Archive

Posts Tagged ‘confuse’

Pindah Divisi

Akhirnya aku terbebas juga dari ’setan’ bernama Dewi. Sekarang, aku tak harus berurusan lagi dengannya karena oleh Mr. Lee aku telah dipindahkan ke divisi lain—divisi order. Di divisi ini yang harus dikerjakan hanyalah menghitung dan menghitung. Yang dihitung tak lain adalah berapa banyak kain atau bahan yang dibutuhkan untuk membuat satu atau lebih jenis sepatu. Memang membutuhkan ketelitian tinggi dan kemampuan hitung yang diatas rata-rata. Terus terang saja, aku memang tak begitu pandai berhitung. Nilai Matematikaku semasa sekolah dulu saja selalu tak lebih tinggi dari angka 6. Tapi, setelah aku belajar selama dua hari di divisi order itu aku tak banyak mengalami kesulitan, karena ternyata bukan suatu hitungan rumit layaknya rumus phytagoras seperti saat-saat sekolah dulu. Melainkan suatu hitungan sederhana yang berkaitan dengan inch, centimeter, dan yard, yang diukur melalui mal (sketsa bentuk dan bagian-bagian sepatu).

Saat pertamakali aku di divisi itu aku belajar membuat hitungan satu jenis sepatu dengan sekitar limabelas mal yang telah disediakan. Mbak Utami—karyawan yang bertugas mengajariku—menunjukkan padaku bagaimana cara menghitung setiap bagian-bagian sepatu, karena setiap bagian memiliki cara penghitungan yang berbeda. Tapi anehnya, aku langsung mengerti cara menghitung setiap mal itu dengan sekali ajar. Mungkin masih banyak kesalahan disana-sini dengan hasil kerjaku, dan Mbak Utami mengomentari pekerjaanku dengan sesekali mengulang kembali apa yang telah diajarkannya padaku. Setelah keduakalinya aku mengerjakan penghitungan mal untuk jenis sepatu yang berbeda, pekerjaanku sudah mendekati sempurna. Aku sungguh puas dengan hasil pekerjaanku itu, karena disamping aku tidak menyangka akan kemampuan otakku—yang notabene-nya bisa dikatakan tidak ‘bersahabat’ dengan angka—aku bisa melakukan apa yang dipercayakan padaku dengan baik.

Tidak seperti waktu aku berada di divisi pembelian. Aku selalu mengalami depresi tak menentu, hingga aku tidak dapat memaksimalkan apa yang aku kerjakan. Divisi pembelian dituntut untuk dapat selalu mengingat bahan apa yang telah dibeli, bahan mana yang belum dikirim atau masih dalam tahap proses, dan pada supplier mana bahan itu dibeli. Divisi pembelian itu juga mungkin tak cocok untukku, karena aku orangnya pelupa. Sedangkan, bahan yang dibeli tak hanya satu atau dua jenis, tapi puluhan. Aku pun pernah terkena amarah Mr. Lee dikarenakan aku lupa bahan yang telah aku beli dan bahan yang belum terkirim. Aku dibentak-bentak, dimaki, serta diancam akan dikeluarkan dari kantor itu. Namun, akhirnya Mr. Lee memberiku kesempatan terakhir dengan memindahku ke divisi order (telah aku ceritakan di awal).

Di samping aku kesal, aku juga takut jika sampai aku terdepak dari kantor itu. Aku pun juga menyesal dengan diriku sendiri kenapa aku harus jadi seorang yang pelupa, sampai-sampai bahan yang kupesan sendiri terlupa olehku. Kalau saja aku bisa mengingat semuanya tentu hal buruk ini takkan menimpaku.

Uuuh, entahlah. Kepalaku seakan kejatuhan beban seberat satu ton. Inginnya mencari pekerjaan lain, tapi dimana? Jaman sekarang tak mudah mencari pekerjaan. Lulusan S1 sepertiku pun harus menunggu sekitar setengah tahun untuk mendapatkan satu pekerjaan—itu pun sang big bozz selalu naik darah tiap hari. Sebenarnya aku juga sering mendapatkan panggilan untuk interview dari berbagai macam jenis usaha, namun aku tak punya waktu untuk memenuhi setiap panggilan itu. Lagipula, suamiku berkata padaku agar aku tetap berada di kantorku yang sekarang dan menekuni pekerjaanku. Kalau bisa, dia bilang, aku dapat meningkatkan kinerjaku sampai aku mendapatkan posisi yang pasti dan jabatan yang lumayan bagus disana.

Itu memang niatku, tapi mungkin aku butuh waktu yang agak lama untuk memenuhinya. Sekarang saja, aku masih bingung akan posisiku yang sesungguhnya. Entah dimana Mr. Lee akan menempatkan aku. Yang jelas—dan yang aku tahu—aku harus berusaha dan melakukan apapun tugas yang diberikan padaku dengan sebaik-baiknya.

Categories: Job Tags: , , ,

Perjalanan Karir

Mungkin perjalananku belum selesai, dan sama sekali belum berakhir. Semua masih akan berlanjut yang entah sampai kapan. Berbagai cobaan telah aku lalui. Mulai dari mencari satu buah pekerjaan hingga akhirnya mendapatkan berbagai tawaran untuk diterima bekerja di salah satunya. Semua datang silih berganti tanpa bisa aku hindari. Disaat aku terbelenggu dalam lingkaran putus asa, semua seolah sangat sulit aku capai dan rasanya berbagai ekspresi ‘tak mungkin’ berkecamuk di benakku. Begitu pun sebaliknya. Disaat aku sudah mendapatkan salah satu pekerjaan yang menurutku sangat baik untuk prospek karirku di masa depan, berbagai tawaran lain muncul menantiku. Disinilah aku harus menentukan pilihanku. Aku tak mungkin berada pada dua lokasi kantor yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Tapi, memutuskan untuk memilih salah satu pekerjaan itulah yang membuatku bingung. Di satu sisi menawarkan lokasi yang sangat dekat dengan rumah, namun dengan gaji kecil dan prospek karir yang bisa dibilang buruk. Sementara di sisi lain menawarkan prospek karir yang sangat bagus dan gaji yang meyakinkan, namun dengan lokasi yang sangat jauh dan transportasi yang lumayan susah bagiku yang tidak bisa mengendarai motor sendiri.

Disaat aku telah menjatuhkan pilihanku, aku tetap masih dibingungkan oleh beberapa pilihan lain. Sebuah perusahaan besar yang menawarkan sejumlah jenjang karir yang meyakinkan dan gaji yang terbilang cukup memuaskan memintaku dengan sangat untuk dapat bekerja disana. Sebenarnya aku tak perlu memusingkannya. Aku tinggal mengatakan kesanggupanku untuk dapat segera bergabung dengan mereka dan semuanya beres. Namun, tak semudah itu. Aku harus memikirkan hal lain yang juga sangat vital—terutama bagiku yang tidak bisa mengendarai motor sendiri. Yaitu, transportasi. Sarana kendaraan untuk dapat mencapai lokasi kantor itu sangatlah jauh dan tergolong sulit. Tapi, pihak kantor mengatakan bahwa aku tak perlu membingungkannya karena mereka telah menyediakan antar-jemput yang bersedia mengantarkanku pulang dan pergi. Baiklah, kalau begitu aku bersedia bergabung. Aku pun menyanggupinya. Aku harap aku bisa menikmati pekerjaanku disana.

Oh ya, aku lupa mengatakan bahwa pekerjaan dan segala apapun yang aku ceritakan tadi tak bukan dan tak lain adalah pekerjaanku di pabrik sepatu yang telah aku publish di postinganku yang lalu berjudul “tempat kerja baru”. Aku memang sempat ingin keluar dari sana beberapa waktu lalu dan berencana untuk bekerja di sebuah perusahaan bengkel asuransi yang berlokasi sangat dekat dengan tempat tinggalku. Hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit untuk mencapai lokasi kantor itu. Tak sulit memang, tapi untuk ukuran pendidikan dan segala kemampuan yang aku miliki rasanya perusahaan bengkel asuransi itu tak cocok untukku. Segala kemampuan yang aku miliki mungkin takkan pernah digunakan. Jadi, untuk apa aku menempuh pendidikan tinggi selama ini?

Tanpa kuduga, pabrik sepatu itu meneleponku kembali untuk tetap ingin mempertahankanku dan berupaya agar aku bersedia bergabung kembali dengan mereka. Setelah aku mengatakan alasan aku berhenti, mereka pun berusaha mencarikanku jalan keluar agar aku benar-benar kembali kesana. Dan memang benar. Setelah mereka menemukan jalan keluar untukku—dalam hal transportasi—aku pun bersedia kembali. Kalau memang aku dibutuhkan, aku akan dengan senang hati untuk kembali. Mungkin segala ketidaknyamanan, kebisingan, kepedihan, dan apapun yang aku rasakan selama dua minggu aku bekerja disana takkan aku pedulikan lagi. Itulah risiko orang bekerja, aku berpikir. Tak ada satu pun pekerjaan yang tidak membutuhkan kesabaran, keuletan, dan pengorbanan demi mencapai hasil yang memuaskan. Maka, aku harus bersabar. Semuanya demi kelangsungan hidupku di masa depan. Aku harus paham itu. Dan, semoga ke depannya aku akan mendapatkan balasan dari buah kesabaranku.

Categories: Job Tags: , , ,

Nothing

Ternyata, tak ada sesuatu pun yang terjadi kemarin. Hanya mungkin aku saja yang terlalu mendramatisir keadaan. Aku terlalu terbawa suasana. Mungkin memang tanggal 11 Juni itu bukan hanya sekedar tanggal bagiku. Tanggal itu memiliki arti yang lebih dibanding semuanya. Tapi, meski jaman sudah berkembang dan serbacanggih seperti sekarang ini, aku tetap tak bisa melakukan apapun—walau hanya ingin berucap satu patah kata.

Aku tahu aku tak boleh seperti ini. Mengharap sesuatu yang tak seharusnya bisa boleh aku harapkan. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri tentang kapan aku tersadar bahwa diantara aku dan dia ada dinding tebal kedap suara yang menelan seluruh suara yang aku teriakkan padanya? Kapan? Mungkin aku harus menenggelamkan diriku ke dasar sungai yang dalam terlebih dahulu—kalau perlu di kedalaman samudera sekalian—baru aku akan bisa melupakannya. Karena menurut buku yang aku baca dan film yang pernah aku lihat, kedalaman air bisa merusak jaringan otak, yang tentunya bisa membuat amnesia. Hmm, bagus untukku!

Apapun akan kulakukan asalkan aku bisa melupakan dia. Aku sudah tak sanggup lagi menahan semua ini. Kemana pun aku pergi, sejauh kakiku melangkah, kemana pun sudut mataku mengarah, selalu ada hal yang bisa mengingatkanku padanya. Oh, Tuhan, tolong aku!

Satu-satunya nomor kontak yang masih bisa kuingat, kini sudah tak lagi eksis. Apa yang terjadi? Padahal hanya itu yang masih tersisa tentangnya—di benakku. Kemudian, aku berpikir, “Mungkin kisah cerita antara aku dan dia harus berakhir sampai disini.”

“Goodbye, My Love!!”

Categories: Love Tags: , ,

Public Relation

Sebenarnya bagaimana sih deskripsi pekerjaan seorang Public Relation (PR)? Aku sudah berkali-kali menemukan orang mengatakan bahwa mereka bekerja sebagai PR, tapi apa yang aku temukan di lapangan ternyata orang tersebut sangat jauh dari deskripsi pekerjaan PR yang selama ini aku tahu. Mungkinkah PR memiliki arti lain selain Public Relation?

Baru kemarin aku mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai seorang PR di sebuah perusahaan valuta asing, tapi aku tolak. Bukan aku tidak mau menerima pekerjaan itu. Seorang PR di sebuah perusahaan valuta asing seperti itu berisiko tinggi untuk wanita yang sudah berkeluarga seperti aku. Memang semua kembali lagi ke diri masing-masing apakah tahan akan segala godaan atau tidak. Tapi, kalau setiap hari, berbulan-bulan, atau bahkan sampai tahunan menerima godaan seperti itu apakah bisa tahan? Aku tidak yakin.

Untuk itu setiap kali aku menerima sebuah tawaran pekerjaan, aku selalu berkonsultasi dengan suami. Dia lebih tahu tentang dunia karir—tepatnya bagi seorang istri. Walaupun aku wanita, tapi aku belum terlalu paham soal dunia kerja. Mungkin kalau diandaikan buah, aku hanya tahu kulitnya. Sehingga, saat aku mengatakan padanya bahwa ada tawaran sebagai seorang PR dengan deskripsi pekerjaan yang aku uraikan, dia melarangku. Tentunya dia memiliki beribu alasan mengapa kata larangan itu diucapkan—walau dia tahu aku sangat membutuhkan sebuah pekerjaan.

Baiklah, mungkin pekerjaan itu belum berjodoh denganku. Aku harus mencari di lain tempat lagi. Mungkin memerlukan waktu yang tidak sebentar, tapi aku tidak ingin menyerah sekarang. Aku harus mengumpulkan kembali kepercayaan diriku bahwa aku bisa melalui ini semua. Mungkin ini hukuman bagiku. Sebuah karma yang harus aku tebus sampai akhirnya Tuhan menghapusnya dari jalan hidupku.

Categories: Job, Life Tags: , , ,

Ada Apa dengan Facebook?

Aku bergabung dengan facebook sekitar bulan Maret 2009 lalu. Itupun kalau bukan temanku yang memaksaku untuk mendaftar, aku tak akan mendaftar. Aku pikir, untuk apa? Aku sudah punya banyak sekali akun-akun pertemanan semacam itu. Kalau aku punya terlalu banyak, takutnya tak akan terurus semua. Percuma saja, kan? Buntut-buntutnya pasti akan ditinggalkan dan dilupakan jika menemukan akun-akun pertemanan lain yang lebih asyik dan booming. Tapi,  demi solidaritas, aku pun akhirnya menuruti permintaan temanku itu dan mendaftarkan diriku disana.

Tapi, banyak diantara mereka yang mengaku kecanduan facebook sampai-sampai lupa makan, lupa tidur, bahkan ada yang rela mengorbankan beberapa ribu juta rupiah hanya untuk memasang koneksi wi-fi unlimited secara pribadi di kamar agar dapat selalu terkoneksi dengan internet siang dan malam tanpa hambatan. Oh, My God!

Memang aku akui bahwa situs pertemanan sosial yang satu ini memiliki daya tarik khusus bagi pencinta social networking. Daya tarik khusus apa itu aku sendiri juga tidak tahu pasti, namun yang jelas facebook mampu menyedot perhatian massa—terutama remaja—tak hanya di Indonesia, tapi juga seluruh dunia.

Tadinya aku menganggap bahwa tak ada yang spesial dari facebook sampai akhirnya tanpa sengaja aku menemukan kembali teman-temanku yang pernah satu sekolah denganku sepuluh hingga lima belas tahun yang lalu. Betapa senang hatiku bisa berbicara dan berkomunikasi dengan mereka lagi setelah sekian lama. Selama aku bergabung dengan situs pertemanan lain, aku tak menemukan satu pun dari mereka. Hanya di facebook itulah tempatku melakukan ‘reuni online‘ dengan mereka tanpa harus pergi kemana pun.

Namun begitu, aku tak merasakan adanya kecanduan atau apapun yang sering disebut-sebut oleh media belakangan ini. Aku tidak membuka facebook setiap hari. Tidak seperti teman-teman kebanyakan yang selalu berganti status setiap jam, setiap menit, setiap detik, tergantung suasana hati mereka. Aku hanya membukanya sesekali kalau aku sempat. Kalaupun tidak, aku biarkan saja selama kurang lebih seminggu setelah itu barulah aku buka. Itupun hanya sekedar membalas comment ataupun inbox yang masuk dan menyetujui jika ada seseorang yang memintaku menjadi teman mereka. Oh ya, aku mungkin juga terkadang meng-upload foto kalau aku punya foto baru yang bagus yang perlu aku sharing-kan bersama teman-temanku.

Sampai sekarang aku masih tidak tahu apa hebatnya facebook hingga menyebabkan candu bagi orang-orang itu. Mungkin aku tak terlalu bisa mengoperasikan facebook sehingga aku tak ikut-ikutan kecanduan seperti mereka? Atau faktor facebook itu sendiri yang sekarang sedang banyak dibicarakan masyarakat sehingga banyak orang kecanduan karenanya? Hmm, sungguh fenomena yang aneh—setidaknya menurutku.

Banyak juga blog-blog yang menuliskan tentang situs yang satu ini. Sebenarnya ada apa denganmu, facebook? Apakah kau terbuat dari salah satu zat candu yang membuat semua orang lupa akan dimana dia hidup? Ataukah kau memang diciptakan untuk membuat seluruh masyarakat di dunia menghilang dari kehidupan nyatanya dan hanya ingin tenggelam dalam dunia maya sepertimu?

Categories: Article Tags: , , , ,

Hari itu Semakin Dekat

Hari itu—hari penentuanku untuk mengakhiri masa studiku—sudah semakin dekat. Tapi, aku belum mempersiapkan apapun. Bahkan, ketika aku ditanya seputar skripsi yang aku kerjakan sendiri pun, aku tidak punya jawaban yang meyakinkan. Lalu, aku harus bagaimana?

Aku tidak tahu lagi harus mempersiapkan jawaban yang seperti apa. Otakku blank sama sekali. Biasanya aku selalu punya seribu satu cara untuk ‘ngeles’, tapi sekarang? Aku ngeles yang kayak gimana, coba? Semuanya sudah harus terstruktur. Nggak bisa lagi jawab yang asal-asalan, apalagi jawab yang nggak sesuai dengan apa yang sudah tertulis.

Aku benar-benar bingung sekarang. Awalnya aku yakin aku bisa jawab semua pertanyaan seputar skripsi, karena skripsi itu memang aku sendiri yang buat—tanpa bantuan orang lain. Tapi nyatanya aku salah. Tadi pagi saat aku briefing dengan dosen pembimbing, aku sudah sakit perut nggak keruan sehingga berakibat pada bahasaku yang acak-acakan saat menjawab pertanyaan. Hingga jawaban yang aku berikan sangat-sangat jelek dan tidak fokus pada pertanyaan. Dosen pembimbingku sih hanya bertanya perihal kesiapanku menghadapi ujian besok—walau pada akhirnya beliau memberikan jawaban yang benar atas pertanyaannya tadi. Aku sungguh bersyukur karena aku mendapatkan jawaban yang benar atas pertanyaan itu dan segera aku catat. Namun, jauh di dalam lubuk hatiku muncul sebuah pertanyaan mengerikan, “Itu baru pertanyaan dari dosen pembimbing. Bagaimana jika nanti yang bertanya adalah dosen penguji dan pertanyaan yang diberikan sama sekali tidak pernah aku duga?”

Aduh, entahlah! Aku pusing memikirkannya. Belum-belum aku sudah takut dan sakit perut begini, apalagi nanti. Aku hanya bisa belajar dan berdoa semampuku, serta meminta yang terbaik pada Yang Diatas. Aku serahkan semuanya padaNya dan berharap mendapatkan hasil yang memuaskan. Amin!

Categories: Duty Tags: , , ,

What Should I Do?

Selalu ada satu pertanyaan yang muncul di benakku saat sebuah kesulitan datang menghampiriku, “Apa yang harus aku lakukan?”

Ya, sama seperti saat ini. Aku menemui satu kesulitan setelah satu kesulitan lain telah berhasil aku atasi. Tapi, aku merasa kesulitan yang ini lebih berat daripada kesulitan-kesulitan yang aku hadapi sebelumnya. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, aku tak tahu. Yang jelas, semuanya membuatku takut.

Aku tidak pernah tidak merasa takut akan sesuatu. Untuk satu hal yang baru pertamakali aku jalani, aku selalu merasa takut. Aku heran, kenapa aku tidak bisa seperti orang lain yang selalu merasa tenang jika menghadapi sesuatu? Mungkin mereka juga merasa takut, tapi ketakutan yang mereka rasakan pastinya tidak separah yang aku rasakan.

Beberapa hari yang lalu—tepatnya tanggal 11 Juni—aku sidang komprehensif sebagai salah satu persyaratan sebelum aku sidang skripsi. Aku tidak menyangka kalau aku akan berhasil melaluinya, padahal sehari sebelumnya aku merasa hopeless.

Untuk sidang selanjutnya, aku tidak tahu bagaimana nasib yang akan menghadangku. Karena aku tahu, dosen-dosen penguji yang nanti akan mengujiku tidak sama dengan dosen-dosen penguji yang kemarin mengujiku—yang ini lebih membahayakan.

Untuk yang kesekian kalinya, aku hanya bisa kembali berharap—karena aku belum menemukan jawaban atas apa yang akan aku lakukan selanjutnya..

Categories: Duty Tags:

Tak Ada Perubahan

Tak ada sesuatu pun yang berubah sejak beberapa minggu yang lalu, sejak beberapa hari yang lalu, sejak dia mendiamkanku dan tidak menggubrisku. Entah apa yang sedang terjadi padanya, aku tidak tahu pasti. Aku cuma bisa meraba dan mengira-ngira. Aku hanya tahu sekelumit berita dan itu pun tidak rutin aku dapat. Hanya kalau sempat saja, teman-temanku memberitahuku tentangnya. Aku tidak menyalahkan mereka. Aku menyalahkan diriku sendiri yang begitu tidak tahu bagaimana cara mencari berita terbaru tentangnya dan apa yang saat ini sedang ia lakukan. Bukan karena aku buta teknologi, tapi kemampuannya berkutat dengan teknologi lebih tinggi dibanding aku. Blog-blog-nya selalu terkunci dan tak seorang pun bisa membukanya. Hanya blog-blog tertentu saja yang bisa aku buka dan itu pun memang dibuka untuk umum.

Beberapa hari ini aku mencoba untuk membiarkan semuanya berjalan apa adanya. Maksudku, selama ini aku selalu mengusik kehidupannya dan terlalu mengurusi apa yang dia lakukan. Dan, beberapa hari kemarin aku mencoba untuk berbuat sebaliknya. Ternyata aku tidak bisa. Bayangannya selalu muncul dalam ingatanku. Selalu saja ada hal yang mengingatkanku padanya. Selalu ada orang-orang yang membuatku teringat padanya. Dia adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak bisa hidup tanpa internet. Dan selalu ada web-web tertentu yang mengingatkanku padanya, juga diary-diary kami yang tersimpan manis dalam salah satu blog, yang sekarang sudah tidak pernah jarang kami kunjungi.

Aku belum pernah merasa bosan membicarakannya. Entah kenapa aku bisa begitu. Padahal, aku termasuk tipe cewek yang gampang bosan. Mungkin orang yang aku bicarakan teramat istimewa, sehingga terdengar seolah aku memujanya. Hmmppff..!!

Kadang aku bingung sama diriku sendiri kenapa bisa begitu bodoh. Bodoh karena mencintai seseorang yang tidak seharusnya aku cintai, walau aku tahu aku bisa mencintainya kapan saja aku mau. Ada hal-hal tertentu yang membuatku tidak bisa mencintainya, dan aku sungguh tidak bisa mengabaikan hal-hal itu.

Terlalu rumit..

Terlalu pelik..

Satu yang aku inginkan. Dia bisa memahamiku seperti aku memahaminya. Entah sudah berapa kali aku mengatakan ini, tapi memang hanya itu yang aku minta darinya. Aku harap dia bisa mengerti aku.

Sebenarnya, aku menginginkan segalanya yang terbaik untuknya. Tapi, saat aku tahu dia hampir mendapatkan apa yang memang terbaik untuknya, aku selalu merasa seperti aku akan kehilangannya. Aku tahu, suatu hari nanti aku pasti akan kehilangan dia. Aku hanya belum siap menerima semua ini, setidaknya dalam waktu dekat ini.

Mengapa semuanya harus jadi seperti ini..?

Mengapa semua harus berubah disaat aku ingin patuh terhadap janji yang telah aku buat sendiri? Haruskah aku juga berubah? Haruskah aku ingkar? Atau haruskah aku bersikap seolah semuanya tidak pernah terjadi?

Aku bingung..

Bingung dengan apa yang aku lakukan sendiri..

Categories: Love Tags:

My Confusing

Hanya kebingungan yang akhir-akhir ini menghantui pikiranku. Aku tidak mau berpikir negatif sebelum aku berpikir positif. Tapi, dengan melihat kenyataan demi kenyataan yang hadir di kehidupanku, aku semakin berpikir aku seolah berada di tengah sasaran tembak. Menunggu untuk dihunjam dengan berkali-kali tembakan hingga mengenai sasaran yang tepat.

Kata demi kata tak henti-hentinya mengalir dalam otakku. Namun, aku tak mampu untuk mengutarakannya. Berbagai macam pikiran berkecamuk disana. Menyuruhku untuk selalu bersikap tegas. Tegas atas segala masalah yang ada di sekelilingku. Aku sadar betapa susahnya aku melakukan itu. Susah bersikap tegas. Susah membuat komitmen. Aku terkadang benci kepada diriku sendiri. Kenapa aku harus seperti ini? Kenapa aku tidak bisa menjadi orang lain yang selalu bisa mengatasi semua permasalahan dengan lancar tanpa suatu hambatan apapun? What’s wrong with me?

Terlebih ketika kebingungan itu membutuhkan jawabanku. Aku mungkin bisa menyimpan kebingungan-kebingungan itu sebagai suatu ‘penyakit’ dalam hatiku. Namun, tidak jika aku harus menjawabnya. Aku tidak bisa, mmm… setidaknya aku belum siap untuk melakukannya.

Semua hanya demi seseorang..

Ya, hanya seorang..

Seseorang yang sangat aku sayang, yang sangat aku cintai, telah membuatku bingung akan semua perubahan sikapnya terhadapku.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Mungkin perubahan itu bukan hanya karena aku, tapi juga karena lingkungan di sekitarnya. Tapi, kenapa dia harus sampai terbawa arus? Harusnya dia bisa bersikap tegas atas semua itu.

Kalau tidak suka, katakan tidak. Kalau tidak mau terusik, katakan tidak.

Mungkin dia sama sepertiku. Tidak pernah bisa bersikap tegas atas sesuatu. Tapi paling tidak, aku masih bisa berkata ‘tidak’ atas semua yang tidak aku sukai. Aku paling tidak suka kalau ada sesuatu atau seseorang yang mengganggu aktivitasku. Mereka mungkin bisa melakukan apapun yang mereka suka, tapi jangan sampai mengganggu privacy-ku. Aku sangat menghargai privacy orang, maka mereka juga harus bisa menghargai privacy-ku.

Tapi sepertinya, hal itu tidak berlaku baginya. Dia rela privacy-nya diinjak-injak orang. Dia rela privacy-nya diganggu orang, hingga akhirnya dia sendiri yang harus memutuskan untuk pergi dari lingkungan yang selama ini telah menjadi tempat tinggalnya. Untuk apa? Harusnya orang-orang itu yang pergi, bukan dia! Kalau memang orang-orang itu ingin ‘nge-jablay’, nge-jablay aja di club malam! Kayak nggak ada tempat lain aja?!

Kalau aku boleh jujur, aku sebenarnya kurang suka sama sikap temanku itu. Dia terlalu lemah terhadap orang lain, tapi dia terlalu keras sama dirinya sendiri. Terbalik! Harusnya dia bisa keras terhadap orang lain dan sayang sama dirinya sendiri.

Tidak semua orang hidup itu baik. Banyak orang jahat di dunia ini. Jangan ngomong dunia-lah. Di sekeliling kita aja banyak orang jahat. Lebih banyak orang jahat daripada orang baik. Orang yang kita baikin, belum tentu bisa melakukan hal yang sama kepada kita. Apalagi kalau kita berbuat yang sebaliknya.

Tapi, satu yang aku harapkan cuma agar temanku bisa berbuat adil terhadap dirinya sendiri, serta lebih bisa menjaga privacy-nya dari orang lain. Selain itu juga, agar dia lebih bisa jujur terhadap orang lain tentang perasaannya.

Karena hanya itulah yang bisa membuatku lepas dari rasa bimbang yang berkelanjutan..

Categories: Love Tags: