Re-Sign
Satu prahara mengusik ketenangan rumah tanggaku, saat aku tahu bahwa prahara itu muncul bersamaan dengan keputusanku untuk menapaki dunia kerja. Yang aku sesalkan adalah prahara itu terjadi karena kesalahanku sendiri.
Ian..
Nama itu seakan menjadi sesuatu yang mengerikan yang harus aku musnahkan untuk selama-lamanya dari pikiranku. Nama itu jugalah yang membuat semuanya menjadi mimpi buruk di bulan-bulan awal pernikahanku.
Jauh di dalam hati aku memaki diriku sendiri, kenapa bisa begitu bodoh tertipu oleh wajah manis seakan tanpa dosa itu?
Berbagai perlakuan kasar dan caci-maki harus aku terima dari suamiku atas perbuatanku. Aku patut menerimanya karena memang aku bersalah. Selain itu, aku pun harus menuruti perintahnya untuk berhenti dari pekerjaanku. Yah, aku re-sign dari pekerjaan yang belum genap tiga bulan aku jalani. Tak hanya itu, aku pun harus merelakan HP-ku disita oleh suamiku dan tidak diperbolehkan untuk menggunakannya lagi—entah sampai berapa lama. Aku sadar aku telah mengecewakannya. Mungkin satu kata maaf saja takkan pernah cukup untuk menghapus kekecewaan dalam hatinya.
Namun, satu janji telah aku tancapkan dalam hatiku bahwa aku takkan mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya. Aku takkan jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali. Aku benar-benar menyesal. Dan mungkin, penyesalanku takkan bisa terbayar dengan apapun juga.











Komentar Terakhir