Pindah Divisi
Akhirnya aku terbebas juga dari ’setan’ bernama Dewi. Sekarang, aku tak harus berurusan lagi dengannya karena oleh Mr. Lee aku telah dipindahkan ke divisi lain—divisi order. Di divisi ini yang harus dikerjakan hanyalah menghitung dan menghitung. Yang dihitung tak lain adalah berapa banyak kain atau bahan yang dibutuhkan untuk membuat satu atau lebih jenis sepatu. Memang membutuhkan ketelitian tinggi dan kemampuan hitung yang diatas rata-rata. Terus terang saja, aku memang tak begitu pandai berhitung. Nilai Matematikaku semasa sekolah dulu saja selalu tak lebih tinggi dari angka 6. Tapi, setelah aku belajar selama dua hari di divisi order itu aku tak banyak mengalami kesulitan, karena ternyata bukan suatu hitungan rumit layaknya rumus phytagoras seperti saat-saat sekolah dulu. Melainkan suatu hitungan sederhana yang berkaitan dengan inch, centimeter, dan yard, yang diukur melalui mal (sketsa bentuk dan bagian-bagian sepatu).
Saat pertamakali aku di divisi itu aku belajar membuat hitungan satu jenis sepatu dengan sekitar limabelas mal yang telah disediakan. Mbak Utami—karyawan yang bertugas mengajariku—menunjukkan padaku bagaimana cara menghitung setiap bagian-bagian sepatu, karena setiap bagian memiliki cara penghitungan yang berbeda. Tapi anehnya, aku langsung mengerti cara menghitung setiap mal itu dengan sekali ajar. Mungkin masih banyak kesalahan disana-sini dengan hasil kerjaku, dan Mbak Utami mengomentari pekerjaanku dengan sesekali mengulang kembali apa yang telah diajarkannya padaku. Setelah keduakalinya aku mengerjakan penghitungan mal untuk jenis sepatu yang berbeda, pekerjaanku sudah mendekati sempurna. Aku sungguh puas dengan hasil pekerjaanku itu, karena disamping aku tidak menyangka akan kemampuan otakku—yang notabene-nya bisa dikatakan tidak ‘bersahabat’ dengan angka—aku bisa melakukan apa yang dipercayakan padaku dengan baik.
Tidak seperti waktu aku berada di divisi pembelian. Aku selalu mengalami depresi tak menentu, hingga aku tidak dapat memaksimalkan apa yang aku kerjakan. Divisi pembelian dituntut untuk dapat selalu mengingat bahan apa yang telah dibeli, bahan mana yang belum dikirim atau masih dalam tahap proses, dan pada supplier mana bahan itu dibeli. Divisi pembelian itu juga mungkin tak cocok untukku, karena aku orangnya pelupa. Sedangkan, bahan yang dibeli tak hanya satu atau dua jenis, tapi puluhan. Aku pun pernah terkena amarah Mr. Lee dikarenakan aku lupa bahan yang telah aku beli dan bahan yang belum terkirim. Aku dibentak-bentak, dimaki, serta diancam akan dikeluarkan dari kantor itu. Namun, akhirnya Mr. Lee memberiku kesempatan terakhir dengan memindahku ke divisi order (telah aku ceritakan di awal).
Di samping aku kesal, aku juga takut jika sampai aku terdepak dari kantor itu. Aku pun juga menyesal dengan diriku sendiri kenapa aku harus jadi seorang yang pelupa, sampai-sampai bahan yang kupesan sendiri terlupa olehku. Kalau saja aku bisa mengingat semuanya tentu hal buruk ini takkan menimpaku.
Uuuh, entahlah. Kepalaku seakan kejatuhan beban seberat satu ton. Inginnya mencari pekerjaan lain, tapi dimana? Jaman sekarang tak mudah mencari pekerjaan. Lulusan S1 sepertiku pun harus menunggu sekitar setengah tahun untuk mendapatkan satu pekerjaan—itu pun sang big bozz selalu naik darah tiap hari. Sebenarnya aku juga sering mendapatkan panggilan untuk interview dari berbagai macam jenis usaha, namun aku tak punya waktu untuk memenuhi setiap panggilan itu. Lagipula, suamiku berkata padaku agar aku tetap berada di kantorku yang sekarang dan menekuni pekerjaanku. Kalau bisa, dia bilang, aku dapat meningkatkan kinerjaku sampai aku mendapatkan posisi yang pasti dan jabatan yang lumayan bagus disana.
Itu memang niatku, tapi mungkin aku butuh waktu yang agak lama untuk memenuhinya. Sekarang saja, aku masih bingung akan posisiku yang sesungguhnya. Entah dimana Mr. Lee akan menempatkan aku. Yang jelas—dan yang aku tahu—aku harus berusaha dan melakukan apapun tugas yang diberikan padaku dengan sebaik-baiknya.











Komentar Terakhir