Sekolah di Luar Negeri
Entah sejak kapan aku memiliki impian untuk bisa sekolah di luar negeri. Sebelumnya, aku tak pernah memedulikan hal itu, karena aku pikir itu sesuatu hal yang mustahil untuk bisa aku capai. Tapi, setelah aku renungkan, tak ada yang tak mungkin untuk dicapai selama ada usaha.
Sejak aku duduk di bangku SMP, aku tak pernah suka pelajaran bahasa Inggris—dan sangat membencinya. Aku masih ingat beberapa tahun lalu, saat guru bahasa Inggris yang juga wali kelasku tengah menerangkan vocabulary, structure, serta kosakata dalam bahasa Inggris, aku malah asyik bergurau sendiri dengan teman sebangkuku. Anehnya, hanya aku yang ditegur oleh guruku. Mungkin karena suaraku yang kelewat keras cukup mengganggu konsentrasi belajar teman-temanku. Aku malu, tapi aku tetap tidak peduli. Aku benci bahasa Inggris, dan aku sempat berpikir kala itu, “Untuk apa belajar bahasa Inggris? Toh, bahasa itu tidak dipakai dalam keseharian. Dasar kebarat-baratan!”
Tapi, aku segera menyadari kesalahanku—dan aku ingin menarik kembali kata-kataku. Saat tanpa sengaja aku membaca sebuah majalah yang membahas tentang Inggris dan ibukotanya, aku langsung tertarik dengan keindahannya. Mungkin tak seindah kota atau pulau yang sering didatangi oleh wisatawan domestik atau mancanegara, tapi cukup menyita perhatianku.
Aku mulai pergi ke perpustakaan, membaca buku-buku yang mengulas tentang negara Inggris, membuka internet dan melihat beberapa pemandangan indah disana. Ditambah lagi saat aku menonton film 102 Dalmatians yang mengambil setting di London. Salah satu yang aku kagumi dari kota London adalah jam raksasa Big Ben yang menjadi acuan seluruh waktu di dunia.
Sekitar tahun 2002, sekedar iseng aku menonton pertandingan sepak bola. Saat itu, sedang ramai-ramainya world cup 2002. Semua acara televisi menayangkan pertandingan-pertandingan yang sudah atau sedang berlangsung. Mau tidak mau, aku harus menontonnya. Awalnya, aku memang tidak suka sepak bola. Tapi, sejak menonton pertandingan world cup 2002 itu, aku jadi gila bola. Aku sangat suka dengan tim Inggris. Mulai dari strategi permainan hingga para pemainnya mampu menarik perhatianku dan semakin membuatku penasaran dengan Inggris. Tak hanya itu, semua liga Inggris yang terdiri dari kurang lebih 370 pertandingan selalu aku tonton setiap harinya. Chelsea adalah klub favoritku sejak aku mengikuti pertandingan liga primera untuk yang pertamakalinya.
Gambar-gambar diatas telah cukup menunjukkan sebagian dari keindahan Inggris di mata dunia—sekaligus merupakan alasanku mengapa aku ingin sekali menimba ilmu disana. Dan, satu hal lagi, aku suka belajar sejarah dan kebudayaan dari seluruh negara di dunia. Alangkah senangnya apabila aku memang benar-benar berangkat ke Inggris dan mempelajari sesuatu yang menakjubkan disana.
Sebelumnya, aku sama sekali tak pandai berbicara bahasa Inggris. Tapi, demi keinginanku yang kian hari kian bertambah, akhirnya aku mendalami bahasa Inggris tak kurang dari dua tahun lamanya. Semakin lama kemampuan berbahasa Inggrisku semakin bertambah. Aku akhirnya menyadari bahwa mempelajari bahasa asing tak sesulit yang kubayangkan. Pernah suatu kali, saat aku duduk di bangku SMU, semua teman-temanku menyebutku sebagai “kamus berjalan”. Sebutan itu aku dapat karena aku sering mengajari mereka bahasa Inggris, dan sering mengalihbahasakan satu paragraf berbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia atas permintaan mereka.
Aku bangga dengan prestasi itu, namun aku sekaligus berpikir. “Kemampuan berbahasaku masih di bawah standard”, pikirku dalam hati. Hal itu aku sadari saat aku tanpa sengaja menonton DVD tanpa subtitle Indonesia dan aku kurang memahami apa yang mereka bicarakan. Mungkin aku masih bisa mengerti saat mereka berbicara dalam tempo lambat. Itu artinya kemampuan berbahasaku masih di bawah standard. Untuk itu, aku menambah porsi kursus berbahasaku dengan sedikit lebih banyak dari biasanya. Aku belajar dan terus belajar sampai akhirnya aku mengikuti tes TOEFL untuk menguji kemampuan berbahasaku dan hasilnya cukup bagus, walaupun tak terlalu sempurna.
Sekarang, saat kemampuan berbahasaku sudah memenuhi standard untuk bisa bersekolah di Inggris, aku telah siap berangkat. Kini, aku tengah berupaya menabung untuk bisa bersekolah di negeri impianku. Tekadku sudah bulat dan tak ada keraguan lagi yang mungkin menghalangiku untuk meraih apa yang aku impikan dan cita-citakan.
































Komentar Terakhir