Rindu ini Akan Tetap Ada
Lagi-lagi tentang masalah pekerjaan. Sekarang, aku baru menyadari bahwa apa yang aku lakukan disini sangat-sangat tidak sesuai dengan jiwaku. Kalau ingin tahu yang sebenarnya jiwa ini harus berada dimana, akan kukatakan. Jiwaku seharusnya berada di perak, tempat dimana kapal berlalu-lalang untuk mengirim barang ke luar negeri dengan menggunakan container. Ooh.. aku merindukan itu! Kenapa saat dulu aku mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan itu justru aku sendiri yang menghancurkannya? Kenapa aku harus berulah hingga tragedi itu terjadi dan membuat semua orang melarangku untuk tetap bekerja disana? Aku memang bodoh. Sangat bodoh.
Aku pikir dengan keluarnya aku dari kantor lamaku aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan gaji yang lebih memadai. Ternyata memang benar, harapan itu terkabul. Tapi tak bisa semudah itu. Ada yang harus aku bayar sebelum aku bisa menikmati semuanya—dan itu bernama penderitaan batin. Disini, aku sama sekali tidak bisa memahami bagaimana prosedur kerja yang benar. Sekalinya aku bisa mereka-reka apa yang kira-kira harus dilakukan, ternyata ada prosedur lain yang harus dilakukan terlebih dahulu. Hal itu cukup membingungkan aku. Kalau begitu caranya, sampai kapan pun aku takkan pernah bisa mengerti. Aku masih dalam tahap belajar, dimana aku seharusnya dibimbing untuk dapat mengerti proses kerja yang sesungguhnya dan yang terpenting apa yang harus aku lakukan nanti.
Terkadang aku merasa sebal dengan orang-orang di kantor ini. Mereka seolah membiarkan dan mengabaikan aku. Disaat aku bertanya untuk meminta kejelasan mereka terkesan ogah-ogahan dan memberikan jawaban sekenanya dan tidak pasti. Bagaimana seorang murid bisa belajar dengan cepat kalau saat ia bertanya kepada sang guru perihal apa yang tidak ia mengerti lantas guru itu tidak memberikan jawaban yang benar? Aneh memang, tapi itulah kenyataan yang aku alami saat ini.
Aku selalu dituntut untuk dapat dengan cepat mempelajari seluruh seluk-beluk sepatu berikut ribuan warna dan modelnya, tapi Dewi—si pengajar—selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Dan, saat aku memintanya untuk mengajariku dan memberitahuku apa yang harus aku lakukan, dia selalu menjawab, “Mbak belajar sendiri aja. Aku nggak bisa kalau harus ngajari mbak terus. Kerjaanku ya banyak.” Aku pun terdiam. Kemudian, ia melanjutkan, “Aku dulu ya belajar sendiri kok.” (?) Tak berapa lama setelah itu, saat aku ingin bertanya tentang sesuatu yang tak kumengerti, Dewi malah asyik memakan kue di ruangannya dengan bersembunyi di bawah meja. Apakah seperti itu yang dibilang sibuk?
Coba lihat, maksudnya apa itu? Apa aku harus seperti dia dulu? Apakah pantas seorang pembimbing berkata seperti itu? Apakah pantas dia memperlakukan aku seperti itu? Aku akui bahwa dia memang pintar walau umurnya masih sangat muda—bahkan mungkin lebih muda dari adikku. Tapi, sikap semena-menanya kepadaku tidak bisa aku terima. Kalau aku sudah mengerti bagaimana cara kerja di pabrik sepatu sebagai staf pembelian, aku akan jalan sendiri dan aku tak mungkin membutuhkan bantuannya. Hanya saat ini saja aku masih sangat membutuhkan bantuannya sampai waktu training-ku berakhir. Apakah itu sulit?
Namun, nampaknya memang aku sudah harus berjalan sendiri meski aku belum tahu pasti apa yang harus aku lakukan. Hal itu disebabkan hadirnya seseorang yang baru yang juga membutuhkan bimbingan dari Dewi. Mungkin aku takkan lagi terlalu diperhatikan. Disitu, oleh kepala bagian (kabag) pembelian—Mrs. Suman—aku selalu dituntut dan terus dituntut untuk dapat belajar lebih cepat—entah lebih cepat dari siapa atau apa—agar aku segera bisa melakukan tugasku dengan baik. Dalam hati pun aku ingin belajar dengan cepat dan bisa segera mengerti bagaimana sebenarnya prosedur kerja yang berlaku disitu. Tapi, kalau dibimbing dan diperhatikan saja aku tidak pernah, bagaimana aku bisa cepat belajar? Entahlah, siapa yang seharusnya dipersalahkan dalam hal ini. Mungkin tak ada yang patut dipersalahkan, tapi harus ada yang bertanggungjawab dan dipertanggungjawabkan—dan itu aku tidak tahu.
Kalau keadaan terus seperti ini, lambat laun aku akan selalu membandingkan cara training disini dan di pekerjaanku yang lama. Aku dulu juga pernah merasakan menjadi karyawan baru, tapi dulu aku begitu diperhatikan dan orang-orangnya tidak terlalu menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing—walau mereka memang tak bisa dibilang tidak sibuk. Telepon selalu berdering silih berganti. Belum lagi suara handy-talky yang selalu memanggil-manggil seperti radio dalam taksi. Namun, di sela-sela pekerjaan itu, Mbak Tri—seseorang yang mengajariku waktu itu—berkata bahwa seperti itulah kesibukan mereka sehari-hari. Saat ia tidak sedang menerima telepon dan pekerjaannya sudah agak longgar, ia pun mengajariku tentang seluk-beluk, prosedur, serta bagaimana cara mereka bekerja dalam menangani eksporter yang terkadang terkesan rewel dan banyak maunya. Aku pun jadi mengerti dan bisa langsung belajar meng-handle suatu pekerjaan di bawah bimbingan Mbak Tri. Setelah order yang aku pegang bisa dibilang beres, Mbak Tri pun berkata, “Kerjaan kita ya cuma gitu aja. Yang repot kan waktu kita terima telepon dari shipper. Kadang mereka nggak mau tahu urusan kita.”
Sejak itulah, aku langsung bisa meng-handle eksporter (shipper) sendiri hanya dalam jangka waktu tiga minggu. Aku sendiri pun tidak menyangka bahwa aku bisa belajar dengan begitu cepat. Untuk penanganan eksporter yang agak mudah memang aku tangani sendiri, tapi kalau sudah menyangkut hal-hal yang aku pikir serius, aku memang masih membutuhkan bantuan Mbak Tri. Tapi, beliau dengan sabar mau membantuku untuk mempelajari hal-hal yang paling rumit sekali pun berikut cara penanganannya. Disitulah aku merasa salut dengan Mbak Tri.
Dan, seharusnya memang seperti itulah cara training yang benar—setidaknya itu menurutku. Karena, sudah terbukti bahwa aku lebih cepat mengerti akan cara kerja di kantorku yang lama dibanding sekarang. Sudah sebulan aku disini tapi aku baru sedikit sekali mempelajari sesuatu. Terkadang, di sela-sela waktu luangku aku merindukan kantor lamaku dengan sejuta kenangan yang tertinggal disana. Kalau di kantor baru ini aku tetap diperlakukan semena-mena dan tidak diperhatikan, sampai kapan pun rindu ini akan tetap ada—untuk selamanya.











apaan tuuh sist ..????
ijin nyimak dulu … dah …
nice blog !!!keep posting
yaps begitulah hidup….enjoy it…pelajarilah apa yang sedang terjadi sama kamu saat ini..suatu saat kamu akan tersenyum jika mengingat cerita ini kelak..;)