Perjalanan Karir
Mungkin perjalananku belum selesai, dan sama sekali belum berakhir. Semua masih akan berlanjut yang entah sampai kapan. Berbagai cobaan telah aku lalui. Mulai dari mencari satu buah pekerjaan hingga akhirnya mendapatkan berbagai tawaran untuk diterima bekerja di salah satunya. Semua datang silih berganti tanpa bisa aku hindari. Disaat aku terbelenggu dalam lingkaran putus asa, semua seolah sangat sulit aku capai dan rasanya berbagai ekspresi ‘tak mungkin’ berkecamuk di benakku. Begitu pun sebaliknya. Disaat aku sudah mendapatkan salah satu pekerjaan yang menurutku sangat baik untuk prospek karirku di masa depan, berbagai tawaran lain muncul menantiku. Disinilah aku harus menentukan pilihanku. Aku tak mungkin berada pada dua lokasi kantor yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Tapi, memutuskan untuk memilih salah satu pekerjaan itulah yang membuatku bingung. Di satu sisi menawarkan lokasi yang sangat dekat dengan rumah, namun dengan gaji kecil dan prospek karir yang bisa dibilang buruk. Sementara di sisi lain menawarkan prospek karir yang sangat bagus dan gaji yang meyakinkan, namun dengan lokasi yang sangat jauh dan transportasi yang lumayan susah bagiku yang tidak bisa mengendarai motor sendiri.
Disaat aku telah menjatuhkan pilihanku, aku tetap masih dibingungkan oleh beberapa pilihan lain. Sebuah perusahaan besar yang menawarkan sejumlah jenjang karir yang meyakinkan dan gaji yang terbilang cukup memuaskan memintaku dengan sangat untuk dapat bekerja disana. Sebenarnya aku tak perlu memusingkannya. Aku tinggal mengatakan kesanggupanku untuk dapat segera bergabung dengan mereka dan semuanya beres. Namun, tak semudah itu. Aku harus memikirkan hal lain yang juga sangat vital—terutama bagiku yang tidak bisa mengendarai motor sendiri. Yaitu, transportasi. Sarana kendaraan untuk dapat mencapai lokasi kantor itu sangatlah jauh dan tergolong sulit. Tapi, pihak kantor mengatakan bahwa aku tak perlu membingungkannya karena mereka telah menyediakan antar-jemput yang bersedia mengantarkanku pulang dan pergi. Baiklah, kalau begitu aku bersedia bergabung. Aku pun menyanggupinya. Aku harap aku bisa menikmati pekerjaanku disana.
Oh ya, aku lupa mengatakan bahwa pekerjaan dan segala apapun yang aku ceritakan tadi tak bukan dan tak lain adalah pekerjaanku di pabrik sepatu yang telah aku publish di postinganku yang lalu berjudul “tempat kerja baru”. Aku memang sempat ingin keluar dari sana beberapa waktu lalu dan berencana untuk bekerja di sebuah perusahaan bengkel asuransi yang berlokasi sangat dekat dengan tempat tinggalku. Hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit untuk mencapai lokasi kantor itu. Tak sulit memang, tapi untuk ukuran pendidikan dan segala kemampuan yang aku miliki rasanya perusahaan bengkel asuransi itu tak cocok untukku. Segala kemampuan yang aku miliki mungkin takkan pernah digunakan. Jadi, untuk apa aku menempuh pendidikan tinggi selama ini?
Tanpa kuduga, pabrik sepatu itu meneleponku kembali untuk tetap ingin mempertahankanku dan berupaya agar aku bersedia bergabung kembali dengan mereka. Setelah aku mengatakan alasan aku berhenti, mereka pun berusaha mencarikanku jalan keluar agar aku benar-benar kembali kesana. Dan memang benar. Setelah mereka menemukan jalan keluar untukku—dalam hal transportasi—aku pun bersedia kembali. Kalau memang aku dibutuhkan, aku akan dengan senang hati untuk kembali. Mungkin segala ketidaknyamanan, kebisingan, kepedihan, dan apapun yang aku rasakan selama dua minggu aku bekerja disana takkan aku pedulikan lagi. Itulah risiko orang bekerja, aku berpikir. Tak ada satu pun pekerjaan yang tidak membutuhkan kesabaran, keuletan, dan pengorbanan demi mencapai hasil yang memuaskan. Maka, aku harus bersabar. Semuanya demi kelangsungan hidupku di masa depan. Aku harus paham itu. Dan, semoga ke depannya aku akan mendapatkan balasan dari buah kesabaranku.
Kecelakaan Kerja
Aku sama sekali tidak punya pengalaman bekerja di sebuah pabrik. Dan, aku pikir aku tidak akan bekerja di sebuah pabrik. Tapi, nasib seseorang siapa yang bisa menduga, kan? Ternyata aku sekarang bekerja disana—sebuah pabrik sepatu yang tergolong besar dengan jumlah karyawan sekitar 1000 orang yang berlokasi di daerah Sidomojo-Krian, Sidoarjo, Indonesia.
Aku memang masih sangat baru disitu, tapi aku sudah mendapat satu kecelakaan kerja yang melukai diriku sendiri. Jari kelingkingku memar-memar terpukul palu. Saat aku tengah melakukan pekerjaanku aku mengalami kesulitan dan aku meminta tolong kepada salah seorang teman. Tanpa sengaja ia memukul jariku sekeras-kerasnya dengan palu besar itu. Aku tak bisa meraung, berteriak, pun menangis. Aku hanya bisa menahan rasa sakit itu.
Setibanya di rumah barulah aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak bisa lagi menahan rasa sakit yang amat sangat bersemayam di jari kecilku. Tapi, dengan sabar suamiku mengobati lukaku dan menghilangkan rasa sakit itu. Aku ingin mengakhiri masa kerjaku disana, tapi aku tak bisa begitu saja meninggalkan apa yang telah aku mulai. Jauh dalam lubuk hatiku aku berjanji akan tetap bekerja disana sampai aku mungkin mendapatkan tempat kerja lainnya—yang tidak harus melukai diriku sendiri.
Tempat Kerja Baru
Sekarang, aku punya pekerjaan baru, teman-teman baru, dan suasana kerja yang juga sama sekali baru. Di postingan sebelumnya aku telah mengatakan bahwa pekerjaan ini insya Allah akan menjadi tempat pemberhentian terakhirku dalam mengais rejeki. Aku tidak ingin berpindah-pindah lagi dan mencari pekerjaan baru. Mencari pekerjaan bukanlah perkara mudah karena dibutuhkan kesabaran yang amat sangat tinggi dan tak lupa permohonan melalui doa yang tak cukup dilakukan dengan cara singkat dan cepat. Untuk itu, cukuplah aku merasa bahwa pengorbananku selama ini tidak sia-sia. Ada hasil yang aku raih dari itu semua.
Suasana dalam kantor—atau lebih bisa disebut pabrik—cukup nyaman. Aku tidak mengatakan suasana disana nyaman atau sangat nyaman sekali pun, karena memang tidak demikian. Suara mesin pabrik dan berbagai suara-suara bising lainnya tak cukup membuatku merasa nyaman. Oh ya, aku lupa bilang kalau aku bekerja di sebuah pabrik sepatu ekspor sebagai staff pembelian. Tapi, selama tiga bulan terhitung sejak tanggal 22 Juni 2009 kemarin aku menjalani proses training atau pelatihan sebagai pengenalan terhadap proses kerja dan bahan baku utama pembuatan sepatu dan jenis-jenisnya. Rumit? Memang! Sungguh banyak jenis sepatu dan tentu saja bahan baku yang digunakan untuk membuat sepatu-sepatu itu beraneka ragam. Belum lagi warna-warna yang bervariasi. Aku bukan komputer yang bisa dengan mudah semua hal yang diinputkan kepadanya. Tapi, aku akan mencoba mengingatnya sedikit demi sedikit. Dengan berjalannya waktu mungkin aku akan terbiasa dengan mereka.
Satu lagi. Aku mungkin akan banyak menemukan masalah sejalan dengan keberadaanku disana. Tapi, aku harus menerapkan satu prinsip di kepalaku bahwa aku sudah berkeluarga dan ada sesuatu yang harus aku pertahankan. Dan, hukumnya adalah wajib. Aku tak ingin jatuh ke lubang yang sama dua kali. Biarlah kesalahan-kesalahan terdahulu menjadi kenangan untukku sendiri yang akan kusimpan dalam kotak memoriku dan akan aku kubur dalam-dalam untuk selamanya.
End of Journey
Akhirnya perjalanan dan pencarianku selesai sudah. Tapi, bukan berarti aku akan berhenti menuliskan kisah hidupku disini. Hidupku masih akan terus berjalan seperti biasanya, hanya saja apa yang selama ini aku cari telah aku temukan—yaitu sebuah pekerjaan!
Betapa senang hatiku saat apa yang aku nantikan begitu lama tiba-tiba saja datang tanpa pernah aku duga. Entah aku lupa atau bagaimana, yang jelas aku merasa tidak pernah mengirimkan lamaran ke perusahaan ini. Dikarenakan tempat yang jauh dan akses yang lumayan sulit dijangkau. Tapi, setelah aku mendapatkan panggilan dari sana dan aku diantar suamiku ke tempat itu, kata-kata jauh yang beberapa saat sebelumnya terlontar dari mulutku sirna seketika.
Lokasi kantor itu tak bisa dikatakan jauh atau sangat jauh sekali pun. Waktu yang dibutuhkan untuk bisa mencapai alamat itu hanya sekitar 30 menit, atau maksimum 90 menit. Dan, harapanku akan sebuah kantor dan berbagai fasilitas yang aku harapkan telah mereka miliki. Aku sangat bersyukur sekali dengan ini semua. Disaat aku hampir patah arang tentang apa yang telah aku lakukan semua ini ternyata aku mendapatkan sebuah ‘hadiah’ atas kesabaranku selama ini. Mungkin bukan murni sebuah kesabaran—karena telah sedikit tercampur dengan keputusasaan—tapi overall aku sangat bahagia sekali.
Pekerjaan ini, aku harapkan adalah tempat persinggahan terakhirku dalam mencari penghasilan. Insya Allah aku akan bertahan selama mungkin disana, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk berwirausaha sendiri dengan suami—di masa depan. Tapi, untuk saat ini, bisa dibilang keadaan ekonomiku dengan suami masih sangat rapuh. Butuh banyak biaya untuk membangun sebuah biduk rumah tangga. Jadi, aku akan berusaha membuat diriku sendiri merasa nyaman di kantorku nanti sehingga aku dapat bertahan lama.
Mungkin memang tak mudah membangun sebuah biduk rumah tangga yang bahagia dan nyaman tanpa adanya gangguan dari ‘tangan-tangan jahil’ alias wanita penggoda. Kenapa sih wanita-wanita penggoda itu tidak dimusnahkan saja dari muka bumi ini? Aku benci mereka! Salah satu dari mereka kembali mengusik kehidupan rumah tanggaku. Kapan mereka menyadari bahwa baik suami maupun aku sudah memiliki komitmen untuk hidup bersama selamanya? Mereka bodoh, pura-pura bodoh, atau memang benar-benar bodoh? Aku harap mereka pergi jauh sejauh-jauhnya dari kehidupanku dan suami serta tidak menodai perjalanan hidup yang baru saja akan aku mulai.
Job Fair is a Business?
Aku baru tersadar bahwa ternyata bursa kerja yang sering diadakan di beberapa lokasi di Surabaya ini memiliki indikasi bisnis. Buktinya adalah, setiap pelamar atau masyarakat yang mengikuti bursa kerja itu selalu ditarik biaya untuk bisa masuk ke sebuah ruangan yang sudah ditentukan. Tapi, yang sering aku tahu, perusahaan-perusahaan yang ada di dalam ruangan itu seringkali perusahaan-perusahaan yang jarang memiliki mindset di benak pelamar. Mungkin aku memang hanya menduga, tapi aku sendiri mengalaminya. Aku seringkali mengunjungi bursa-bursa kerja di Surabaya, dan bukan hanya sekali-duakali, aku menemukan perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki kompetensi berada disana. Lalu, apalagi kalau bukan karena indikasi bisnis semata?
Selama ini aku tidak memperhatikan hal-hal kecil semacam itu. Aku hanya mengikuti apa yang mungkin bermanfaat untukku. Namun, ternyata aku dan sebagian besar mereka yang mengikuti bursa kerja sepertiku merasa tertipu oleh unsur bisnis berkedok bursa kerja.
Aku memang sangat butuh pekerjaan, tapi kalau caranya seperti itu aku ogah mengikutinya. Aku saat ini sudah terlalu lelah mengikuti ‘permainan’ bisnis orang-orang dengan ekonomi kuat seperti itu. Aku tidak mengatakan aku seorang dengan ekonomi lemah. Aku termasuk orang dengan ekonomi menengah, tapi terkadang aku membutuhkan wadah, tempat, dan sarana untuk bisa mengapresiasikan kreatifitas yang aku miliki. Cuma itu. Tidak adakah satu—hanya satu—kesempatan bagiku untuk meraih itu semua? Meraih apa yang kuimpikan? Sudah habiskah semua kesempatan itu? Tolonglah!
Bom Atom Facebook
Keasyikkan memiliki akun facebook mungkin cuma bertahan sesaat saja. Selebihnya, yang tersisa adalah kekhawatiran dan rasa was-was. Tapi, itu mungkin bagiku yang notabene-nya sudah berkeluarga—dan juga teman-temanku dengan status yang sama. Aku sebenarnya takut setiap kali aku membuka akunku disana. Setiap saat, setiap waktu, dan setiap ada kesempatan. Entah kenapa. Seperti yang pernah aku bilang kepada salah seorang temanku, Andhin, bahwasanya facebook seolah membawaku flashback ke masa-masa laluku. Suatu masa dimana aku masih sangat menikmati usia mudaku—saat usiaku masih sangat layak dan pantas untuk menikmati indahnya cinta. Tapi, sekarang sepertinya semua itu sudah tak penting lagi. Semua sudah memiliki jalan sendiri-sendiri. Aku tahu dan sangat sadar akan hal itu. Yang aku takutkan hanyalah satu: kesalahpahaman.
Facebook bagiku seperti bom atom yang bisa meledak dan menghancurkan semuanya. Saat satu kesalahpahaman terjadi dan berbuntut panjang, bom itu akan menunjukkan keperkasaannya meluluhlantakkan siapa saja yang berada dekat dengannya. Aku tidak takut terkena ledakannya. Aku hanya takut apa yang akan terjadi (denganku) jika akhirnya bom itu meledak?
Kesalahpahaman bisa berarti besar jika ada pihak-pihak tertentu yang tidak bisa membedakan antara teman, sahabat, dan pacar. Aku mungkin juga tidak terlalu pandai membedakan ketiganya. Mungkin hanya kejujuran yang bisa menjelaskan semuanya.
Harapanku, dengan aku memiliki akun facebook, aku bisa menemukan kembali teman-teman lamaku dan saling bercerita akan aktivitas yang tengah mereka lakukan kini. Tak ada maksud lain, apalagi mencari ’sesuatu’. Untuk apa? Tak ada untungnya bagiku! Namun, mungkin saja, ada pihak-pihak tertentu yang menganggapku ’salah kamar’. Maksudnya, aku tidak diperkenankan membuka kembali masa laluku yang telah terkubur di ruang yang tidak seharusnya aku masuki. Jika diperbolehkan berteriak, mereka mungkin meneriakkan sesuatu padaku. “Ini bukan lagi duniamu, Dhanis! Pergilah sejauh mungkin dan jangan kembali lagi!”
Aku berjanji aku takkan kembali kesana, tapi izinkan aku untuk sejenak merengkuh kembali masa mudaku untuk kukenang—cukup untukku sendiri. Aku sudah punya kehidupan sendiri. Aku sudah punya jalan sendiri, ‘rel’-ku sendiri. Dan juga, impianku sendiri. Aku tak mungkin meninggalkan apa yang telah aku miliki sekarang, untuk hari ini, esok, dan sepanjang sisa hidupku.
Honeymoon
Hmm.. kalau mendengar kata honeymoon alias bulan madu, rasanya aku pengeeeen banget!! Pasalnya, sejak aku menikah tahun 2008 lalu, aku belum sempat pergi bulan madu dengan suamiku. Tadinya aku dan dia berencana untuk terbang ke Lombok dan menikmati indahnya pemandangan disana, tapi apa daya tangan waktu tak sampai. Aku bilang waktu, karena oleh perusahaan kami masing-masing—kala itu aku masih bekerja—hanya diberikan waktu berlibur 5 hari. Sedangkan, menurut adat Jawa, pengantin baru harus berada di rumah selama 5 hari. So? Bisa dibayangkan, kan? Jadilah, aku dan suamiku hanya berdiam diri di rumahku selama masa liburan kami. Hiks..!
Tapi, aku dan suami telah sepakat bahwa kami akan menggantinya di lain waktu saat waktu liburan tiba. Betapa bahagia jikalau kami dapat berlibur berdua keluar kota—keluar negeri sekalian (kalau perlu)—dan jauh dari masalah. Mungkin aku dan suami memang butuh liburan itu disaat masalah yang kami hadapi semakin hari semakin menumpuk seperti sekarang ini.
Phuff..!! Aku cuma bisa berharap hari libur bisa segera datang secepatnya. Bukan karena apa-apa. Yang aku inginkan hanyalah bisa me-refresh otak. Karena, selain baik untuk kesehatan, berlibur juga dapat membuat isi kepala kita kembali segar seperti sediakala—seperti saat-saat sebelum masalah demi masalah ini datang bertubi-tubi di dalam kehidupan kami. Semoga saja, saat hari itu tiba masalah-masalah kami sudah terselesaikan semua dengan sangat baik—tanpa timbul masalah-masalah lain di kemudian hari.
Uji Kesabaran
Pencarian kerja yang tengah aku lakukan kini seperti layaknya uji kesabaran untuk diriku. Aku seolah berada di tengah-tengah samudera luas tak bertepi. Kebingungan mencari sesuatu yang bisa aku gunakan untuk menopang berat tubuhku.
Entahlah, semakin hari aku semakin gila memikirkan semua ini. Apakah keinginanku untuk membantu suami merupakan suatu kesalahan?—sehingga inisiatifku untuk mencari penghasilan pun selalu terhalangi? Terkadang aku bingung dengan dunia ini. Di satu sisi, saat manusia ingin mengasah satu kreatifitas yang ada pada dirinya dengan mencari suatu pekerjaan, dunia malah bersikap tidak adil padanya. Di sisi lain, tatkala manusia itu sudah tidak membutuhkan tempat apapun untuk menumpahkan segala ide dan isi kepalanya—katakanlah orang yang sudah cukup berada—dunia malah seolah berlomba-lomba memberi mereka tempat seluas-luasnya untuk bisa menambah kreatifitasnya di dunia bisnis. Itukah namanya keadilan?—yang selama ini selalu digembar-gemborkan oleh pemimpin negeri untuk menambah lapangan pekerjaan? Bukti nyata: masih banyak pengangguran tersebar di setiap sudut kota di seluruh Indonesia!
Mungkin postinganku kali ini punya timing yang tepat disaat negara kita akan mengadakan pemilihan presiden yang insya Allah akan diselenggarakan pada tanggal 8 Juli mendatang. Aku pasti akan menggunakan hak pilihku. Tapi, siapapun nanti yang terpilih menjadi presiden, aku akan memberikan usulan yang berkaitan dengan lapangan pekerjaan. Keadilan harus lebih ditegakkan lagi! Pengangguran harus cepat diatasi—jika ingin memajukan Indonesia dan membuat negeri ini mampu bersaing dengan negara-negara maju sekelas Amerika dan Inggris. Cuma itu harapanku, dan semoga lekas terkabul.
Nothing
Ternyata, tak ada sesuatu pun yang terjadi kemarin. Hanya mungkin aku saja yang terlalu mendramatisir keadaan. Aku terlalu terbawa suasana. Mungkin memang tanggal 11 Juni itu bukan hanya sekedar tanggal bagiku. Tanggal itu memiliki arti yang lebih dibanding semuanya. Tapi, meski jaman sudah berkembang dan serbacanggih seperti sekarang ini, aku tetap tak bisa melakukan apapun—walau hanya ingin berucap satu patah kata.
Aku tahu aku tak boleh seperti ini. Mengharap sesuatu yang tak seharusnya bisa boleh aku harapkan. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri tentang kapan aku tersadar bahwa diantara aku dan dia ada dinding tebal kedap suara yang menelan seluruh suara yang aku teriakkan padanya? Kapan? Mungkin aku harus menenggelamkan diriku ke dasar sungai yang dalam terlebih dahulu—kalau perlu di kedalaman samudera sekalian—baru aku akan bisa melupakannya. Karena menurut buku yang aku baca dan film yang pernah aku lihat, kedalaman air bisa merusak jaringan otak, yang tentunya bisa membuat amnesia. Hmm, bagus untukku!
Apapun akan kulakukan asalkan aku bisa melupakan dia. Aku sudah tak sanggup lagi menahan semua ini. Kemana pun aku pergi, sejauh kakiku melangkah, kemana pun sudut mataku mengarah, selalu ada hal yang bisa mengingatkanku padanya. Oh, Tuhan, tolong aku!
Satu-satunya nomor kontak yang masih bisa kuingat, kini sudah tak lagi eksis. Apa yang terjadi? Padahal hanya itu yang masih tersisa tentangnya—di benakku. Kemudian, aku berpikir, “Mungkin kisah cerita antara aku dan dia harus berakhir sampai disini.”
“Goodbye, My Love!!”
Not Just Birthday
Satu yang tak pernah hilang dari ingatanku—meski mungkin aku sudah melupakan masa laluku—adalah tanggal 11 Juni. Mungkin kalau tak ada apapun, tanggal ini bisa berarti tanggal biasa. Tapi tidak bagiku. Tanggal ini punya arti yang sama dengan tanggal 9 Juni—hari spesialku. Tanggal 11 Juni adalah hari ulang tahun Ian. Tapi, aku mungkin tidak bisa memberikan apa yang seharusnya bisa aku berikan. Aku mungkin hanya mengucapkan selamat.
Aku memang tak perlu melakukannya jika aku mau. Tapi, aku merasa aku perlu melakukannya. Selain sebagai rasa persahabatan, aku juga ingin tahu bagaimana reaksi dia sepeninggal aku dari kantor. Apakah baik-baik saja ataukah semakin bertingkah yang aneh-aneh. Terus terang saja, aku memang masih sangat merindukannya.
Entah apa yang terjadi padaku. Sudah berkali-kali aku coba untuk tidak bersentuhan lagi dengan masa lalu-masa lalu yang cukup menyiksaku, menyiksa kehidupanku, dan memporakporandakan puzzle yang telah aku susun rapi. Tapi, mungkin aku tergolong cewek nekat. Biarlah. Aku hanya mencoba untuk memberinya instruksi bahwa aku takkan pernah melupakannya—sampai kapan pun.











Komentar Terakhir