Archive

Archive for the ‘Duty’ Category

Hari Itu pun Datang

October 18, 2008 Sotyasari Dhanisworo 1 comment
Me in My Graduation Day

Me in My Graduation Day

Akhirnya, hari yang paling aku tunggu-tunggu pun datang juga..!

Hari Kelulusanku..!

Hatiku sangat lega sekali. Akhirnya, satu puncak dari perjalanan panjang yang aku tempuh selama ini terbalaskan dalam upacara resmi yang berlangsung selama 4 jam. Suasana di dalam ruangan upacara wisuda yang dihadiri oleh sekitar 900-an wisudawan itu dimeriahkan oleh suara alunan koor para tim paduan suara yang membawakan lagu-lagu wajib, hymne Universitas Surabaya (Ubaya), hymne guru, dan lagu-lagu lain. Juga sambutan dari rektor selaku pimpinan kampus yang menyampaikan ucapan selamat, amanat-amanat pendek, juga ucapan terima kasih kepada seluruh undangan yang telah hadir dalam upacara itu.

Semua wisudawan yang hadir tampak bahagia dalam balutan ‘jubah hitam’ bernama gordon dengan kombinasi warna merah dan kuning, serta toga berbentuk bujursangkar menyerupai buku dengan gantungan pita berwarna-warni sesuai dengan simbol fakultas itu. Biru muda untuk fakultas ekonomi, Biru tua untuk fakultas teknik, Putih untuk fakultas farmasi, Merah untuk fakultas hukum, Ungu untuk fakultas psikologi, Hijau untuk para wisudawan yang mengambil jurusan politeknik atau setara D3, dan Hitam untuk para wisudawan yang lulus dengan mengantongi gelar strata 2 atau S2.

Kita semua, termasuk aku, sangat-sangat bahagia hingga tidak tahu harus mengucapkan apa. Sebuah perjalanan panjang yang dilaui dengan susah payah, derai airmata, dan berbagai macam pengorbanan yang entah sudah berapa banyak, akhirnya usai sudah. Aku merasa bangga dengan diriku sendiri yang tidak menyangka bisa sampai pada tahap ini. Semua ini bisa aku raih karena aku tidak sekalipun terlepas dari bantuan orang-orang yang telah banyak membantuku.

Untuk itu, untuk kesekian kalinya, aku berucap terima kasih atas semua bantuan yang telah diberikan. Aku belum tentu bisa membalas kebaikan-kebaikan itu dalam waktu dekat. Tapi ucapan itu tulus berasal dari lubuk hatiku yang paling dalam, dan jika Tuhan mengijinkan, aku akan diberikan waktu untuk bisa membalas budi mereka. Amin!

Categories: Duty Tags:

Finally..!!

“Finally, I can do this as everyone wish to me!!”

Yeah..! Akhirnya aku bisa mencapai sesuatu yang tidak pernah aku duga sebelumnya—bahkan setelah pengumuman itu dibacakan pun aku belum sepenuhnya sadar. Yah, aku tidak menyangka bahwa aku bisa mewujudkan impianku dan impian semua orang yang telah mendukungku menjadi sesuatu hal yang teramat indah untuk dilukiskan.

“Aku LULUS!!”

Ya, aku lulus! Senangnya..! Walaupun aku lulus dengan nilai relatif B, aku sudah sangat bersyukur dan bahagia sekali. Karena pada awalnya aku hanya menargetkan nilai kelulusan ini adalah C. Aku sangat-sangat lega, karena mulai dari saat inilah aku bisa terbebas dari segala macam beban. Namun, apa yang aku bilang bebas itu tidak sepenuhnya bebas. Aku masih punya satu tanggungan lagi untuk aku wujudkan, yaitu: mencari pekerjaan yang sesuai dengan apa yang aku inginkan.

Mungkin tingkat kesulitan yang akan aku dapatkan tidak sama dengan tingkat kesulitan yang harus aku hadapi ketika aku mengusahakan segalanya agar aku bisa mencapai kata lulus beberapa hari yang lalu. Tapi setidaknya, usaha yang harus aku lakukan untuk mencapai apa yang aku inginkan setelah ini, sedikit banyak sama.

Sekarang, harapanku adalah: aku bisa sukses dengan segala kemampuan yang aku miliki dan bisa mewujudkan semua impanku. Karena aku yakin, semua itu bisa aku raih—cepat atau lambat..

Categories: Duty Tags: , ,

Hari itu Semakin Dekat

Hari itu—hari penentuanku untuk mengakhiri masa studiku—sudah semakin dekat. Tapi, aku belum mempersiapkan apapun. Bahkan, ketika aku ditanya seputar skripsi yang aku kerjakan sendiri pun, aku tidak punya jawaban yang meyakinkan. Lalu, aku harus bagaimana?

Aku tidak tahu lagi harus mempersiapkan jawaban yang seperti apa. Otakku blank sama sekali. Biasanya aku selalu punya seribu satu cara untuk ‘ngeles’, tapi sekarang? Aku ngeles yang kayak gimana, coba? Semuanya sudah harus terstruktur. Nggak bisa lagi jawab yang asal-asalan, apalagi jawab yang nggak sesuai dengan apa yang sudah tertulis.

Aku benar-benar bingung sekarang. Awalnya aku yakin aku bisa jawab semua pertanyaan seputar skripsi, karena skripsi itu memang aku sendiri yang buat—tanpa bantuan orang lain. Tapi nyatanya aku salah. Tadi pagi saat aku briefing dengan dosen pembimbing, aku sudah sakit perut nggak keruan sehingga berakibat pada bahasaku yang acak-acakan saat menjawab pertanyaan. Hingga jawaban yang aku berikan sangat-sangat jelek dan tidak fokus pada pertanyaan. Dosen pembimbingku sih hanya bertanya perihal kesiapanku menghadapi ujian besok—walau pada akhirnya beliau memberikan jawaban yang benar atas pertanyaannya tadi. Aku sungguh bersyukur karena aku mendapatkan jawaban yang benar atas pertanyaan itu dan segera aku catat. Namun, jauh di dalam lubuk hatiku muncul sebuah pertanyaan mengerikan, “Itu baru pertanyaan dari dosen pembimbing. Bagaimana jika nanti yang bertanya adalah dosen penguji dan pertanyaan yang diberikan sama sekali tidak pernah aku duga?”

Aduh, entahlah! Aku pusing memikirkannya. Belum-belum aku sudah takut dan sakit perut begini, apalagi nanti. Aku hanya bisa belajar dan berdoa semampuku, serta meminta yang terbaik pada Yang Diatas. Aku serahkan semuanya padaNya dan berharap mendapatkan hasil yang memuaskan. Amin!

Categories: Duty Tags: , , ,

What Should I Do?

Selalu ada satu pertanyaan yang muncul di benakku saat sebuah kesulitan datang menghampiriku, “Apa yang harus aku lakukan?”

Ya, sama seperti saat ini. Aku menemui satu kesulitan setelah satu kesulitan lain telah berhasil aku atasi. Tapi, aku merasa kesulitan yang ini lebih berat daripada kesulitan-kesulitan yang aku hadapi sebelumnya. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, aku tak tahu. Yang jelas, semuanya membuatku takut.

Aku tidak pernah tidak merasa takut akan sesuatu. Untuk satu hal yang baru pertamakali aku jalani, aku selalu merasa takut. Aku heran, kenapa aku tidak bisa seperti orang lain yang selalu merasa tenang jika menghadapi sesuatu? Mungkin mereka juga merasa takut, tapi ketakutan yang mereka rasakan pastinya tidak separah yang aku rasakan.

Beberapa hari yang lalu—tepatnya tanggal 11 Juni—aku sidang komprehensif sebagai salah satu persyaratan sebelum aku sidang skripsi. Aku tidak menyangka kalau aku akan berhasil melaluinya, padahal sehari sebelumnya aku merasa hopeless.

Untuk sidang selanjutnya, aku tidak tahu bagaimana nasib yang akan menghadangku. Karena aku tahu, dosen-dosen penguji yang nanti akan mengujiku tidak sama dengan dosen-dosen penguji yang kemarin mengujiku—yang ini lebih membahayakan.

Untuk yang kesekian kalinya, aku hanya bisa kembali berharap—karena aku belum menemukan jawaban atas apa yang akan aku lakukan selanjutnya..

Categories: Duty Tags:

Time to Study

Sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak menyentuh buku, dan sekarang aku diharuskan untuk kembali menyentuh benda persegipanjang berlembar itu. Bukan tanpa alasan aku kembali berkutat dengan ‘mereka’, tapi karena memang aku tidak punya pilihan lain selain membuka lembar demi lembarnya dan membaca kandungan kata demi kata di dalamnya.

Bagiku, membaca seperti ‘makanan’ sehari-hari. Aku sudah terbiasa membaca sejak dulu. Dan aku pikir, membaca bukan hanya sekedar membaca, tetapi juga memahami maksud dari buku yang kita baca itu. Percuma saja kan, membaca berbab-bab buku, tapi tidak tahu apa sebenarnya maksud dari buku tersebut?

Karena itulah, sekarang aku sedang berusaha untuk bisa memahami maksud dari buku yang aku baca. Aku tidak menyalahkan diriku atas menurunnya daya ingatku, tapi karena aku memang sudah lama sekali tidak mengasahnya sejak beberapa tahun yang lalu. Sehingga, wajar jika sekarang ketajaman daya ingatku agak sedikit berkurang.

Tapi, aku tidak boleh menyerah. Aku yakin akan kemampuanku sendiri, dan aku yakin aku bisa mengembalikan daya ingatku yang sempat tumpul kembali menajam—mengingat aku sangat membutuhkannya untuk persiapan ujian yang tidak akan lama lagi akan berlangsung.

Inilah saatnya aku belajar dan memperkaya pengetahuanku tentang segala sesuatu yang sudah aku tahu atau yang mungkin belum aku tahu. Karena, hanya dengan belajar aku bisa meraih apa yang aku inginkan. Tak ada satu pun manusia di dunia ini yang sukses tanpa adanya pembelajaran.

Categories: Duty Tags:

Akhir yang Belum Berakhir

Akhirnya, aku sampai juga pada tahap ini. Tahap dimana aku menemukan jalan untuk mengakhiri petualanganku di dunia pendidikan. Sebuah petualangan panjang bagiku dan teramat panjang pula jika aku menghitung-hitung berapa banyak kisah sedih dan bahagia sejak aku memulainya beberapa tahun yang lalu. Tapi inilah hidup. Hidup penuh perjuangan. Tak ada manusia hidup yang tidak pernah berjuang. Dan perjuangan yang selama ini telah aku lakukan, kini membuahkan hasil. Walaupun aku belum sepenuhnya menyelesaikan petualangan ini, tapi ibarat dalam game, kini aku berada dalam level puncak. Level yang paling susah diantara level-level yang lain. Level yang membutuhkan skill dan pengetahuan ekstra.

Aku bahagia sekaligus takut. Takut menghadapi sesuatu yang harus aku hadapi tatkala aku tahu bahwa aku tak bisa meminta bantuan siapapun, selain aku meminta bantuan pada diriku sendiri. Ketakutan yang harus dan tidak seharusnya aku takutkan. Memang benar. Aku harus takut pada siapa? Apa yang harus aku takutkan? Semuanya memang sudah seharusnya terjadi, kan?

Mungkinkah aku takut pada diriku sendiri?

Entahlah..

Yang aku tahu, aku hanya harus menyelesaikan semuanya sebaik-baiknya, semampuku. Aku tak bisa menyerah sekarang, karena sudah sangat terlambat untuk mengatakan itu sekarang.

Aku tahu, aku bisa dan mampu melakukannya. Aku hanya takut, itu saja. Rasa takut yang tidak seharusnya aku rasakan. Tapi, tidak bisa. Itulah aku. Itulah karakterku. Aku tak bisa mengubahnya. Aku hanya harus mengalahkan rasa takut itu—sendiri..

Categories: Duty Tags:

Kenapa..?

Kenapa..?

Kenapa harus masih ada sesuatu yang mengganjal ketika aku sudah hampir mencapai sesuatu yang sangat aku harapkan?

Kenapa sukses itu harus selalu tertunda?

Aku sudah cukup sabar untuk menunggu. Haruskah aku menunggu lagi untuk yang kesekian kalinya? Aku sudah capek. Tapi aku nggak bisa apa-apa. Mungkin memang jalanku harus seperti itu. Yang bisa aku lakukan sekarang, cuma berharap dan terus berharap. Berharap agar semuanya berjalan lancar, tanpa hambatan yang cukup berarti.

Mungkin aku terlalu bahagia dengan apa yang sudah aku raih. Itu sebabnya aku diuji lagi dengan satu cobaan. Ternyata, aku tidak diperbolehkan untuk bahagia terlebih dahulu sebelum semuanya benar-benar beres. Aku sampai bingung sendiri, tidak bolehkah aku merasakan bahagia? Bahagia walaupun sedikit? Lalu, kalau memang aku nggak boleh bahagia, apakah aku harus terus-terusan bersedih? Bersedih dan menangis?

Oh, sebenarnya apa yang terjadi padaku..?

Aku cuma manusia biasa. Aku bisa merasakan bahagia dan juga kesedihan. Tapi, sudah berapa mili airmata yang aku sumbangkan pada bumi setiap kali aku merasakan kesedihan yang mendalam? Terkadang, aku merasa gagal menjadi manusia yang sempurna. Memang.. nggak ada manusia sempurna di muka bumi ini, selain malaikat. Tapi setidaknya, aku bisa menjadi manusia yang berhasil. Dan, aku belum mendekati kata berhasil itu.

Entahlah..

Mungkin aku memang harus banyak-banyak berharap sama yang namanya keajaiban. Aku sudah terlalu banyak berharap. Mengharapkan sesuatu yang tak kunjung datang sama halnya dengan bermimpi. Hidup di alam mimpi tidak sama dengan hidup di alam nyata.

Hidup di alam nyata lebih banyak membutuhkan pengorbanan dari apapun juga..

Categories: Duty Tags:

Just For One

Tujuanku hanyalah satu..

Aku ingin lulus dan bisa menjadi seseorang yang berguna. Berguna bukan hanya untukku, tapi juga untuk orang lain. Terutama orang tuaku, yang telah mencurahkan kasih sayangnya sejak aku masih bayi hingga sekarang. Aku tak mungkin bisa membalas apa yang telah mereka lakukan selama ini. Yang bisa aku lakukan hanyalah membahagiakan mereka dengan membuat mereka bangga untuk mengganti rasa terima kasih itu.

Sekarang, aku sudah mulai mengerti apa yang dimaksud dengan “belajar”. Belajar tidak selalu harus membaca buku. Belajar memiliki artian yang sangat luas. Ternyata, dalam hidup pun, seseorang tengah melalui proses yang dinamakan dengan belajar. Hanya saja mereka tidak pernah menyadarinya. Menyadari pun, mereka mungkin akan mengabaikannya. Namun, aku tidak. Aku sangat-sangat merasakan proses itu. Aku berkali-kali gagal dan gagal. Tapi, aku bisa mengambil hikmah tersembunyi dibalik kegagalan-kegagalan itu. Jalanku untuk menempuh satu kata, yaitu “lulus” sangatlah berliku-liku. Banyak yang telah aku alami. Banyak juga diantaranya yang sempat membuatku kesal. Saat itu, aku berpikir, aku seakan ingin menyerah dan lari dari masalah. Tapi itu bukan aku. Aku tidak biasa lari dari masalah. Karena aku tahu, aku lari kemana pun, masalah itu takkan pernah terselesaikan. Jadi, untuk apa aku lari? Aku justru harus menghadapinya.

Menghadapi suatu masalah akan meningkatkan kesabaran seseorang dalam menjalani hidup. Aku baru tahu itu. Pengalaman memang guru yang berharga. Setelah aku tahu masalah apa yang aku hadapi, aku jadi tahu siapa diriku sebenarnya dan kemampuan seperti apa yang aku miliki. Ternyata, aku bukanlah orang yang sabar dan tabah dalam menghadapi masalah. Aku selalu terbawa emosi, cenderung plin-plan, dan tidak sabaran. Setelah aku tahu bahwa masalah yang aku hadapi tidak terlalu rumit, aku baru menyesal kenapa aku harus membesar-besarkannya menjadi sesuatu yang rumit? Sungguh suatu kebodohan, kan?

Untungnya, aku masih punya orang-orang terdekat yang bisa membimbingku keluar dari lubang yang aku buat sendiri. Mungkin pada awalnya, aku tidak menggubris ocehan-ocehan mereka tentang apa yang aku lakukan. Aku tetap berpegang pada pendirianku. Suatu sisi keras kepalaku yang tidak pada tempatnya. Aku tahu aku salah, tapi aku tidak berkenan untuk mengubah pendirianku. Akhirnya, aku menemui jalan buntu. Jalan buntu yang juga diakibatkan oleh kekerasan kepalaku sendiri. Aku punya telinga, tapi tidak aku gunakan untuk mendengarkan. Aku punya pikiran, tapi tidak aku gunakan untuk berpikir. Dan, aku punya mulut yang juga tidak aku gunakan untuk bicara. Hanya penyesalan yang kemudian aku dapat.

Tapi itu sudah masa lalu. Masa yang sudah pernah aku alami. Kini, aku mengerti apa arti hadirnya orang-orang itu dalam kehidupanku. Hanya untuk membantuku. Aku salah karena sudah pernah mengabaikan nasihat yang mereka sampaikan. Setelah aku mencoba untuk kembali mendengarkan dan mencoba mengerti apa yang mereka maksudkan, aku jadi punya satu titik terang yang harus aku gapai.

Keberhasilan dan kesuksesan yang telah menungguku di gerbang masa depan takkan pernah ada tanpa bantuan mereka. Aku sungguh berterima kasih atas itu semua. Aku merasa beruntung memiliki orang-orang seperti mereka. Segala macam penyesalan yang pernah singgah dalam hati ini akan terbayarkan dengan aku membuka kunci masa depan itu.

Semoga..

Categories: Duty Tags: