Archive

Archive for the ‘Job’ Category

Pindah Divisi

Akhirnya aku terbebas juga dari ’setan’ bernama Dewi. Sekarang, aku tak harus berurusan lagi dengannya karena oleh Mr. Lee aku telah dipindahkan ke divisi lain—divisi order. Di divisi ini yang harus dikerjakan hanyalah menghitung dan menghitung. Yang dihitung tak lain adalah berapa banyak kain atau bahan yang dibutuhkan untuk membuat satu atau lebih jenis sepatu. Memang membutuhkan ketelitian tinggi dan kemampuan hitung yang diatas rata-rata. Terus terang saja, aku memang tak begitu pandai berhitung. Nilai Matematikaku semasa sekolah dulu saja selalu tak lebih tinggi dari angka 6. Tapi, setelah aku belajar selama dua hari di divisi order itu aku tak banyak mengalami kesulitan, karena ternyata bukan suatu hitungan rumit layaknya rumus phytagoras seperti saat-saat sekolah dulu. Melainkan suatu hitungan sederhana yang berkaitan dengan inch, centimeter, dan yard, yang diukur melalui mal (sketsa bentuk dan bagian-bagian sepatu).

Saat pertamakali aku di divisi itu aku belajar membuat hitungan satu jenis sepatu dengan sekitar limabelas mal yang telah disediakan. Mbak Utami—karyawan yang bertugas mengajariku—menunjukkan padaku bagaimana cara menghitung setiap bagian-bagian sepatu, karena setiap bagian memiliki cara penghitungan yang berbeda. Tapi anehnya, aku langsung mengerti cara menghitung setiap mal itu dengan sekali ajar. Mungkin masih banyak kesalahan disana-sini dengan hasil kerjaku, dan Mbak Utami mengomentari pekerjaanku dengan sesekali mengulang kembali apa yang telah diajarkannya padaku. Setelah keduakalinya aku mengerjakan penghitungan mal untuk jenis sepatu yang berbeda, pekerjaanku sudah mendekati sempurna. Aku sungguh puas dengan hasil pekerjaanku itu, karena disamping aku tidak menyangka akan kemampuan otakku—yang notabene-nya bisa dikatakan tidak ‘bersahabat’ dengan angka—aku bisa melakukan apa yang dipercayakan padaku dengan baik.

Tidak seperti waktu aku berada di divisi pembelian. Aku selalu mengalami depresi tak menentu, hingga aku tidak dapat memaksimalkan apa yang aku kerjakan. Divisi pembelian dituntut untuk dapat selalu mengingat bahan apa yang telah dibeli, bahan mana yang belum dikirim atau masih dalam tahap proses, dan pada supplier mana bahan itu dibeli. Divisi pembelian itu juga mungkin tak cocok untukku, karena aku orangnya pelupa. Sedangkan, bahan yang dibeli tak hanya satu atau dua jenis, tapi puluhan. Aku pun pernah terkena amarah Mr. Lee dikarenakan aku lupa bahan yang telah aku beli dan bahan yang belum terkirim. Aku dibentak-bentak, dimaki, serta diancam akan dikeluarkan dari kantor itu. Namun, akhirnya Mr. Lee memberiku kesempatan terakhir dengan memindahku ke divisi order (telah aku ceritakan di awal).

Di samping aku kesal, aku juga takut jika sampai aku terdepak dari kantor itu. Aku pun juga menyesal dengan diriku sendiri kenapa aku harus jadi seorang yang pelupa, sampai-sampai bahan yang kupesan sendiri terlupa olehku. Kalau saja aku bisa mengingat semuanya tentu hal buruk ini takkan menimpaku.

Uuuh, entahlah. Kepalaku seakan kejatuhan beban seberat satu ton. Inginnya mencari pekerjaan lain, tapi dimana? Jaman sekarang tak mudah mencari pekerjaan. Lulusan S1 sepertiku pun harus menunggu sekitar setengah tahun untuk mendapatkan satu pekerjaan—itu pun sang big bozz selalu naik darah tiap hari. Sebenarnya aku juga sering mendapatkan panggilan untuk interview dari berbagai macam jenis usaha, namun aku tak punya waktu untuk memenuhi setiap panggilan itu. Lagipula, suamiku berkata padaku agar aku tetap berada di kantorku yang sekarang dan menekuni pekerjaanku. Kalau bisa, dia bilang, aku dapat meningkatkan kinerjaku sampai aku mendapatkan posisi yang pasti dan jabatan yang lumayan bagus disana.

Itu memang niatku, tapi mungkin aku butuh waktu yang agak lama untuk memenuhinya. Sekarang saja, aku masih bingung akan posisiku yang sesungguhnya. Entah dimana Mr. Lee akan menempatkan aku. Yang jelas—dan yang aku tahu—aku harus berusaha dan melakukan apapun tugas yang diberikan padaku dengan sebaik-baiknya.

Categories: Job Tags: , , ,

Flashback

Sekarang aku sudah agak mengerti bagaimana aku harus bekerja di kantor. Tentunya aku masih sedikit bertanya kepada Dewi tentang hal yang tak kumengerti, tapi tidak banyak. Karena, menurutku Dewi sekarang agak menjengkelkan. Hadirnya seorang laki-laki sebagai karyawan baru pengganti karyawan outsole yang telah re-sign beberapa bulan lalu itu cukup menyita perhatiannya. Entah karena apa. Padahal, dia sendiri sudah mempunyai kekasih. Tapi, sudahlah biar saja. Aku tak mau mencampuri urusan pribadinya.

Aku mengatakan kalau Dewi sekarang agak menjengkelkan karena dia selalu mengajarkan sesuatu hal yang menurutku tidak terlalu penting kepada karyawan baru itu. Apa mungkin karena karyawan baru itu laki-laki—yang menurut orang-orang lumayan tampan—dan aku perempuan? Apapun itu yang jelas aku sekarang merasa tidak lagi nyaman dengan orang bernama Dewi di kantor itu. Kebetulan memang Dewi akan re-sign dalam rentang bulan September 2009 nanti—dan aku berharap semoga waktu re-sign itu dipercepat, kalau bisa. Walaupun nantinya aku mungkin akan kesusahan sendiri karena Dewi re-sign, bagiku bukan masalah besar, yang penting aku merasa nyaman di kantor itu tanpa adanya Dewi.

Tapi, di tengah-tengah ‘penderitaan’ yang aku alami, aku masih bisa tersenyum. Kemarin, aku menelepon Mbak Tri dan menanyakan kabar terbaru di kantorku yang lama. Mungkin tak banyak perubahan, karena pekerjaan mereka memang seperti itu. Hanya saja ada pengurangan jatah ekspor diakibatkan karena krisis global yang melanda dunia akhir-akhir ini. Aku memang tak bisa banyak berbicara karena keterbatasan waktu, tapi aku sudah merasa sangat terhibur dengan itu. Mungkin aku akan melakukannya lagi walaupun tidak akan terlalu sering. Karena, dengan begitu aku seperti merasakan flashback ke suatu masa dimana aku diperlakukan sewajarnya di tempat yang pada awalnya aku merasa asing, namun akhirnya aku merasa bahwa teman-temanku disana seperti keluarga bagiku—yang mungkin tidak bisa aku dapatkan di kantor baru ini, sampai kapan pun.

Categories: Job Tags: , , ,

Rindu ini Akan Tetap Ada

Lagi-lagi tentang masalah pekerjaan. Sekarang, aku baru menyadari bahwa apa yang aku lakukan disini sangat-sangat tidak sesuai dengan jiwaku. Kalau ingin tahu yang sebenarnya jiwa ini harus berada dimana, akan kukatakan. Jiwaku seharusnya berada di perak, tempat dimana kapal berlalu-lalang untuk mengirim barang ke luar negeri dengan menggunakan container. Ooh.. aku merindukan itu! Kenapa saat dulu aku mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan itu justru aku sendiri yang menghancurkannya? Kenapa aku harus berulah hingga tragedi itu terjadi dan membuat semua orang melarangku untuk tetap bekerja disana? Aku memang bodoh. Sangat bodoh.

Aku pikir dengan keluarnya aku dari kantor lamaku aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan gaji yang lebih memadai. Ternyata memang benar, harapan itu terkabul. Tapi tak bisa semudah itu. Ada yang harus aku bayar sebelum aku bisa menikmati semuanya—dan itu bernama penderitaan batin. Disini, aku sama sekali tidak bisa memahami bagaimana prosedur kerja yang benar. Sekalinya aku bisa mereka-reka apa yang kira-kira harus dilakukan, ternyata ada prosedur lain yang harus dilakukan terlebih dahulu. Hal itu cukup membingungkan aku. Kalau begitu caranya, sampai kapan pun aku takkan pernah bisa mengerti. Aku masih dalam tahap belajar, dimana aku seharusnya dibimbing untuk dapat mengerti proses kerja yang sesungguhnya dan yang terpenting apa yang harus aku lakukan nanti.

Terkadang aku merasa sebal dengan orang-orang di kantor ini. Mereka seolah membiarkan dan mengabaikan aku. Disaat aku bertanya untuk meminta kejelasan mereka terkesan ogah-ogahan dan memberikan jawaban sekenanya dan tidak pasti. Bagaimana seorang murid bisa belajar dengan cepat kalau saat ia bertanya kepada sang guru perihal apa yang tidak ia mengerti lantas guru itu tidak memberikan jawaban yang benar? Aneh memang, tapi itulah kenyataan yang aku alami saat ini.

Aku selalu dituntut untuk dapat dengan cepat mempelajari seluruh seluk-beluk sepatu berikut ribuan warna dan modelnya, tapi Dewi—si pengajar—selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Dan, saat aku memintanya untuk mengajariku dan memberitahuku apa yang harus aku lakukan, dia selalu menjawab, “Mbak belajar sendiri aja. Aku nggak bisa kalau harus ngajari mbak terus. Kerjaanku ya banyak.” Aku pun terdiam. Kemudian, ia melanjutkan, “Aku dulu ya belajar sendiri kok.” (?) Tak berapa lama setelah itu, saat aku ingin bertanya tentang sesuatu yang tak kumengerti, Dewi malah asyik memakan kue di ruangannya dengan bersembunyi di bawah meja. Apakah seperti itu yang dibilang sibuk?

Coba lihat, maksudnya apa itu? Apa aku harus seperti dia dulu? Apakah pantas seorang pembimbing berkata seperti itu? Apakah pantas dia memperlakukan aku seperti itu? Aku akui bahwa dia memang pintar walau umurnya masih sangat muda—bahkan mungkin lebih muda dari adikku. Tapi, sikap semena-menanya kepadaku tidak bisa aku terima. Kalau aku sudah mengerti bagaimana cara kerja di pabrik sepatu sebagai staf pembelian, aku akan jalan sendiri dan aku tak mungkin membutuhkan bantuannya. Hanya saat ini saja aku masih sangat membutuhkan bantuannya sampai waktu training-ku berakhir. Apakah itu sulit?

Namun, nampaknya memang aku sudah harus berjalan sendiri meski aku belum tahu pasti apa yang harus aku lakukan. Hal itu disebabkan hadirnya seseorang yang baru yang juga membutuhkan bimbingan dari Dewi. Mungkin aku takkan lagi terlalu diperhatikan. Disitu, oleh kepala bagian (kabag) pembelian—Mrs. Suman—aku selalu dituntut dan terus dituntut untuk dapat belajar lebih cepat—entah lebih cepat dari siapa atau apa—agar aku segera bisa melakukan tugasku dengan baik. Dalam hati pun aku ingin belajar dengan cepat dan bisa segera mengerti bagaimana sebenarnya prosedur kerja yang berlaku disitu. Tapi, kalau dibimbing dan diperhatikan saja aku tidak pernah, bagaimana aku bisa cepat belajar? Entahlah, siapa yang seharusnya dipersalahkan dalam hal ini. Mungkin tak ada yang patut dipersalahkan, tapi harus ada yang bertanggungjawab dan dipertanggungjawabkan—dan itu aku tidak tahu.

Kalau keadaan terus seperti ini, lambat laun aku akan selalu membandingkan cara training disini dan di pekerjaanku yang lama. Aku dulu juga pernah merasakan menjadi karyawan baru, tapi dulu aku begitu diperhatikan dan orang-orangnya tidak terlalu menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing—walau mereka memang tak bisa dibilang tidak sibuk. Telepon selalu berdering silih berganti. Belum lagi suara handy-talky yang selalu memanggil-manggil seperti radio dalam taksi. Namun, di sela-sela pekerjaan itu, Mbak Tri—seseorang yang mengajariku waktu itu—berkata bahwa seperti itulah kesibukan mereka sehari-hari. Saat ia tidak sedang menerima telepon dan pekerjaannya sudah agak longgar, ia pun mengajariku tentang seluk-beluk, prosedur, serta bagaimana cara mereka bekerja dalam menangani eksporter yang terkadang terkesan rewel dan banyak maunya. Aku pun jadi mengerti dan bisa langsung belajar meng-handle suatu pekerjaan di bawah bimbingan Mbak Tri. Setelah order yang aku pegang bisa dibilang beres, Mbak Tri pun berkata, “Kerjaan kita ya cuma gitu aja. Yang repot kan waktu kita terima telepon dari shipper. Kadang mereka nggak mau tahu urusan kita.”

Sejak itulah, aku langsung bisa meng-handle eksporter (shipper) sendiri hanya dalam jangka waktu tiga minggu. Aku sendiri pun tidak menyangka bahwa aku bisa belajar dengan begitu cepat. Untuk penanganan eksporter yang agak mudah memang aku tangani sendiri, tapi kalau sudah menyangkut hal-hal yang aku pikir serius, aku memang masih membutuhkan bantuan Mbak Tri. Tapi, beliau dengan sabar mau membantuku untuk mempelajari hal-hal yang paling rumit sekali pun berikut cara penanganannya. Disitulah aku merasa salut dengan Mbak Tri.

Dan, seharusnya memang seperti itulah cara training yang benar—setidaknya itu menurutku. Karena, sudah terbukti bahwa aku lebih cepat mengerti akan cara kerja di kantorku yang lama dibanding sekarang. Sudah sebulan aku disini tapi aku baru sedikit sekali mempelajari sesuatu. Terkadang, di sela-sela waktu luangku aku merindukan kantor lamaku dengan sejuta kenangan yang tertinggal disana. Kalau di kantor baru ini aku tetap diperlakukan semena-mena dan tidak diperhatikan, sampai kapan pun rindu ini akan tetap ada—untuk selamanya.

Categories: Job Tags: , , , ,

Menghitung Jam, Menit, dan Detik

Kepindahanku dan suami ke rumah baru kami hanya tinggal menghitung hari. Aku berharap semoga semuanya berjalan lancar tanpa kurang suatu apa pun. Serta, aku pun berharap semoga dengan menempati rumah baru ini ada harapan baru dalam kehidupan rumah tanggaku. Selama ini memang aku merasa ‘terpenjara’ di rumahku sendiri, tak terkecuali suamiku. Mungkin hal itulah yang menyebabkan hingga saat ini aku dan suami belum dikaruniai seorang anak. Setiap wanita yang sudah menikah pasti menginginkan seorang anak dalam kehidupan rumah tangganya. Begitu pun aku. Anak bagaikan secercah cahaya yang akan menerangi langkahku menuju surga masa depan.

Harapan ini mungkin tak hanya berhenti sampai disini saja. Masih banyak harapan-harapan lain yang ingin kusampaikan. Namun, satu harapan yang sangat ingin aku capai dengan menempati rumah baru itu adalah hidup tenang, aman, dan nyaman dengan suara tangisan bayi yang sungguh sangat ingin aku dengar—secepatnya.

Sementara untuk urusan pekerjaanku semuanya masih sama. Tak ada sesuatu pun yang spesial yang terjadi baru-baru ini. Sungguh membosankan dan tak ada perkembangan. Aku masih tetap mempelajari hal-hal yang sama setiap hari. Kemarin, si bos marah-marah untuk permasalahan yang tidak jelas. Aku tanya temanku, Diana, dia bilang, “Nggak tahu, Mbak.”

Aku baru kali itu melihat si big boss marah. Menakutkan memang, dan benar apa kata teman-teman di kantor bahwa hati-hati terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan. “Jangan sampai membuat kesalahan,” begitu kata mereka. Mungkin, aku nanti juga akan mengalaminya andai aku tidak melakukan pekerjaanku dengan sebaik-baiknya. Uh, kalau begitu aku harus menata mentalku sejak sekarang.

Kemudian, tidak lama berselang setelah beliau marah-marah terhadap semua stafnya, aku tiba-tiba merasakan kantuk yang luar biasa. Pasalnya, aku diharuskan duduk dan mengamati seorang operation jahit menjahitkan sepatu yang bahan-bahannya telah aku siapkan sebelumnya. Tujuannya, agar aku mengerti bagaimana proses pembuatan sepatu dari awal hingga akhir. Saat itu, sepatu yang tengah aku buat sedang dalam proses jahit. Sialnya, yang menjahitkan sepatuku adalah seorang karyawan yang juga masih baru dan belum berpengalaman memegang mesin jahit. Alhasil, aku menunggui karyawan itu memegang dan menjahit sepatuku selama berjam-jam! Bagaimana aku tidak mengantuk kalau sudah begitu? Aku ingin berjalan kesana-kemari dengan maksud agar rasa kantukku sirna, tapi aku tidak diperbolehkan oleh seorang mandor yang bertugas mengawasiku. Aku juga sudah berusaha melakukan penyegaran dengan membasuh muka dan membasahi pelupuk mataku, tapi tak ada hasil. Aku tetap saja mengantuk. Aku menyerah dan aku hanya duduk diam disamping seorang karyawati jahit itu dengan sesekali menanyakan sesuatu hal agar jangan sampai aku tertidur. Tapi, aku tidak berhasil. Akhirnya, satu hal yang aku takutkan terjadi juga. Aku tertidur!

Tak lama setelah aku tertidur, aku dikagetkan oleh suara seseorang yang aku kira aku mendengarnya dalam mimpi. Ternyata, aku tidak bermimpi. Suara itu adalah suara Mr. Lee, sang big boss! Oh, My God, bodohnya aku! Mr. Lee—yang asli orang Taiwan—membangunkan aku dengan suara lantangnya dan dengan bahasa Indonesia terpatah-patah, “Hei, you, halo.. halo! Semua yang lain kerja, you tidur sendiri!” Lalu, dia berteriak kepada sang mandor, “Hei, ini harus ada yang temani ya, dia tidur ini, dia tidur. Ayo, suruh dia kemana-mana, jangan dibiarkan saja. Dia tidur ini!” katanya seraya menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku malu bukan main. Dengan suara seperti itu, dia terus-terusan menyebut kata-kata ‘tidur’ di depan banyak karyawati yang tengah bekerja. Duh! Kemudian, saat suaranya mulai kembali normal, dia kembali berkata kepadaku, “Hei, you belajar yang rajin ya. You harus cepat ingat!” katanya seraya menunjuk keningnya sendiri berkali-kali. Aku pun menjawab sambil mengangguk, “Iya, Mr. Lee.”

Hmpff.. hari itu sungguh suatu hari yang buruk bagiku. Belum pernah aku merasakan hal seperti itu sebelumnya. Setiap hari—Senin hingga Sabtu—aku selalu menghitung jam, menit, dan detik seraya bertanya dalam hati berapa jam lagi aku bisa pulang dan segera beristirahat di ranjangku yang empuk, merasakan sejuknya hawa AC, dan memeluk suami yang senantiasa menemaniku tidur? Itu mungkin masih akan terus berlanjut sampai aku mengakhiri masa training-ku yang masih tersisa sekitar dua bulan.

Tapi, bagaimana pun juga aku tidak merasa menyesal, ingin protes, mogok kerja, atau apapun itu. Segala konsekuensi harus bisa aku terima dengan lapang dada. Aku harus mulai meyakinkan diriku bahwa inilah jalanku dan disinilah rejekiku berada. Aku harus bisa bersabar sampai masa training ini berakhir dan aku bisa mulai bekerja dengan seluruh kemampuan yang aku miliki.

Categories: Job Tags: , , ,

Masa-masa Sulit

Tiba-tiba saja aku merasa rindu dengan pekerjaan lamaku. Entah apa yang terjadi aku sendiri tidak mengerti. Yang jelas, kerinduan ini bukan karena sesuatu ‘minus’ yang dulu pernah terjadi padaku hingga aku memutuskan keluar selang sehari setelah aku melangsungkan pernikahan. Semua ini semata-mata karena perbedaan latar belakang pekerjaan yang aku jalani.

Memang, tak ada satu pekerjaan pun di dunia ini yang mudah dan santai. Tapi setidaknya, aku tidak terlalu susah memahami operasional kerjaku yang dulu. Dalam beberapa hari saja aku sudah mengerti sebagian besar gambaran pekerjaanku. Mungkin hal itu juga masih berkaitan erat dengan latar belakang pekerjaan ayahku sebagai seorang pimpinan di lingkup pekerjaan yang sama. Sehingga, aku mudah memahami semua yang diajarkan kepadaku. Aku pun masih bisa memaksimalkan kualitas pekerjaanku dengan semua pemahaman yang aku miliki, disamping waktu kerja yang tidak menentu dan gaji di bawah rata-rata.

Sedangkan disini—di pekerjaan baruku ini—aku merasa bagaikan di ‘neraka’. Aku benar-benar tidak tahan akan hawa panas dan menyengat. Padahal, selama masa training yang berlangsung selama tiga bulan terhitung sejak tanggal 22 Juni itu aku akan selalu berada di bagian produksi yang sungguh panas dan menyengat. Aku benar-benar merasa tersiksa. Aku menyebut ini semua sebagai masa-masa sulit yang belum pernah aku alami di bidang pekerjaan mana pun, selain disini. Mungkin itu sebabnya aku tiba-tiba saja merindukan pekerjaanku dulu yang sungguh nyaman, tenang, aman, dan—mungkin bagiku—fun. Benar apa kata orang bahwa sesuatu memang terasa indah dan berharga saat kita sudah kehilangannya. Tapi, itu adalah masa laluku dan mustahil bagiku untuk kembali kesana.

Aku sudah memutuskan untuk berada disini dan sekuat tenaga akan aku jalani—semampuku, sebisaku. Dan, yang terpenting, kalau bukan karena aku sangat sayang suami dan keluarga kecilku aku takkan mau berada disini. Semoga saja ini semua segera berakhir dan aku bisa melakukan pekerjaan sesuai dengan tingkat kemampuan dan keahlianku.

Categories: Job Tags: ,

Perjalanan Karir

Mungkin perjalananku belum selesai, dan sama sekali belum berakhir. Semua masih akan berlanjut yang entah sampai kapan. Berbagai cobaan telah aku lalui. Mulai dari mencari satu buah pekerjaan hingga akhirnya mendapatkan berbagai tawaran untuk diterima bekerja di salah satunya. Semua datang silih berganti tanpa bisa aku hindari. Disaat aku terbelenggu dalam lingkaran putus asa, semua seolah sangat sulit aku capai dan rasanya berbagai ekspresi ‘tak mungkin’ berkecamuk di benakku. Begitu pun sebaliknya. Disaat aku sudah mendapatkan salah satu pekerjaan yang menurutku sangat baik untuk prospek karirku di masa depan, berbagai tawaran lain muncul menantiku. Disinilah aku harus menentukan pilihanku. Aku tak mungkin berada pada dua lokasi kantor yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Tapi, memutuskan untuk memilih salah satu pekerjaan itulah yang membuatku bingung. Di satu sisi menawarkan lokasi yang sangat dekat dengan rumah, namun dengan gaji kecil dan prospek karir yang bisa dibilang buruk. Sementara di sisi lain menawarkan prospek karir yang sangat bagus dan gaji yang meyakinkan, namun dengan lokasi yang sangat jauh dan transportasi yang lumayan susah bagiku yang tidak bisa mengendarai motor sendiri.

Disaat aku telah menjatuhkan pilihanku, aku tetap masih dibingungkan oleh beberapa pilihan lain. Sebuah perusahaan besar yang menawarkan sejumlah jenjang karir yang meyakinkan dan gaji yang terbilang cukup memuaskan memintaku dengan sangat untuk dapat bekerja disana. Sebenarnya aku tak perlu memusingkannya. Aku tinggal mengatakan kesanggupanku untuk dapat segera bergabung dengan mereka dan semuanya beres. Namun, tak semudah itu. Aku harus memikirkan hal lain yang juga sangat vital—terutama bagiku yang tidak bisa mengendarai motor sendiri. Yaitu, transportasi. Sarana kendaraan untuk dapat mencapai lokasi kantor itu sangatlah jauh dan tergolong sulit. Tapi, pihak kantor mengatakan bahwa aku tak perlu membingungkannya karena mereka telah menyediakan antar-jemput yang bersedia mengantarkanku pulang dan pergi. Baiklah, kalau begitu aku bersedia bergabung. Aku pun menyanggupinya. Aku harap aku bisa menikmati pekerjaanku disana.

Oh ya, aku lupa mengatakan bahwa pekerjaan dan segala apapun yang aku ceritakan tadi tak bukan dan tak lain adalah pekerjaanku di pabrik sepatu yang telah aku publish di postinganku yang lalu berjudul “tempat kerja baru”. Aku memang sempat ingin keluar dari sana beberapa waktu lalu dan berencana untuk bekerja di sebuah perusahaan bengkel asuransi yang berlokasi sangat dekat dengan tempat tinggalku. Hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit untuk mencapai lokasi kantor itu. Tak sulit memang, tapi untuk ukuran pendidikan dan segala kemampuan yang aku miliki rasanya perusahaan bengkel asuransi itu tak cocok untukku. Segala kemampuan yang aku miliki mungkin takkan pernah digunakan. Jadi, untuk apa aku menempuh pendidikan tinggi selama ini?

Tanpa kuduga, pabrik sepatu itu meneleponku kembali untuk tetap ingin mempertahankanku dan berupaya agar aku bersedia bergabung kembali dengan mereka. Setelah aku mengatakan alasan aku berhenti, mereka pun berusaha mencarikanku jalan keluar agar aku benar-benar kembali kesana. Dan memang benar. Setelah mereka menemukan jalan keluar untukku—dalam hal transportasi—aku pun bersedia kembali. Kalau memang aku dibutuhkan, aku akan dengan senang hati untuk kembali. Mungkin segala ketidaknyamanan, kebisingan, kepedihan, dan apapun yang aku rasakan selama dua minggu aku bekerja disana takkan aku pedulikan lagi. Itulah risiko orang bekerja, aku berpikir. Tak ada satu pun pekerjaan yang tidak membutuhkan kesabaran, keuletan, dan pengorbanan demi mencapai hasil yang memuaskan. Maka, aku harus bersabar. Semuanya demi kelangsungan hidupku di masa depan. Aku harus paham itu. Dan, semoga ke depannya aku akan mendapatkan balasan dari buah kesabaranku.

Categories: Job Tags: , , ,

Kecelakaan Kerja

Aku sama sekali tidak punya pengalaman bekerja di sebuah pabrik. Dan, aku pikir aku tidak akan bekerja di sebuah pabrik. Tapi, nasib seseorang siapa yang bisa menduga, kan? Ternyata aku sekarang bekerja disana—sebuah pabrik sepatu yang tergolong besar dengan jumlah karyawan sekitar 1000 orang yang berlokasi di daerah Sidomojo-Krian, Sidoarjo, Indonesia.

Aku memang masih sangat baru disitu, tapi aku sudah mendapat satu kecelakaan kerja yang melukai diriku sendiri. Jari kelingkingku memar-memar terpukul palu. Saat aku tengah melakukan pekerjaanku aku mengalami kesulitan dan aku meminta tolong kepada salah seorang teman. Tanpa sengaja ia memukul jariku sekeras-kerasnya dengan palu besar itu. Aku tak bisa meraung, berteriak, pun menangis. Aku hanya bisa menahan rasa sakit itu.

Setibanya di rumah barulah aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak bisa lagi menahan rasa sakit yang amat sangat bersemayam di jari kecilku. Tapi, dengan sabar suamiku mengobati lukaku dan menghilangkan rasa sakit itu.  Aku ingin mengakhiri masa kerjaku disana, tapi aku tak bisa begitu saja meninggalkan apa yang telah aku mulai.  Jauh dalam lubuk hatiku aku berjanji akan tetap bekerja disana sampai aku mungkin mendapatkan tempat kerja lainnya—yang tidak harus melukai diriku sendiri.

Categories: Job Tags: ,

Tempat Kerja Baru

Sekarang, aku punya pekerjaan baru, teman-teman baru, dan suasana kerja yang juga sama sekali baru. Di postingan sebelumnya aku telah mengatakan bahwa pekerjaan ini insya Allah akan menjadi tempat pemberhentian terakhirku dalam mengais rejeki. Aku tidak ingin berpindah-pindah lagi dan mencari pekerjaan baru. Mencari pekerjaan bukanlah perkara mudah karena dibutuhkan kesabaran yang amat sangat tinggi dan tak lupa permohonan melalui doa yang tak cukup dilakukan dengan cara singkat dan cepat. Untuk itu, cukuplah aku merasa bahwa pengorbananku selama ini tidak sia-sia. Ada hasil yang aku raih dari itu semua.

Suasana dalam kantor—atau lebih bisa disebut pabrik—cukup nyaman. Aku tidak mengatakan suasana disana nyaman atau sangat nyaman sekali pun, karena memang tidak demikian. Suara mesin pabrik dan berbagai suara-suara bising lainnya tak cukup membuatku merasa nyaman. Oh ya, aku lupa bilang kalau aku bekerja di sebuah pabrik sepatu ekspor sebagai staff pembelian. Tapi, selama tiga bulan terhitung sejak tanggal 22 Juni 2009 kemarin aku menjalani proses training atau pelatihan sebagai pengenalan terhadap proses kerja dan bahan baku utama pembuatan sepatu dan jenis-jenisnya. Rumit? Memang! Sungguh banyak jenis sepatu dan tentu saja bahan baku yang digunakan untuk membuat sepatu-sepatu itu beraneka ragam. Belum lagi warna-warna yang bervariasi. Aku bukan komputer yang bisa dengan mudah semua hal yang diinputkan kepadanya. Tapi, aku akan mencoba mengingatnya sedikit demi sedikit. Dengan berjalannya waktu mungkin aku akan terbiasa dengan mereka.

Satu lagi. Aku mungkin akan banyak menemukan masalah sejalan dengan keberadaanku disana. Tapi, aku harus menerapkan satu prinsip di kepalaku bahwa aku sudah berkeluarga dan ada sesuatu yang harus aku pertahankan. Dan, hukumnya adalah wajib. Aku tak ingin jatuh ke lubang yang sama dua kali. Biarlah kesalahan-kesalahan terdahulu menjadi kenangan untukku sendiri yang akan kusimpan dalam kotak memoriku dan akan aku kubur dalam-dalam untuk selamanya.

Categories: Job Tags: , ,

End of Journey

Akhirnya perjalanan dan pencarianku selesai sudah. Tapi, bukan berarti aku akan berhenti menuliskan kisah hidupku disini. Hidupku masih akan terus berjalan seperti biasanya, hanya saja apa yang selama ini aku cari telah aku temukan—yaitu sebuah pekerjaan!

Betapa senang hatiku saat apa yang aku nantikan begitu lama tiba-tiba saja datang tanpa pernah aku duga. Entah aku lupa atau bagaimana, yang jelas aku merasa tidak pernah mengirimkan lamaran ke perusahaan ini. Dikarenakan tempat yang jauh dan akses yang lumayan sulit dijangkau. Tapi, setelah aku mendapatkan panggilan dari sana dan aku diantar suamiku ke tempat itu, kata-kata jauh yang beberapa saat sebelumnya terlontar dari mulutku sirna seketika.

Lokasi kantor itu tak bisa dikatakan jauh atau sangat jauh sekali pun. Waktu yang dibutuhkan untuk bisa mencapai alamat itu hanya sekitar 30 menit, atau maksimum 90 menit. Dan, harapanku akan sebuah kantor dan berbagai fasilitas yang aku harapkan telah mereka miliki. Aku sangat bersyukur sekali dengan ini semua. Disaat aku hampir patah arang tentang apa yang telah aku lakukan semua ini ternyata aku mendapatkan sebuah ‘hadiah’ atas kesabaranku selama ini. Mungkin bukan murni sebuah kesabaran—karena telah sedikit tercampur dengan keputusasaan—tapi overall aku sangat bahagia sekali.

Pekerjaan ini, aku harapkan adalah tempat persinggahan terakhirku dalam mencari penghasilan. Insya Allah aku akan bertahan selama mungkin disana, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk berwirausaha sendiri dengan suami—di masa depan. Tapi, untuk saat ini, bisa dibilang keadaan ekonomiku dengan suami masih sangat rapuh. Butuh banyak biaya untuk membangun sebuah biduk rumah tangga. Jadi, aku akan berusaha membuat diriku sendiri merasa nyaman di kantorku nanti sehingga aku dapat bertahan lama.

Mungkin memang tak mudah membangun sebuah biduk rumah tangga yang bahagia dan nyaman tanpa adanya gangguan dari ‘tangan-tangan jahil’ alias wanita penggoda. Kenapa sih wanita-wanita penggoda itu tidak dimusnahkan saja dari muka bumi ini? Aku benci mereka! Salah satu dari mereka kembali mengusik kehidupan rumah tanggaku. Kapan mereka menyadari bahwa baik suami maupun aku sudah memiliki komitmen untuk hidup bersama selamanya? Mereka bodoh, pura-pura bodoh, atau memang benar-benar bodoh? Aku harap mereka pergi jauh sejauh-jauhnya dari kehidupanku dan suami serta tidak menodai perjalanan hidup yang baru saja akan aku mulai.

Categories: Job, Love Tags: , ,

Job Fair is a Business?

Aku baru tersadar bahwa ternyata bursa kerja yang sering diadakan di beberapa lokasi di Surabaya ini memiliki indikasi bisnis. Buktinya adalah, setiap pelamar atau masyarakat yang mengikuti bursa kerja itu selalu ditarik biaya untuk bisa masuk ke sebuah ruangan yang sudah ditentukan. Tapi, yang sering aku tahu, perusahaan-perusahaan yang ada di dalam ruangan itu seringkali perusahaan-perusahaan yang jarang memiliki mindset di benak pelamar. Mungkin aku memang hanya menduga, tapi aku sendiri mengalaminya. Aku seringkali mengunjungi bursa-bursa kerja di Surabaya, dan bukan hanya sekali-duakali, aku menemukan perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki kompetensi berada disana. Lalu, apalagi kalau bukan karena indikasi bisnis semata?

Selama ini aku tidak memperhatikan hal-hal kecil semacam itu. Aku hanya mengikuti apa yang mungkin bermanfaat untukku. Namun, ternyata aku dan sebagian besar mereka yang mengikuti bursa kerja sepertiku merasa tertipu oleh unsur bisnis berkedok bursa kerja.

Aku memang sangat butuh pekerjaan, tapi kalau caranya seperti itu aku ogah mengikutinya. Aku saat ini sudah terlalu lelah mengikuti ‘permainan’ bisnis orang-orang dengan ekonomi kuat seperti itu. Aku tidak mengatakan aku seorang dengan ekonomi lemah. Aku termasuk orang dengan ekonomi menengah, tapi terkadang aku membutuhkan wadah, tempat, dan sarana untuk bisa mengapresiasikan kreatifitas yang aku miliki. Cuma itu. Tidak adakah satu—hanya satu—kesempatan bagiku untuk meraih itu semua? Meraih apa yang kuimpikan? Sudah habiskah semua kesempatan itu? Tolonglah!

Categories: Job Tags: , , , ,