Archive

Archive for the ‘Life’ Category

Inikah Sebuah Akhir?

September 24, 2009 Sotyasari Dhanisworo 1 comment

Lama nian aku menginginkan sebuah pekerjaan. Aku masih ingat berbagai macam usaha yang aku lakukan demi mendapatkan sebuah pekerjaan. Dulu, aku pikir mencari pekerjaan itu mudah. Mungkin mudah jika jaman belum berubah. Aku juga masih ingat saat seseorang mengatakan padaku bahwa tahun Millenium adalah tahun perubahan dunia. Segalanya yang semula terasa mudah, pada tahun Millenium akan dipersulit. Entah ucapan itu benar atau tidak, yang jelas selepas tahun 2000, segalanya memang benar-benar berubah. Meski tak terimbas dampak secara signifikan, aku yang pada masa itu masih duduk di bangku SMU sedikit merasakan perubahan yang terjadi.

Setelah aku duduk di bangku kuliah sekitar tahun 2002 hingga tahun 2008, aku mulai benar-benar merasakan dampak itu. Mungkin masih ada sedikit dampak positif yang aku rasakan, tapi jelas, dampak negatif selalu lebih tinggi. Aku mulai merasakan itu saat aku ingin mencari kerja di tengah-tengah kesibukan jadual kuliahku. Saat itu aku masih menjalani kuliah di semester enam. Keadaan keuangan keluargaku menurun. Sedangkan, biaya kuliahku tak bisa dibilang murah. Dimana-mana kampus swasta selalu lebih mahal dua kali lipat dibanding kampus negeri. Untuk itu, jika beruntung, aku bisa membantu keuangan keluargaku, pikirku kala itu.

Tapi, apa yang aku hadapi tak semudah yang aku pikirkan. Mencari pekerjaan yang hanya lulusan SMU sepertiku dulu sangatlah sulit. Kebanyakan mereka menawarkan kerja part-time untuk usia-usia kuliah sepertiku. Aku pikir sih, memang harus seperti itu. Mana bisa bekerja sambil kuliah kalau nggak kerja part-time. Iya, kan? Akhirnya, keinginanku untuk bekerja sambil kuliah aku pikir ulang. Selain berkonsentrasi pada pekerjaan, aku juga harus bisa membagi waktu untuk kuliah. Belum lagi kalau nanti aku harus mengikuti ujian semester, sementara di kantor aku diharuskan masuk untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan karena mungkin menjelang deadline. Bagaimana aku bisa membagi waktu kalau sudah begitu? Sedangkan aku termasuk tipe orang yang tak bisa membagi waktu. Rasanya sungguh tak mungkin.

Memasuki tahun 2008, aku telah menyelesaikan skripsi dan bersiap-siap untuk mengikuti wisuda pada bulan Oktober. Aku sungguh senang karena akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku tanpa adanya aral yang cukup berarti. Mungkin banyak rintangan yang harus aku hadapi untuk meraih kata “lulus”, tapi syukur aku bisa melalui semuanya dengan wajah tersenyum dan hati yang lapang.

Setelah ijazah S1 ada di tanganku, aku mulai mencari pekerjaan untuk mengaplikasikan pengetahuan di perguruan tinggi yang sebelumnya aku jalani. Tapi, nyatanya tak semudah itu. Aku harus berupaya keras untuk mendapatkan satu jenis pekerjaan. Saat terbersit di kepalaku aku ingin menyerah, aku mendapatkan pekerjaan itu. Tapi itu pun, perjalananku ternyata tak berhenti sampai disitu. Aku masih harus berjuang lagi saat aku harus keluar dari pekerjaanku karena satu dan lain hal.

Sekarang, saat aku sudah mendapatkan pekerjaan lain, aku juga harus meninggalkannya untuk yang kesekian kalinya. Sekitar sembilan bulan setelah pernikahanku, kini aku tengah mengandung anak kedua—aku pernah keguguran pada kehamilanku yang pertama. Untuk itu, mungkin aku harus mengakhiri pekerjaanku karena itu. Aku memang berencana ingin keluar dari pekerjaanku, karena aku pikir bekerja di sebuah pabrik—walaupun berposisi sebagai staff—bisa membahayakan bayi dalam kandunganku.

Saat aku bertanya dalam hatiku, “Inikah sebuah akhir dari perjalanan karirku?” Mungkin tidak. Karena setelah ini, aku yakin masih banyak hal yang harus aku lakukan demi masa depanku. Hidup tak bisa menunggu untuk hal-hal kecil yang seolah berhenti hari ini.

Categories: Life Tags: , ,

Hidup di Suatu Masa

Hanya sesaat yang lalu aku meletakkan satu komentar tentang apa yang ada di pikiranku di akun facebook milikku. Komentar itu berbunyi, “Aku ingin hidup di suatu masa dimana aku bisa menikmati apa yang seharusnya bisa kunikmati”. Dan, apa yang terjadi dengan tanggapan teman-temanku yang membacanya? Mereka semua mengatakan bahwa inilah masaku dan di masa inilah aku seharusnya bersyukur dengan apa yang sudah aku dapatkan. Hidup adalah anugerah.

Memang, aku akui, mereka benar. Hidup itu anugerah, dan aku tidak mengingkari itu. Aku sudah sangat bersyukur dengan apa yang aku dapatkan selama ini. Tapi, aku tetaplah seorang manusia biasa yang memiliki perasaan bahwa masih ada sesuatu yang kurang dalam hidupku, dimana aku sendiri belum tahu apa kekurangan itu. Manusia memang tidak diciptakan untuk menjadi mutlak sempurna, karena manusia memang hanya diciptakan dari segumpal tanah dan bukannya cahaya seperti halnya para malaikat. Namun, dosakah aku apabila aku mengharapkan sesuatu yang lebih dari apa yang aku impikan? Itulah yang aku maksud dengan “aku ingin hidup di suatu masa”. Mungkin, lebih tepatnya, kalimat itu merupakan bagian dari mimpi.

Bagiku, hidup adalah perjuangan. Untuk itu, apapun yang ingin aku raih—meski aku hanya bisa memimpikannya—akan aku lakukan semampuku hingga batas kemampuanku sebagai seorang manusia.

Beberapa jam yang lalu, aku juga sempat membaca bermacam-macam kalimat yang penuh filosofi kehidupan bahwasanya apa yang kita yakini benar adalah benar dan jangan pernah ragu untuk melangkah. Masa depan ada di tangan kita, dan hanya kita sendiri yang bisa membawa hidup ini ke arah yang lebih baik ataukah sebaliknya.

Categories: Life Tags:

Honeymoon

Hmm.. kalau mendengar kata honeymoon alias bulan madu, rasanya aku pengeeeen banget!! Pasalnya, sejak aku menikah tahun 2008 lalu, aku belum sempat pergi bulan madu dengan suamiku. Tadinya aku dan dia berencana untuk terbang ke Lombok dan menikmati indahnya pemandangan disana, tapi apa daya tangan waktu tak sampai. Aku bilang waktu, karena oleh perusahaan kami masing-masing—kala itu aku masih bekerja—hanya diberikan waktu berlibur 5 hari. Sedangkan, menurut adat Jawa, pengantin baru harus berada di rumah selama 5 hari. So? Bisa dibayangkan, kan? Jadilah, aku dan suamiku hanya berdiam diri di rumahku selama masa liburan kami. Hiks..!

Tapi, aku dan suami telah sepakat bahwa kami akan menggantinya di lain waktu saat waktu liburan tiba. Betapa bahagia jikalau kami dapat berlibur berdua keluar kota—keluar negeri sekalian (kalau perlu)—dan jauh dari masalah. Mungkin aku dan suami memang butuh liburan itu disaat masalah yang kami hadapi semakin hari semakin menumpuk seperti sekarang ini.

Phuff..!! Aku cuma bisa berharap hari libur bisa segera datang secepatnya. Bukan karena apa-apa. Yang aku inginkan hanyalah bisa me-refresh otak. Karena, selain baik untuk kesehatan, berlibur juga dapat membuat isi kepala kita kembali segar seperti sediakala—seperti saat-saat sebelum masalah demi masalah ini datang bertubi-tubi di dalam kehidupan kami. Semoga saja, saat hari itu tiba masalah-masalah kami sudah terselesaikan semua dengan sangat baik—tanpa timbul masalah-masalah lain di kemudian hari.

Categories: Health, Life, Love Tags: , , ,

Dukungan Spiritual

Siapapun pasti pernah mengalami saat-saat tidak menyenangkan dalam sejarah hidupnya. Sama sepertiku yang beberapa waktu lalu sempat mengalami depresi hebat. Mungkin rasa itu masih ada saat aku menulis posting ini, namun sudah tidak seberapa dibanding hari-hari kemarin. Mungkin orang-orang di sekitarku tak pernah tahu dibalik ekspresi wajah bahagia dan seperti tidak pernah bersedih yang selalu aku tunjukkan di hadapan publik aku ternyata menyimpan duka. Aku hanya tidak ingin—dan tidak pernah ingin—mereka tahu kepedihan apa yang tengah menderaku. Cukuplah kepedihan ini kusimpan untukku sendiri.

Tapi, bagaimana pun aku bersabar aku tetaplah ditakdirkan sebagai manusia biasa yang punya batas kesabaran. Aku pun tak munafik bahwa tanpa adanya dukungan spiritual dari teman-temanku, aku mungkin belum sebaik sekarang. Aku memang membutuhkan itu semua selain (pastinya) aku membutuhkan Tuhan sebagai penenang jiwa rapuhku. Aku beruntung memiliki teman-teman seperti mereka. Mungkin memang benar apa kata mereka bahwa tak seorang pun melarangku menikah, tapi aku pun tak bisa lepas dari teman-temanku. Disaat tak ada seorang pun yang bisa aku ajak bicara, aku akan membutuhkan mereka sebagai tempat curahan hatiku.

Hari ini pun, hari yang paling special buat aku, mereka masih selalu ada untukku. Memberiku sejuta harapan akan kehidupan, memberiku sejuta asa bahwa aku masih berhak melangkahkan kakiku lebih jauh lagi, dan membingkiskan doa untukku dan kehidupanku di masa yang akan datang.

“Terima kasih semuanya!!”

Categories: Life Tags: , ,

Public Relation

Sebenarnya bagaimana sih deskripsi pekerjaan seorang Public Relation (PR)? Aku sudah berkali-kali menemukan orang mengatakan bahwa mereka bekerja sebagai PR, tapi apa yang aku temukan di lapangan ternyata orang tersebut sangat jauh dari deskripsi pekerjaan PR yang selama ini aku tahu. Mungkinkah PR memiliki arti lain selain Public Relation?

Baru kemarin aku mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai seorang PR di sebuah perusahaan valuta asing, tapi aku tolak. Bukan aku tidak mau menerima pekerjaan itu. Seorang PR di sebuah perusahaan valuta asing seperti itu berisiko tinggi untuk wanita yang sudah berkeluarga seperti aku. Memang semua kembali lagi ke diri masing-masing apakah tahan akan segala godaan atau tidak. Tapi, kalau setiap hari, berbulan-bulan, atau bahkan sampai tahunan menerima godaan seperti itu apakah bisa tahan? Aku tidak yakin.

Untuk itu setiap kali aku menerima sebuah tawaran pekerjaan, aku selalu berkonsultasi dengan suami. Dia lebih tahu tentang dunia karir—tepatnya bagi seorang istri. Walaupun aku wanita, tapi aku belum terlalu paham soal dunia kerja. Mungkin kalau diandaikan buah, aku hanya tahu kulitnya. Sehingga, saat aku mengatakan padanya bahwa ada tawaran sebagai seorang PR dengan deskripsi pekerjaan yang aku uraikan, dia melarangku. Tentunya dia memiliki beribu alasan mengapa kata larangan itu diucapkan—walau dia tahu aku sangat membutuhkan sebuah pekerjaan.

Baiklah, mungkin pekerjaan itu belum berjodoh denganku. Aku harus mencari di lain tempat lagi. Mungkin memerlukan waktu yang tidak sebentar, tapi aku tidak ingin menyerah sekarang. Aku harus mengumpulkan kembali kepercayaan diriku bahwa aku bisa melalui ini semua. Mungkin ini hukuman bagiku. Sebuah karma yang harus aku tebus sampai akhirnya Tuhan menghapusnya dari jalan hidupku.

Categories: Job, Life Tags: , , ,

Satu Keputusan

Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini. Terombang-ambing bagaikan arus ombak di lautan. Beberapa jam lalu aku baru saja melihat sebuah rumah kost yang menurutku lumayan bagus, bersih, dan terawat. Tak seperti kebanyakan rumah kost yang selalu terlihat kotor dan tidak terawat. Sehingga, melihatnya saja sudah malas apalagi memutuskan untuk tinggal.

Sekarang, hanya tinggal menunggu persetujuan orangtuaku apakah aku diperbolehkan tinggal berdua dengan suamiku di rumah kost itu—mengingat selama ini orangtuaku selalu melarangku untuk tinggal di sebuah kost-kost-an. Menurutku pribadi mereka sebenarnya tidak berhak untuk mengintervensi hidupku dan suamiku. Aku sudah punya kehidupan sendiri. Dan, tinggal di rumah kost itu hanya untuk sementara waktu selama menunggu rumahku yang sebenarnya selesai dibangun.

Aku tidak ingin tinggal di rumah orangtuaku lebih lama lagi. Aku seperti orang lain disitu. Dan, tinggal lebih lama lagi hanya akan membuat rumah tanggaku semakin berantakan. Aku seperti hidup di dalam sangkar. Tidak bisa bebas dan meniti hidupku lebih jauh ke depan.

Aku hanya lelah menangis. Meratapi hidupku yang selalu saja seperti ini. Tidak pernah berubah walau aku telah memiliki pendamping hidup. Ada apa sebenarnya? Pasti ada kesalahan. Dan, apakah kesalahan itu terletak pada diriku? Jika memang iya, maka aku harus segera mengubahnya. Namun jika tidak, salah siapa sebenarnya?

Categories: Life Tags:

Berwirausaha?

Aku mungkin bukan orang yang gampang menyerah. Tidak! Aku tidak ingin menyerah sekarang. Tidak dalam keadaan seperti ini. Susahnya aku mencari pekerjaan bukan suatu alasan untuk menyerukan kata-kata menyerah. Tapi, bila aku telah berada di ujung tanduk keputusasaan, masihkah aku bersikeras dengan pendirianku?

Aku tidak ingin berhenti di tengah jalan. Masih banyak yang harus kuraih. Umurku masih cukup untukku mencapai apa yang aku impikan. Jika aku menyerah sekarang, bagaimana dengan semua impian dan harapanku? Aku tidak ingin apa yang aku bangun selama ini sirna dengan sia-sia.

Saat aku telah benar-benar tersudut oleh semua keadaan ini, aku mungkin akan memutuskan untuk berwirausaha sendiri. Tapi, itupun aku belum tahu pasti. Semuanya masih samar-samar. Aku belum yakin akan keputusanku. Seseorang yang akan berwirausaha haruslah benar-benar memiliki jiwa usahawan yang tinggi dan memiliki insting kuat tentang pangsa pasar, target pasar, kompetitor, dan lain sebagainya.

Mungkin akan butuh waktu cukup lama bagiku untuk mempersiapkan semua ini. Atau, mungkinkan aku sudah menyerah dengan keadaan? Entahlah. Yang jelas, aku tidak boleh menyerah pada nasib. Aku harus berjuang sekeras apapun selama aku masih mampu melakukannya.

Categories: Life Tags:

Susahnya Hidup Berumahtangga

Awalnya aku berpikir bahwa definisi berumahtangga adalah menikah, mengurus, dan melayani suami. Tapi, ternyata semuanya jauh dari apa yang aku bayangkan. Berbagai macam persoalan datang silih berganti. Berbagai macam perbedaan pendapat masuk di kepalaku setiap hari seolah ada dua kubu yang memaksaku untuk memihak pada salah satunya. Aku baru menikah sekitar lima bulan yang lalu tapi kenapa permasalahan ini datang seakan pernikahanku sudah berumur puluhan tahun?

Aku sering bertanya, apakah permasalahan dalam satu pernikahan itu harus sedemikian pelik? Jika benar, bagaimana tiap-tiap pasangan suami-isteri di luar sana menghadapinya? Aku ingin belajar dari mereka.

Sekarang, aku masih tinggal di rumah orangtuaku, tapi aku merasa seperti berada di rumah orang lain. Buntut-buntutnya, aku seakan terusir dari rumahku sendiri. Aku sudah berusaha untuk tidak merepotkan orangtuaku dengan aku dan suamiku berada di situ. Tapi, sepertinya apa yang aku lakukan tidaklah berguna. Aku tetap saja berperan sebagai ‘manusia terasing’.

Aku sedih.

Kadang aku ingin menangis, kadang aku ingin sendiri. Aku hanya ingin bebas. Aku ingin menapaki hidup ini dengan langkah kakiku sendiri. Aku tidak ingin terus-menerus terpenjara bagai burung di dalam sangkar. Hidup mungkin keras, tapi sekeras apapun itu jika aku melaluinya dengan hati dan jiwa yang bahagia, mungkin hidup tak sekeras kelihatannya.

Categories: Life Tags:

Hidup itu Indah, tapi juga Keras!

MoneyAku tidak pernah memungkiri bahwa hidup itu memang indah, tapi hidup juga selalu menuntut manusia-manusia ini untuk berjuang menggapai mimpi dan harapan. Aku mungkin bekum banyak memakan asam garam kehidupan, tapi cukuplah untuk mengetahui bagaimana kerasnya hidup itu.

Dalam hidup apabila kau tak bisa menghadapi dengan bagaimana seharusnya, maka kau akan kalah. Kalah disini bukan seperti kalah dalam sebuah game atau pertandingan, melainkan kalah dengan kerasnya kehidupan itu sendiri.

Huuh.. aku seringkali menangis tatkala aku melihat suatu kenyataan bahwa aku telah berkali-kali kalah dalam menjalani kehidupanku. Aku tak pandai dalam menyikapi ini semua. Aku tak pandai dalam bersikap bagaimana aku seharusnya bersikap. Karena itulah aku kalah. Dan ternyata, aku menangis, kan? Itulah bukti kekalahanku.

Aku telah berkali-kali berjuang dalam menempuh separuh perjalanan hidupku. Tapi, aku seperti berjalan di tempat. Tuntutan akan suatu kebutuhan telah mengambil sebagian impian yang ingin kuraih. Aku seperti dipaksa untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah lebih banyak daripada yang seharusnya aku dapatkan. Yah mungkin aku memang membutuhkan sepeser uang, tapi aku tak terlalu buta karenanya. Aku sudah merasa cukup dengan apa yang aku dapat sekarang.

Hanya mungkin hidup itu memang harus seperti ini, sehingga siapapun akan berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkan—walau dengan berbagai macam cara.

Prinsipku hanya satu. Tak pernah berhenti berusaha dan berdoa. Rejeki adalah rahasia Tuhan—dimana hal itu berbanding terbalik dengan nasib. Nasib bisa berubah kapan pun kita mau, asalkan ada niat dalam diri kita masing-masing untuk berupaya mengubahnya.

Categories: Job, Life Tags: , , ,

Rindu

Sudah lama sekali aku tidak bertemu dan berbicara dengan teman-temanku. Aku merindukan mereka semua. Beberapa tahun yang lalu saat kita semua masih sama-sama duduk di bangku kuliah, aku tak pernah merasakan perasaan rindu ini. Tapi sekarang, aku benar-benar harus merasakannya.

Kini, aku merasa jauh. Namun, aku harus menyadari bahwa inilah salah satu dari konsekuensi yang harus aku hadapi tatkala aku memutuskan untuk mengakhiri masa lajangku. Di satu sisi aku masih sedikit berat meninggalkan kesempatanku untuk bisa bersenang-senang, di sisi lain aku harus rela meninggalkan semuanya demi menjemput masa depanku. Ya, semuanya hanya demi masa depan. Jadi,

“Selamat tinggal masa muda, selamat datang masa depan..”

Categories: Life Tags: ,