Inikah Sebuah Akhir?
Lama nian aku menginginkan sebuah pekerjaan. Aku masih ingat berbagai macam usaha yang aku lakukan demi mendapatkan sebuah pekerjaan. Dulu, aku pikir mencari pekerjaan itu mudah. Mungkin mudah jika jaman belum berubah. Aku juga masih ingat saat seseorang mengatakan padaku bahwa tahun Millenium adalah tahun perubahan dunia. Segalanya yang semula terasa mudah, pada tahun Millenium akan dipersulit. Entah ucapan itu benar atau tidak, yang jelas selepas tahun 2000, segalanya memang benar-benar berubah. Meski tak terimbas dampak secara signifikan, aku yang pada masa itu masih duduk di bangku SMU sedikit merasakan perubahan yang terjadi.
Setelah aku duduk di bangku kuliah sekitar tahun 2002 hingga tahun 2008, aku mulai benar-benar merasakan dampak itu. Mungkin masih ada sedikit dampak positif yang aku rasakan, tapi jelas, dampak negatif selalu lebih tinggi. Aku mulai merasakan itu saat aku ingin mencari kerja di tengah-tengah kesibukan jadual kuliahku. Saat itu aku masih menjalani kuliah di semester enam. Keadaan keuangan keluargaku menurun. Sedangkan, biaya kuliahku tak bisa dibilang murah. Dimana-mana kampus swasta selalu lebih mahal dua kali lipat dibanding kampus negeri. Untuk itu, jika beruntung, aku bisa membantu keuangan keluargaku, pikirku kala itu.
Tapi, apa yang aku hadapi tak semudah yang aku pikirkan. Mencari pekerjaan yang hanya lulusan SMU sepertiku dulu sangatlah sulit. Kebanyakan mereka menawarkan kerja part-time untuk usia-usia kuliah sepertiku. Aku pikir sih, memang harus seperti itu. Mana bisa bekerja sambil kuliah kalau nggak kerja part-time. Iya, kan? Akhirnya, keinginanku untuk bekerja sambil kuliah aku pikir ulang. Selain berkonsentrasi pada pekerjaan, aku juga harus bisa membagi waktu untuk kuliah. Belum lagi kalau nanti aku harus mengikuti ujian semester, sementara di kantor aku diharuskan masuk untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan karena mungkin menjelang deadline. Bagaimana aku bisa membagi waktu kalau sudah begitu? Sedangkan aku termasuk tipe orang yang tak bisa membagi waktu. Rasanya sungguh tak mungkin.
Memasuki tahun 2008, aku telah menyelesaikan skripsi dan bersiap-siap untuk mengikuti wisuda pada bulan Oktober. Aku sungguh senang karena akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku tanpa adanya aral yang cukup berarti. Mungkin banyak rintangan yang harus aku hadapi untuk meraih kata “lulus”, tapi syukur aku bisa melalui semuanya dengan wajah tersenyum dan hati yang lapang.
Setelah ijazah S1 ada di tanganku, aku mulai mencari pekerjaan untuk mengaplikasikan pengetahuan di perguruan tinggi yang sebelumnya aku jalani. Tapi, nyatanya tak semudah itu. Aku harus berupaya keras untuk mendapatkan satu jenis pekerjaan. Saat terbersit di kepalaku aku ingin menyerah, aku mendapatkan pekerjaan itu. Tapi itu pun, perjalananku ternyata tak berhenti sampai disitu. Aku masih harus berjuang lagi saat aku harus keluar dari pekerjaanku karena satu dan lain hal.
Sekarang, saat aku sudah mendapatkan pekerjaan lain, aku juga harus meninggalkannya untuk yang kesekian kalinya. Sekitar sembilan bulan setelah pernikahanku, kini aku tengah mengandung anak kedua—aku pernah keguguran pada kehamilanku yang pertama. Untuk itu, mungkin aku harus mengakhiri pekerjaanku karena itu. Aku memang berencana ingin keluar dari pekerjaanku, karena aku pikir bekerja di sebuah pabrik—walaupun berposisi sebagai staff—bisa membahayakan bayi dalam kandunganku.
Saat aku bertanya dalam hatiku, “Inikah sebuah akhir dari perjalanan karirku?” Mungkin tidak. Karena setelah ini, aku yakin masih banyak hal yang harus aku lakukan demi masa depanku. Hidup tak bisa menunggu untuk hal-hal kecil yang seolah berhenti hari ini.













Komentar Terakhir