhatikan. Disitu, oleh kepala bagian (kabag) pembelian—Mrs. Suman—aku selalu dituntut dan terus dituntut untuk dapat belajar lebih cepat—entah lebih cepat dari siapa atau apa—agar aku segera bisa melakukan tugasku dengan baik. Dalam hati pun aku ingin belajar dengan cepat dan bisa segera mengerti bagaimana sebenarnya prosedur kerja yang berlaku disitu. Tapi, kalau dibimbing dan diperhatikan saja aku tidak pernah, bagaimana aku bisa cepat belajar? Entahlah, siapa yang seharusnya dipersalahkan dalam hal ini. Mungkin tak ada yang patut dipersalahkan, tapi harus ada yang bertanggungjawab dan dipertanggungjawabkan—dan itu aku tidak tahu.

Kalau keadaan terus seperti ini, lambat laun aku akan selalu membandingkan cara training disini dan di pekerjaanku yang lama. Aku dulu juga pernah merasakan menjadi karyawan baru, tapi dulu aku begitu diperhatikan dan orang-orangnya tidak terlalu menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing—walau mereka memang tak bisa dibilang tidak sibuk. Telepon selalu berdering silih berganti. Belum lagi suara handy-talky yang selalu memanggil-manggil seperti radio dalam taksi. Namun, di sela-sela pekerjaan itu, Mbak Tri—seseorang yang mengajariku waktu itu—berkata bahwa seperti itulah kesibukan mereka sehari-hari. Saat ia tidak sedang menerima telepon dan pekerjaannya sudah agak longgar, ia pun mengajariku tentang seluk-beluk, prosedur, serta bagaimana cara mereka bekerja dalam menangani eksporter yang terkadang terkesan rewel dan banyak maunya. Aku pun jadi mengerti dan bisa langsung belajar meng-handle suatu pekerjaan di bawah bimbingan Mbak Tri. Setelah order yang aku pegang bisa dibilang beres, Mbak Tri pun berkata, “Kerjaan kita ya cuma gitu aja. Yang repot kan waktu kita terima telepon dari shipper. Kadang mereka nggak mau tahu urusan kita.”

Sejak itulah, aku langsung bisa meng-handle eksporter (shipper) sendiri hanya dalam jangka waktu tiga minggu. Aku sendiri pun tidak menyangka bahwa aku bisa belajar dengan begitu cepat. Untuk penanganan eksporter yang agak mudah memang aku tangani sendiri, tapi kalau sudah menyangkut hal-hal yang aku pikir serius, aku memang masih membutuhkan bantuan Mbak Tri. Tapi, beliau dengan sabar mau membantuku untuk mempelajari hal-hal yang paling rumit sekali pun berikut cara penanganannya. Disitulah aku merasa salut dengan Mbak Tri.

Dan, seharusnya memang seperti itulah cara training yang benar—setidaknya itu menurutku. Karena, sudah terbukti bahwa aku lebih cepat mengerti akan cara kerja di kantorku yang lama dibanding sekarang. Sudah sebulan aku disini tapi aku baru sedikit sekali mempelajari sesuatu. Terkadang, di sela-sela waktu luangku aku merindukan kantor lamaku dengan sejuta kenangan yang tertinggal disana. Kalau di kantor baru ini aku tetap diperlakukan semena-mena dan tidak diperhatikan, sampai kapan pun rindu ini akan tetap ada—untuk selamanya.

Categories: Job Tags: , , , ,